LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 15 Juni 2014

Perspektif Neophilia VS Perspektif Pesimis Budaya terhadap New Media

Menurut Curran dan Seaton (2003), dua perspektif mendominasi perdebatan tentang media baru di Inggris, yaitu Perspektif Neophiliac dan Perspektif Pesimis Budaya.

Dari 2 perspektif tersebut, saya lebih condong ke Perspektif Neophiliac.

Alasannya, karena saya termasuk dalam golongan individu Neophilia.

 
          Neophilia berasal dari bahasa Yunani kuno yang terdiri atas dua kata yaitu neo (baru) dan philia (cinta). Secara harfiah, neophilia dapat diartikan sebagai kecintaan terhadap hal baru.  Secara logika, seseorang yang memiliki kecintaan terhadap sesuatu hal, maka ia akan cenderung berusaha mencari hal tersebut untuk mendapatkannya. Demikian juga dengan orang yang memiliki kecintaan terhadap hal baru (neophilia). Baik secara sengaja ataupun tidak, mereka juga akan memiliki kecenderungan untuk mencari hal-hal baru tersebut. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kepuasannya sebagai bentuk aktualisasi id yang bersifat irasional.
          Biasanya, seseorang dengan kepribadian neophilia memiliki kecenderungan untuk bahagia karena mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang dinamis dan terus menghadirkan segala hal yang baru. Selain itu, para neophiliacs cenderung selalu menginginkan pengalaman yang baru dalam hidupnya karena mereka cenderung mudah bosan dengan apa yang dialami atau dimilikinya saat ini. Terdapat beberapa faktor yang mengindikasikan seseorang dianggap memiliki kecenderungan neophilia atau tidak. Faktor-faktor tersebut meliputi penerimaan terhadap perubahan sosial, nostalgia, kebiasaan yang unik, adanya perubahan secara personal, keberanian untuk mengambil resiko, dan meremehkan sesuatu yang bersifat normatif. Kriteria-kriteria inilah yang menjadi dasar pengukuran terhadap individu apakah individu tersebut memiliki kecenderungan neophilia atau tidak.
            Dalam kaitannya terhadap New Media, perspektif neophiliac memandang New Media sebagai pembangkit rasa ingin tahu seseorang untuk mencari variasi dan perbedaan. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology/ICT) membuat arus globalisasi terasa makin deras mengalir ke seluruh penjuru dunia. Menghapus batas-batas ruang antar negara, bahkan menghapus batas jarak dan waktu.
          Perspektif neophiliacs mencoba mengungkap pengaruh positif dalam keberadaan New Media seperti kemajuan informasi yang mudah diperoleh sehingga mengakibatkan hampir dalam segala aspek kehidupan berkembang dalam waktu yang tidak lama. Ide-ide, informasi, gagaan, tulisan, karya atau bahan-bahan mentah yang dapat dimuat dalam New Media membuat hidup serba cepat, persaingan pun semakin ketat.
          Dilihat dari karakteristik new media diatas, tentunya komunikasi virtual dapat dengan mudah terjadi. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan membuat manusia berkeinginan untuk dapat lebih memanfaatkannya. Salah satu kemudahan yang ditemukan di new media biasa disebut dengan istilah anything goes dalam dunia maya. Maksudnya, new media dalam dunia virtualnya menawarkan adanya ruang privat dan ruang publik. Namun semuanya diputuskan oleh individu sendiri (individual choice) sebagai pengguna apakah ingin menggunakan media ini untuk privasi identitasnya atau ingin serius go public.
         Inilah suatu fenomena yang dihadirkan dalam cyberspace yang menyediakan ruang-ruang sosial seperti dunia nyata. Ruang-ruang tersebut merupakan simulasi dari ruang sosial yang kita miliki di dunia nyata. Namun kedua ruang sosial tersebut memiliki karakteristik berbeda. Dalam ruang sosial dunia nyata kita akan memiliki kebersamaan yang bersifat sosial, solidaritas sosial dalam sebuah ruang atau tempat seperti kampung, dan didalamnya kita selalu dapat berkomunikasi secara face to face (tatap muka). Sebaliknya, interaksi kita tidak akan terasa kondisi demikian dalam ruang sosial. Kita harus memerlukan imajinasi kolektif didalam sebuah tempat yang imajiner menelusuri aliran bit-bit data dalam jaringan komputer. Itulah hakikat ruang sosial dalam cyberspace sebagai simulasi dari ruang sosial di dunia nyata. Sadar atau tidak sadar ruang-ruang dalam dunia cyber ini justru mempengaruhi ruang sosial di dunia nyata kita.
          Perspektif neophiliacs juga memandang new media sebagai sarana pemuas kebutuhan karena memberikan kemajuan dan perkembangan bagi kehidupan manusia. Kebutuhan akan akses dan koneksi yang lebih cepat dan murah sudah tidak perlu dicari lagi. Jaringan dan pergaulan yang luas dari new media akan mengizinkan manusia untuk dapat terhubung dengan komunitas atau masyarakat lain yang berbeda. Hal ini akan membuka pikiran dan pengetahuan masyarakat. Ditambah dengan hypertextual dari new media yang akan memperluas jendela informasi terhadap masyarakat. Selain itu, masyarakat akan lebih dituntut untuk aktif mencari dan mengembangkan diri. Tuntutan seperti ini diharapkan menjadi sebuah perubahan yang baik juga dalam masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya memegang keterikatan secara fisik dalam ruang dan waktu yang nyata kini secara perlahan telah berubah dan mengakui dirinya sebagai seorang Neophiliacs.

*Opini ini dibuat dalam Forum ke-7 untuk Mata Kuliah New Media & Society Format E-Learning Universitas Mercu Buana Program Kelas Karyawan Fakultas Komunikasi Jurusan Penyiaran.

Ketika Konotasi Pencitraan di Media Sosial Hanya Sebatas Eksistensi Bukan Sosialisasi

        Dewasa ini, arus informasi bisa dibilang mengalir kian deras. Aliran informasi mengalir dari satu sumber ke penerima dan kemudian mengalir lagi ke penerima berikutnya. Begitu seterusnya. Keadaan seperti ini memang tak bisa dihindari. Bisa dibilang hal ini adalah salah satu konsekuensi dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi di era globalisasi.
     Beberapa new media dengan teknologi canggih bermunculan dengan menawarkan segala informasi yang ada. Sebut saja, media sosial seperti internet yang telah dilengkapi search engine, jejaring sosial, blog, dan sebagainya. Informasi yang dapat kita peroleh dari media sosial tersebut tidak dipungkiri sangat berguna bagi kehidupan karena nilai informasi yang dihadirkan tergolong aktual.
        Kemampuan media sosial menjadi medium pembenaran informasi mendekati kaidah ilmiah yang telah terjawab melalui sifatnya yang terkadang absurd, maya, dan juga penuh kepalsuan. Media sosial bisa menjadi kamuflase semata karena mampu menawarkan berbagai macam informasi yang tak terbatas jarak dan waktu. Masyarakat maya dapat memperoleh berbagai informasi dari negara atau benua yang berbeda. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik tersendiri dari media sosial yang dimanfaatkan sebagai wahana pencitraan.
        Jika mengkaji lebih dalam, pengaruh media sosial terhadap penggunanya tidak hanya pada hal positif, tetapi juga memiliki dampak negatif atas konstruksi pencitraan yang bisa dibentuk. Sadar atau tidak sadar, hal ini sudah menjadi fenomena dalam masyarakat maya. Sebagai contoh, gencarnya pemberitaan tentang pencitraan figur para capres dan cawapres yang akan dipilih pada Pemilu 9 Juli 2014 nanti menjadi ramai dibicarakan. Pencitraan melalui informasi, foto, visi dan misi masing-masing kandidat telah disajikan dengan menarik dan persuasif. Tidak hanya untuk kepentingan saat ini, para elite politik pun menggunakan fenomena tersebut untuk kebutuhan reputasi yang akan datang. Strategi komunikasi politik mereka terlihat begitu cemerlang sehingga mampu menghipnotis publik yang terkadang tidak mengetahui ada indikasi pesan yang bersifat settingan semata.
       Beberapa pencitraan pun dihadirkan dalam nuansa provokasi. Dimana ada kelompok tertentu yang ingin menjatuhkan citra dari suatu tokoh atau kelompok dengan black campaign. Media sosial yang menyajikannya seolah berusaha mempengaruhi opini publik. Fenomena ini akan membuktikan munculnya umpan balik dalam suatu proses komunikasi yang bisa menjadi bahan masukan. Tak aneh memang jika fenomena pencitraan di media sosial yang ada tampak begitu absurd. Indikasinya, kebanyakan dari kita melihat kepribadian manusia hanya dari kemasannya sehingga segala informasi yang ada terlihat abstrak. Fenomena pencitraan di media sosial pun hanya menjadi “kendaraan kemunafikan diri”. Maksudnya, kekuatan nilai berita, foto, visi dan misi yang ditampilkan seseorang dalam media sosial tersebut kadang kala tidak diimbangi dengan esensial jiwa akan kejujuran konten pesan yang seharusnya disampaikan ke publik secara natural. Dapat dikatakan, media sosial hanya digunakan sebagai hegemoni dalam meraih tujuan praktis.
          Kita harus lebih pintar mencari fakta tidak hanya dari satu sisi saja. Jika kita melihat hanya dari satu sisi, maka yang akan kita dapatkan hanyalah nilai informasi yang mengungkap sensasi. Sudah seharusnya, kita mulai menggunakan konsep pemikiran bahwa apa yang terungkap adalah apa yang ada padanya. Totalitas diri-lah yang harusnya diungkap, ada kejujuran yang dalam dan tulus, serta mengalir dari diri yang paling dalam untuk pencitraan yang elegan. Inilah sebuah pencitraan yang bisa diterima agar tidak terjadi  “pembunuhan karakter”.
       Seharusnya media sosial juga sebagai pembawa pesan atau informasi harus tetap bersifat “netral”. Artinya, media sosial dapat mempublikasikan informasi yang ada dalam ruang lingkup nilai positif dan negatif. Semua itu dapat dilakukan oleh kita sebagai pengguna media sosial. 
       
Kita kaji lebih lanjut informasi yang tersaji dengan berperan kritis dalam mencerna informasi yang ada. Hal tersebut dilakukan agar kita tidak mudah terpengaruh dan terlalu cepat bereaksi atas efek pencitraan dari informasi tersebut. Walaupun itu sulit, tapi harus kita coba sehingga kita sebagai pengguna media sosial mampu bijak dalam memberikan, membaca, atau menanggapi situasi informasi supaya tersaji secara ideal. Mari, kita ubah konotasi pencitraan di media sosial yang hanya sebatas eksistensi belaka menjadi ajang sosialisasi yang membumi.


*Opini ini dibuat dalam Forum ke-6 untuk Mata Kuliah New Media & Society Format E-Learning Universitas Mercu Buana Program Kelas Karyawan Fakultas Komunikasi Jurusan Penyiaran.

Jumat, 30 Mei 2014

Kumpulan Puisi dalam Film Ada Apa Dengan Cinta



 Aku Ingin Bersama Selamanya

Ketika tunas ini tumbuh
Serupa tubuh yang mengakar
Setiap nafas yang terhembus adalah kata
 
Angan, debur dan emosi
Bersatu dalam jubah terpautan
 
Tangan kita terikat
Lidah kita menyatu
Maka, setiap apa terucap adalah sabda pandita ratu
 
video
Ahh... diluar itu pasir 
diluar itu debu
Hanya angin meniup saja
Lalu terbang hilang tak ada
 
Tapi kita tetap menari
Menari, cuma kita yg tau
 
Jiwa ini tandu 
maka duduk saja

Maka akan kita bawa
Semua
Karena..
Kita...
Adalah....
SATU.

