LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 28 Oktober 2012

Pemberantasan Korupsi dari Generasi ke Generasi Menjadi Cermin Diri dalam Film Kita VS Korupsi


    Korupsi merupakan masalah paling krusial bagi bangsa Indonesia. Tukar menukar kekuasaan atau jabatan dengan uang hampir menjadi kegiatan rutin di semua tingkatan penyelenggara negara, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif. Hal tersebut menjadi gambaran distrust public (ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga negara). Sedemikian sistemiknya korupsi terjadi sehingga sistem birokrasi, politik, ekonomi dan hukum hampir tidak bisa berjalan tanpa ada uang pelicin atau koneksi. Dari penyakit kekuasaan, korupsi menjalar hingga ke jantung kehidupan masyarakat. Praktek suap-menyuap pun menjadi bagian dari realitas kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Nyaris tidak ada ruang kehidupan yang bebas dari korupsi. Sebagian orang mengatakan korupsi sudah menjadi bagian kebudayaan bangsa ini. Kultur korupsi bukan muncul tiba-tiba. Berawal dari sistem ketatanegaraan yang melahirkan budaya tersebut tumbuh subur hingga sekarang. Faktor rendahnya pendapatan juga memicu masyarakat yang bekerja di kalangan birokrasi melakukan tindak korupsi. Sistem inilah yang akhirnya menjadi embrio budaya korupsi di kalangan birokrasi hingga sekarang.
Selama ini, setiap kali terjadi pergantian penguasa, masyarakat mengharapkan terjadinya perubahan nasib. Namun fakta membuktikan, perubahan  kekuasaan pun tidak memutus akar korupsi. Bahkan, budaya korupsi telah menyusup dan menyebar ke segala arah. Jika dulu korupsi hanya berada pada segelintir orang dan kroni, kini korupsi menyebar ke semua kekuatan politik. Media massa pun harus mulai membiasakan diri untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap karya-karya anak negeri yang mampu memberikan inspirasi seperti Film Indie “Kita VS Korupsi” yang menawarkan berbagai solusi untuk kita jalani.
Salah satu judul film indie tersebut adalah  film pendek “Rumah Perkara" yang menceritakan bagaimana sebuah janji kepemimpinan penuh kemunafikan. Tidak ada lagi kesejahteraan bagi masyarakat kecil demi pangkat dan sejumlah uang untuk kepentingan pribadi. Kesewenang-wenangan pun berada pada tangan penguasa. Kebohongan dikemas dalam adegan-adegan kecil yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat.
Banyak kasus korupsi semacam itu terjadi hampir di setiap instansi pemerintah pusat maupun daerah karena kesalahan memberikan amanah kepada pihak yang bukan ahlinya, hingga menjadi pangkal dari segala fitnah dan khianat. Pemerintah sudah berkali-kali, bahkan di setiap periode mengadakan pembenahan birokrasi dengan cara mutasi pejabat, reshuffle kabinet, pengurangan atau penambahan anggaran, dan sebagainya. Justru hal itu tidak membawa hasil untuk perbaikan. Hal ini dikarenakan kasus-kasus korupsi sudah berlangsung secara berjamaah. Dalang dari kasus korupsi tersebut pun sangat sulit untuk ditangkap padahal kasus semacam ini harus segera diungkap. 
Supaya hal tersebut tidak semakin berkembang, bangsa Indonesia butuh para pemimpin yang mampu melakukan pengorbanan layaknya seorang tentara atau pejuang yang mencintai tanah airnya. Sudah saatnya kesadaran dan tanggap akan situasi harus diubah menjadi suatu paradigma progresif. Kita harus memberlakukan Good Governance yang efektif dengan kesiapan mental dalam merubah cara pandang terhadap posisi dan peran di kehidupan berbangsa dan bernegara. Cara pandang lama melihat kedudukan sebagai jabatan khusus, pangkat, dan status sehingga merasa berhak menuntut pelayanan dan penghormatan orang lain. Cara pandang baru melihat kepemimpinan sebagai amanah yang harus dijaga dan ditunaikan. Kita harus renungkan bahwa status kita sebagai pemimpin adalah pelayan masyarakat. Tugas utamanya adalah melayani kebutuhan masyarakat dan mengarahkan masyarakat pada kemakmuran bersama.
