LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 28 Oktober 2012

Anti Korupsi, Harga Mati bagi Aktivis Peduli


Aksi Tugu Rakyat BEM SI Tahun 2009


“Kepada rekan-rekan ku yang masih mencari identitas diri”
“Kepada rekan-rekan ku yang memendam potensi diri dalam hati”
“Kepada rekan-rekan ku yang menghambakan diri untuk illahi”
“Kepada rekan-rekan ku yang hendak membangun prestasi dunia dan akhirat"

Kini, kita merasakan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan kehadiran sosok aktivis ideal untuk mempelopori penegakan nilai-nilai luhur ditengah masyarakat modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa suara mahasiswa sudah menggema dimana-mana, namun sangat disayangkan bahwa diantara suara itu banyak pula suara sumbang. Antara satu dengan yang lain tidak saling membangun dan menyempurnakan. Bahkan ada kala, satu suara kebenaran bergaung disusul dengan puluhan suara kedengkian. Seorang penyair melukiskan:

Bila ada seribu pembangun,
Satu yang meruntuhkan.
Cukuplah sudah...
Bagaimana dengan satu pembangun,
Seribu yang meruntuhkan ???.

Sadar atau setengah sadar, kita sebagai mahasiswa telibat dalam setiap permasalahan bangsa ini. Maka dari itu, peran pemuda khususnya mahasiswa sangat dibutuhkan dalam menyongsong sebuah kebangkitan. Sebuah pemikiran dapat diwujudkan jika tersedia keyakinan kuat, keikhlasan dalam berjuang, gelora semangat yang selalu bertambah, serta kesiapan beramal dan berkorban dalam mewujudkan apa yang kita perjuangkan. Oleh karena itu, sejak dahulu hingga sekarang pemuda atau mahasiswa merupakan pilar kebangkitan setiap bangsa. Kita menjadi rahasia kekuatan pada setiap kebangkitan dan pembawa bendera setiap pemikiran.

Mulai dari korupsi, kolusi, nepotisme, narkoba, hingga tawuran antar mahasiswa atau masyarakat sudah menjadi tontonan yang terbingkai dalam layar kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari. Semua berawal dari korupsi yang merajalela. Maraknya korupsi di Indonesia bukan lagi sebuah kekhilafan, melainkan direncanakan dengan matang. Artinya para koruptor tahu bahwa perbuatan korupsi itu memiliki resiko. Inilah negara para bedebah, tempat rakyat hidup dari mengais sampah, tapi para pejabat hidup mewah dari hasil korupsi yang wah !.

Indonesia adalah negara besar yang majemuk. Maka dari itu, untuk membangun Indonesia harus dibina bangsanya dengan nilai-nilai akhlak yang paling dasar yaitu kejujuran, ketulusan, dan kerja sama yang positif. Namun, apa yang terjadi, kejujuran sudah menjadi kebodohan di Indonesia. Siapa yang jujur dianggap bodoh bahkan disingkirkan, tidak dipakai, dan dipandang sok moralis. Sedangkan orang yang tulus juga dianggap bodoh dan tidak berhak tinggal di bumi Nusantara.

Kondisi demikian membentuk suatu pola kerja sama yang berkembang di Indonesia yaitu pola kerja sama yang negatif atau kerja sama yang merusak. Misalnya, kerja sama antara auditor dan yang diaudit untuk memanipulasi data. Itulah pola kerja sama yang menghasilkan korupsi.

Sekarang banyak orang kaya mendadak alias OKB (Orang Kaya Baru), tapi harta yang melimpah terdeteksi dari kasus korupsi. Masyarakat tak terkejut lagi mendengarnya karena korupsi selalu dilakukan secara kolektif. Sudah menjadi rahasia umum jika korupsi selalu dilindungi untuk kepentingan golongan.

Yang harus diperlukan adalah suatu misi pendekatan budaya dengan misi mengembalikan persepsi masyarakat tentang makna korupsi sebagai sesuatu yang negatif. Pada bagian ini, institusi agama perlu diajak dalam pemberantasan korupsi karena agama menyediakan seperangkat nilai-nilai yang dijadikan paradigma oleh pemeluknya dalam melihat realitas hidup dan bertingkah laku.