(Puisi dibuat oleh Rako Prijanto -Asisten Sutradara Film AADC-. Divisualisasikan di adegan awal film saat Alya -Teman Cinta- sedang bercerita tentang masalah keluarganya. Cinta & the gank pun mencoba menghibur Alya dengan puisi yang dibuat oleh Cinta untuk mengikuti kompetisi lomba puisi tahunan di sekolahnya.)
I Want to be Together Forever

When this bud grows
like a body taking root
Every breath taken is a word

Imaginings, sounds, emotions mingle together
weaving one robe around us

Our hands join
Our lips form in unicorn
Every word we say is the command of the high priestess

Ahh.. . The rest is sand
The rest is dust
Only the sand blows
then swirls, and disappears

But, we still dance
A dance that only we know

Our souls are like a palanquin

So just take a seat
and we will take 
All
because
we
are 
ONE
----------------------------

Bosan

Ku lari ke hutan 
kemudian menyanyiku
Ku lari ke pantai 
kemudian teriakku

Sepi, sepi dan sendiri
Aku benci
 
Aku Ingin bingar
Aku mau di pasar
 
Bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga
jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
 
Oh... Ada malaikat menyulam
jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai .........

(Puisi ini dibuat oleh Rako Prijanto -Asisten Sutradara Film AADC-. Divisualisasikan sebagai puisi yang dibuat oleh Rangga dan dikirimkan oleh Mang Diman -Penjaga Sekolah Gonzaga- untuk mengikuti kompetisi lomba puisi tahunan di sekolahnya.)

Bored

I run to the forest
and then I sing
I run to the beach
and shout out loud

It is so quiet
I hate being quiet and alone

I want to be noisy
I want to be at a market

I'm bored with being tired
I feel covered with soot if I'm alone

Just break the glass to make a noise!
Let them thowl, until there is a tumult!

Oh... . I can see an angle weaving a striped spider's web
on the wall of a white palace

Why not just swing the bell, until it winces!

Or should I run to the forest 
turn to the beach.
-----------------------------

Ada Apa Dengan Cinta



Perempuan datang atas nama cinta

Bunda pergi karena cinta

digenangi air racun jingga

adalah wajahmu seperti bulan

Lelap tidur di hatimu

yang berdinding kelam dan kedinginan


‘Ada Apa dengannya ... . ?’

Meninggalkan hati untuk dicaci

video

Lalu sekali ini aku lihat

karya surga dari mata seorang hawa . .


Ada Apa Dengan Cinta?



Tapi, aku pasti akan kembali

Dalam satu purnama

Untuk mempertanyakan kembali cintanya . .



Bukan untuknya, bukan untuk siapa . . .

Tapi, untukku ...

Karena aku ingin kamu . . .

Itu saja . 

(Puisi ini dibuat oleh Rako Prijanto -Asisten Sutradara Film AADC-. Divisualisasikan sebagai puisi yang ditulis oleh Rangga dan diberikan kepada Cinta di adegan akhir Film AADC).

What's wrong with LOVE ?

A woman comes in the name of Love
A mother leaves because of Love suffused with an orange poison,.
Your face is like a moon
Sound asleep in your heart
Walled in by darkness and cold

What is the matter with them?
Leaving one's heart to be scorned

And for once I witness heavens work through the eyes of Eve..

What's wrong with LOVE ?

And i will surely return when the moon is full
To ask again for her love,
Not for her, not for anyone
But for myself because I want You
And that is all.

KUMPULAN PUISI INI GW TULIS KEMBALI SEBAGAI APRESIASI GW TERHADAP FILM ADA APA DENGAN CINTA YANG FENOMENAL. FILM INI JUGA MENJADI REFERENSI GW DALAM MEMBUAT MATERI PRESENTASI TUGAS MAKALAH TENTANG KOMUNIKASI KELOMPOK DI MATA KULIAH TEORI KOMUNIKASI PROGRAM KELAS KARYAWAN - UNIVERSITAS MERCU BUANA-