Rakyat sebagai subjek yang diatur juga wajib mentaati dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku, baik yang berlaku sebatas pada lingkungan masyarakat sekitar serta kebijakan yang mencakup nasional, yang lazim disebut peraturan perundang-undangan. Perlu kita sadari bahwa peraturan yang berlaku merupakan aturan yang kita buat sendiri, yakni dilakukan oleh wakil-wakil rakyat yang telah kita pilih dalam pemilu. Itulah gambaran mutualisme yang harus terjaga agar kehidupan berbangsa dan bernegara terselenggara dengan aman, damai, dan tenteram hingga terlihat jelas dihadapan bangsa lain suatu negara yang bebas dari korupsi.
        Tindak korupsi lain yang mampu kita jadikan pembelajaran juga tercermin dalam film pendek “Aku Padamu”. Film tersebut menceritakan kisah sederhana saat uang dan kebohongan menjadi suatu yang saling terikat sehingga memudahkan dan mempercepat segala urusan. Film ini mengingatkan kita bahwa segala hal kecil yang kita mulai akan bisa membawa hal tersebut menjadi besar. Hal itulah yang membuat korupsi dikatakan sebagai kezaliman yang teramat berbahaya karena ketidakadilan akan merajalela sebagai akibatnya.
Pembelajaran dalam film “Aku Padamu” dapat kita peroleh dari biografi singkat seorang guru yang rela hidup susah payah hingga meninggal dunia hanya karena ia tidak mampu memberikan uang suap untuk menjadi guru tetap. Padahal, jika kita renungkan, seorang guru termasuk pahlawan tanpa tanda jasa. Guru harus mampu mengemban amanah dan hal itu menjadi tugas yang berat. Tugas yang tidak mampu diemban oleh orang-orang lemah, orang-orang bodoh, dan orang-orang zalim. Keluasan, kebesaran, dan ketinggian pangkat/jabatan/kekuasaan maupun harta tidak menjamin untuk mampu mengemban amanah jika tidak dilandasi oleh syariat agama dan ilmu pengetahuan yang luas. Fakta tersebut membuktikan bahwa harus ada kesatuan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Hikmah yang bisa kita renungi yaitu kita adalah cerminan rumah kita. Di awali dari lingkungan keluarga yang mempelajari. Kita harus menanamkan sejak dini untuk ajaran agama yang membekali. Hal tersebut dilakukan agar pendidikan agama mampu menekankan pembangunan akhlak, mental, dan perilaku individu. Jadi, kalau kita ingin melakukan segala sesuatu dengan benar, kita harus segera melakukan segala sesuatu itu di jalan yang benar.
      Untuk korupsi yang telah membudaya, pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dilakukan dengan pendekatan satu atau dua dimensi saja, seperti dengan penegakan hukum atau kebijakan politik. Diperlukan langkah multidimensional untuk memberantas sesuatu yang telah membudaya. Selain pendekatan politik dan hukum, diperlukan juga pendekatan budaya dengan misi mengembalikan persepsi masyarakat tentang makna peyoratif korupsi sebagai sesuatu yang negatif. Sudah waktunya kita kembali kepada kearifan karakter bangsa untuk menegakkan kejujuran yang begitu mahal harganya.
      Kita pun akan mendapat pembelajaran hidup kembali mengenai kejujuran saat kita menonton film indie “Kita VS Korupsi” yang berjudul “Selamat Siang, Risa… . !”. Sebuah film pendek menceritakan realita kehidupan keluarga kecil yang mempertahankan kejujuran, walaupun kehidupannya dipenuhi dengan kebutuhan mendesak. Potret keluarga yang mampu bertahan hidup dengan rasa tanggung jawab yang besar ditengah godaan kemajuan zaman dan gencarnya media massa yang menyuguhkan budaya konsumerisme demi keinginan instan masyarakat untuk cepat kaya. Keluarga itu mampu meraih kesuksesan yang lahir dari kebaikan sebelumnya.
Film tersebut akan mengajak masyarakat menanamkan kembali nilai-nilai luhur bangsa seperti kejujuran untuk mengantisipasi tergerusnya karakter bangsa. Nilai-nilai luhur bangsa untuk membangun karakter masyarakat Indonesia tersebut dapat dijadikan pilar utama dalam membangun karakter bangsa dan semua komponen seperti tokoh pendidik, pemimpin agama, politik dan masyarakat umum yang harus bahu membahu agar menjadi teladan bagi yang lain. 
Tidak hanya sebatas itu, kita juga harus membangun sistem manajemen dan adminstrasi yang sedemikian rupa agar masyarakat tidak bisa korupsi sehingga akan terbangun kultur birokrasi yang bersih. Selama kita belum menyelesaikan perubahan sistem, maka untuk memberantas budaya korupsi akan terus mengalami kesulitan.
          Dunia pendidikan pun harus kita tuntut dalam melaksanakan pendidikan anti korupsi sejak dini. Hal ini diilhami dari film pendek yang berjudul “Pssst… Jangan Bilang Siapa-Siapa !”. Film yang menceritakan sebuah rahasia korupsi kecil-kecilan yang biasa dilakukan seorang guru dengan melakukan jual beli buku pelajaran dengan harga tinggi. Tak hanya seorang diri, guru tersebut mengajak peserta didiknya untuk turut serta dalam tindakan tercela tersebut. Akhirnya, peserta didik pun terbiasa melakukan kebohongan terhadap orang tuanya saat meminta sejumlah uang yang besar untuk keperluan sekolah. Padahal, uang tersebut digunakan sebagai biaya keperluan pribadinya untuk membeli barang-barang mewah ataupun mengikuti gaya hidup modern dengan teknologi yang dimanfaatkan sebagai ajang pamer kekayaan dihadapan teman-temannya. Alangkah lucunya negeri ini, ketika anak muda zaman sekarang memberikan istilah pembicaraan mereka tersebut dengan istilah uang panas.
      Fakta demikian mengharuskan adanya pembelajaran di lingkungan sekolah yang mengutamakan pada pendidikan anti korupsi untuk memanusiakan manusia. Semua pihak harus mengingatkan satu sama lain agar penyakit korupsi tidak menular dan menjadi suatu kebiasaan negatif yang mampu merugikan banyak pihak. Bisa karena biasa. Frase itulah yang mendeskripsikan tindak korupsi yang bisa terjadi dimanapun dan dengan siapapun. Diperlukan langkah-langkah multidimensional yang harus diterapkan sejak dini agar pemberantasan korupsi dapat dilakukan dari generasi ke generasi.
            Inilah waktunya kita jalani multidimensional reformasi sebagai bentuk perjuangan seluruh bangsa di negeri ini untuk melawan korupsi. Kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu elemen yang perlu mendapat sokongan yang jelas pada masa kini. Soal sejauh mana kebobrokan mindset bangsa Indonesia marilah bercermin pada hati nurani kita sendiri.
       Miris sekali membiarkan Indonesia tetap seperti ini. Jangan terlalu banyak berkata, implementasikan pikiran positif itu. Berjuang bersama mengubah segala keadaan. Selagi kita masih muda, harapan itu dapat dilakukan. Hidup tanpa keluh kesah dan yakin pada Sang Pencipta. Indonesia boleh saja memiliki beragam budaya, tetapi kesatuan jangan pernah dilunturkan. Dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, jiwa gotong royong selalu melekat di setiap diri bangsa. Mari kita bercermin dari Film Kita VS Korupsi untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Jadikan hal itu sebagai hasrat para pemuda-pemudi negeri yang tak pernah pudar demi menjadi generasi bersih, transparan, dan profesional yang bebas dari korupsi dari generasi ke generasi.


Anti Korupsi, Harga Mati bagi Aktivis Peduli


Aksi Tugu Rakyat BEM SI Tahun 2009


“Kepada rekan-rekan ku yang masih mencari identitas diri”
“Kepada rekan-rekan ku yang memendam potensi diri dalam hati”
“Kepada rekan-rekan ku yang menghambakan diri untuk illahi”
“Kepada rekan-rekan ku yang hendak membangun prestasi dunia dan akhirat"

Kini, kita merasakan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan kehadiran sosok aktivis ideal untuk mempelopori penegakan nilai-nilai luhur ditengah masyarakat modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa suara mahasiswa sudah menggema dimana-mana, namun sangat disayangkan bahwa diantara suara itu banyak pula suara sumbang. Antara satu dengan yang lain tidak saling membangun dan menyempurnakan. Bahkan ada kala, satu suara kebenaran bergaung disusul dengan puluhan suara kedengkian. Seorang penyair melukiskan:

Bila ada seribu pembangun,
Satu yang meruntuhkan.
Cukuplah sudah...
Bagaimana dengan satu pembangun,
Seribu yang meruntuhkan ???.

Sadar atau setengah sadar, kita sebagai mahasiswa telibat dalam setiap permasalahan bangsa ini. Maka dari itu, peran pemuda khususnya mahasiswa sangat dibutuhkan dalam menyongsong sebuah kebangkitan. Sebuah pemikiran dapat diwujudkan jika tersedia keyakinan kuat, keikhlasan dalam berjuang, gelora semangat yang selalu bertambah, serta kesiapan beramal dan berkorban dalam mewujudkan apa yang kita perjuangkan. Oleh karena itu, sejak dahulu hingga sekarang pemuda atau mahasiswa merupakan pilar kebangkitan setiap bangsa. Kita menjadi rahasia kekuatan pada setiap kebangkitan dan pembawa bendera setiap pemikiran.

Mulai dari korupsi, kolusi, nepotisme, narkoba, hingga tawuran antar mahasiswa atau masyarakat sudah menjadi tontonan yang terbingkai dalam layar kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. Semua berawal dari korupsi yang merajalela. Maraknya korupsi di Indonesia bukan lagi sebuah kekhilafan, melainkan direncanakan dengan matang. Artinya para koruptor tahu bahwa perbuatan korupsi itu memiliki resiko. Inilah negara para bedebah, tempat rakyat hidup dari mengais sampah, tapi para pejabat hidup mewah dari hasil korupsi yang wah !.

Indonesia adalah negara besar yang majemuk. Maka dari itu, untuk membangun Indonesia harus dibina bangsanya dengan nilai-nilai akhlak yang paling dasar yaitu kejujuran, ketulusan, dan kerja sama yang positif. Namun, apa yang terjadi, kejujuran sudah menjadi kebodohan di Indonesia. Siapa yang jujur dianggap bodoh bahkan disingkirkan, tidak dipakai, dan dipandang sok moralis. Sedangkan orang yang tulus juga dianggap bodoh dan tidak berhak tinggal di bumi Nusantara.

Kondisi demikian membentuk suatu pola kerja sama yang berkembang di Indonesia yaitu pola kerja sama yang negatif atau kerja sama yang merusak. Misalnya, kerja sama antara auditor dan yang diaudit untuk memanipulasi data. Itulah pola kerja sama yang menghasilkan korupsi.

Sekarang banyak orang kaya mendadak alias OKB (Orang Kaya Baru), tapi harta yang melimpah terdeteksi dari kasus korupsi. Masyarakat tak terkejut lagi mendengarnya karena korupsi selalu dilakukan secara kolektif. Sudah menjadi rahasia umum jika korupsi selalu dilindungi untuk kepentingan golongan.

Yang harus diperlukan adalah suatu misi pendekatan budaya dengan misi mengembalikan persepsi masyarakat tentang makna korupsi sebagai sesuatu yang negatif. Pada bagian ini, institusi agama perlu diajak dalam pemberantasan korupsi karena agama menyediakan seperangkat nilai-nilai yang dijadikan paradigma oleh pemeluknya dalam melihat realitas hidup dan bertingkah laku.

Sudah waktunya kita kembali kepada ajaran agama untuk menegakkan kejujuran dan keadilan. Jangan sampai ajaran agama hanya dijadikan tataran ritual dan seremonial belaka. Kita nyatakan perang terhadap korupsi dengan kesatuan kelompok para pejuang anti korupsi karena korupsi telah menjadi kezaliman yang teramat berbahaya.

Sebagai pejuang anti korupsi, kita sebagai mahasiswa harus menyadari peranan kita dalam Agent Of Change. Artinya mahasiswa sebagai ikon perubahan atau dengan kata lain sebagai aktor pendobrak pemikiran masyarakat yang saat ini sedang terkontaminasi virus apatisme massal sehingga masyarakat cenderung tidak kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.
 
Inilah waktunya kita harus mengisi hari-hari dengan aktivitas pergerakan yang mumpuni. Seperti kata Soe Hok Gie, mahasiswa adalah ‘the happy selected few’ yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsa. Dan kepada rakyat para mahasiswa harus menunjukkan bahwa mereka dapat mengusahakan perbaikan-perbaikan dari keadaan yang kritis semacam korupsi sesuai tuntunan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain itu, peranan mahasiswa sebagai Social Of Control juga tetap dimainkan. Mahasiswa diharapkan mampu mengontrol masyarakat. Artinya tidak boleh membiarkan masyarakat tertindas baik secara fisik maupun kebijakan-kebijakan kejam yang dilakukan oleh para elite politik yang berkuasa. Maka, mahasiswa harus konsisten dan lantang menyuarakan kegelisahan-kegelisahan masyarakat tentang pemberantasan korupsi di segala lapisan masyarakat.

Tantangan bagi kita sebagai mahasiswa adalah menjadi garda terdepan yang memperkuat barisan dalam laskar generasi intelektual anti korupsi. Hal ini merupakan dasar bagi kita untuk peka dan terlatih dalam menegakkan keadilan yang merata, khususnya dalam kasus pemberantasan korupsi sehingga diperlukan upaya keras melalui pemecahan masalah yang dapat menuntaskan tindakan kasus  korupsi dari generasi ke generasi secara efektif dan efisien.

Ada pepatah yang mengatakan “jika kita ada kemauan (niat), pasti disitu akan ada jalan”. Maka, masalah-masalah yang sudah berkembang membuat kita peka dan berpikir kritis dalam menyikapi. Setiap solusi yang telah diupayakan akan mengharuskan kita untuk introspeksi diri. Sedini mungkin, harus kita hindari keangkuhan egoisme diri sendiri. Meskipun polemik telah terjadi, tapi dalam disiplin diri, tidak pernah ada kata terlambat untuk berbenah diri. Jadi, “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok akan lebih baik dari hari ini.”. Kata-kata tersebut dapat dijadikan motivasi kita untuk menatap hari esok Indonesia yang lebih cerah tanpa budaya korupsi.

Jadilah seorang yang memiliki satu titik kemampuan dengan sejuta fungsi daripada harus menjadi seorang yang memiliki jutaan titik yang tak memberikan manfaat bagi lingkungan. Jalanilah hidup ini dengan ribuan makna di setiap kumpulan detik, maknai, dan maknailah !

Kearifan akan bertumpu pada kejelian membaca masalah. Cermat dalam bersikap, tak mudah terbawa opini. Cerdas dalam beropini, tak mudah terprovokasi. Sensasi emosi mungkin tak bisa dihindari, tetapi akal sehat dan nurani harus ditanam sejak dini, menjadi pangkal sebuah sikap generasi intelektual anti korupsi.



Di akhir tulisan ini, saya mengajak semua pihak untuk menjalankan peran-peran tersebut dan mensosialisasikan budaya anti korupsi yang dimulai dari diri sendiri sehingga dapat dikembangkan untuk orang lain. Bahkan, dapat menjadi suatu gerakan nasional yang dapat memulihkan situasi politik dan pemerintahan Negara Republik Indonesia ini. Jadi, korupsi harus dijadikan musuh bersama. Musuh negara; Musuh seluruh anak bangsa karena anti korupsi menjadi harga mati bagi aktivis peduli.