Sudah waktunya kita kembali kepada ajaran agama untuk menegakkan kejujuran dan keadilan. Jangan sampai ajaran agama hanya dijadikan tataran ritual dan seremonial belaka. Kita nyatakan perang terhadap korupsi dengan kesatuan kelompok para pejuang anti korupsi karena korupsi telah menjadi kezaliman yang teramat berbahaya.

Sebagai pejuang anti korupsi, kita sebagai mahasiswa harus menyadari peranan kita dalam Agent Of Change. Artinya mahasiswa sebagai ikon perubahan atau dengan kata lain sebagai aktor pendobrak pemikiran masyarakat yang saat ini sedang terkontaminasi virus apatisme massal sehingga masyarakat cenderung tidak kritis terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.
 
Inilah waktunya kita harus mengisi hari-hari dengan aktivitas pergerakan yang mumpuni. Seperti kata Soe Hok Gie, mahasiswa adalah ‘the happy selected few’ yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsa. Dan kepada rakyat para mahasiswa harus menunjukkan bahwa mereka dapat mengusahakan perbaikan-perbaikan dari keadaan yang kritis semacam korupsi sesuai tuntunan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Selain itu, peranan mahasiswa sebagai Social Of Control juga tetap dimainkan. Mahasiswa diharapkan mampu mengontrol masyarakat. Artinya tidak boleh membiarkan masyarakat tertindas baik secara fisik maupun kebijakan-kebijakan kejam yang dilakukan oleh para elite politik yang berkuasa. Maka, mahasiswa harus konsisten dan lantang menyuarakan kegelisahan-kegelisahan masyarakat tentang pemberantasan korupsi di segala lapisan masyarakat.

Tantangan bagi kita sebagai mahasiswa adalah menjadi garda terdepan yang memperkuat barisan dalam laskar generasi intelektual anti korupsi. Hal ini merupakan dasar bagi kita untuk peka dan terlatih dalam menegakkan keadilan yang merata, khususnya dalam kasus pemberantasan korupsi sehingga diperlukan upaya keras melalui pemecahan masalah yang dapat menuntaskan tindakan kasus  korupsi dari generasi ke generasi secara efektif dan efisien.

Ada pepatah yang mengatakan “jika kita ada kemauan (niat), pasti disitu akan ada jalan”. Maka, masalah-masalah yang sudah berkembang membuat kita peka dan berpikir kritis dalam menyikapi. Setiap solusi yang telah diupayakan akan mengharuskan kita untuk introspeksi diri. Sedini mungkin, harus kita hindari keangkuhan egoisme diri sendiri. Meskipun polemik telah terjadi, tapi dalam disiplin diri, tidak pernah ada kata terlambat untuk berbenah diri. Jadi, “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok akan lebih baik dari hari ini.”. Kata-kata tersebut dapat dijadikan motivasi kita untuk menatap hari esok Indonesia yang lebih cerah tanpa budaya korupsi.

Jadilah seorang yang memiliki satu titik kemampuan dengan sejuta fungsi daripada harus menjadi seorang yang memiliki jutaan titik yang tak memberikan manfaat bagi lingkungan. Jalanilah hidup ini dengan ribuan makna di setiap kumpulan detik, maknai, dan maknailah !

Kearifan akan bertumpu pada kejelian membaca masalah. Cermat dalam bersikap, tak mudah terbawa opini. Cerdas dalam beropini, tak mudah terprovokasi. Sensasi emosi mungkin tak bisa dihindari, tetapi akal sehat dan nurani harus ditanam sejak dini, menjadi pangkal sebuah sikap generasi intelektual anti korupsi.



Di akhir tulisan ini, saya mengajak semua pihak untuk menjalankan peran-peran tersebut dan mensosialisasikan budaya anti korupsi yang dimulai dari diri sendiri sehingga dapat dikembangkan untuk orang lain. Bahkan, dapat menjadi suatu gerakan nasional yang dapat memulihkan situasi politik dan pemerintahan Negara Republik Indonesia ini. Jadi, korupsi harus dijadikan musuh bersama. Musuh negara; Musuh seluruh anak bangsa karena anti korupsi menjadi harga mati bagi aktivis peduli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar