LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 01 November 2015

Ketika Teknologi Tersinkronisasi di Kota Cirebon Yang Memikat Hati


                 Di wilayah Jawa, khususnya provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi dengan pengguna mobile data tertinggi di Indonesia. Selain Bandung, kota Cirebon mulai dikenal sebagai kota yang memiliki pertumbuhan industri kreatif yang maju secara signifikan sehingga membutuhkan koneksi internet cepat dan stabil untuk memenuhi kebutuhan penduduknya.
            Tepat, pada bulan Agustus lalu, Smartfren secara resmi meluncurkan layanan 4G LTE. Smartfren telah melakukan test-drive di beberapa wilayah yang sudah dijangkau jaringan 4G LTE sekitar daerah Cirebon. Pihak Smartfren melakukan edukasi terhadap penduduk kota Cirebon agar Cirebon mampu membuktikan diri menjadi Smart City.
         Layanan 4G LTE dari Smartfren yang telah diuji coba memang tiada duanya. Kecepatan, kestabilan, dan kenyamanan yang dirasakan oleh pelanggan di Cirebon sudah terbukti dengan sendirinya. Penduduk kota Cirebon pun mulai mengunggah beberapa file koleksi video mereka atau sekedar menonton melalui kanal video streaming dengan menggunakan layanan SmartFren 4G LTE. Penduduk pun tak perlu ragu atau bingung lagi dalam berkoneksi karena mayoritas dari mereka juga menggunakan smartphone terpilih, semisal Andromax 4G LTE atau modem MiFi 4G LTE yang didukung layanan provider SmartFren.
       Beberapa acara seperti “Network Drive Test” dan “Smartfren Community Development” juga telah digelar di Kota Cirebon dengan tujuan mengajak kaum akademisi dan komunitas-komunitas terkini untuk memanfaatkan smartphone dan teknologi 4G LTE sebagai wahana edukasi. Dari acara tersebut, saya pun mengetahui bahwa di Cirebon terdapat 66 BTS FDD (Frekuensi Division Duplex) atau sudah 90% wilayah Cirebon yang dapat menggunakan layanan 4G LTE. Dengan jumlah BTS yang ada, 35 kecamatan yang ada di Cirebon dan sekitarnya sudah mulai menggunakan layanan tersebut untuk menonton beragam film melalui YouTube, streaming, cek email, download dan upload file apapun secara cepat dan lancar. Hal ini sangat membuktikan bahwa jaringan Smartfren 4G LTE memang menawarkan kecepatan data tinggi untuk akses mobile data, cakupan terluas, dan kemampuan teknologi 4G LTE yang dapat diandalkan di Indonesia.
          Keunggulan dan pengalaman yang dirasakan oleh saya, sudah pasti bisa dirasakan oleh para pelanggan secara menyeluruh. Layanan teknologi Smartfren 4G LTE yang bisa diandalkan juga mampu dinikmati oleh Komunitas Blogger Cirebon untuk mencari referensi content multimedia streaming, online games, atau video conference dalam mengisi ruang-ruang dunia maya mereka. 

           Komitmen perluasan wilayah cakupan (coverage) jaringan SmartFren pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Saya pernah mencoba test koneksi kekuatan jaringan SmartFren 4G LTE di sekitar lokasi Aston Hotel Cirebon.  Awalnya, saya mengunjungi hotel ini karena lokasinya paling strategis dekat dengan stasin kereta api. Saya pun menggunakan layanan shuttle gratis. Di hotel bintang empat ini memang sudah dilengkapi fasilitas wifi yang bisa dimanfaatkan, tapi karena saya memang membawa modem SmartFren saya pun memutuskan untuk mencari referensi tempat-tempat wisata di Kota Udang dengan modem saya pribadi.
            Sampai akhirnya, di minggu pagi itu, sambil sarapan dengan berbagai pilihan menu makanan, saya mencoba berselancar di dunia maya. Hasilnya kecepatan yang saya dapatkan  saat koneksi bisa mencapai kecepatan download 5.22 Mbps, Upload 3.31 Mbps, dan Ping 21 ms. Ini sangat jauh dari hasil yang saya prediksi sebelumnya. Kondisi demikian membuat harapan saya semakin besar untuk memiliki smartphone dari SmartFren dengan mengikuti kontes blog ini.
            Dari sini, saya yakin bahwa teknologi SmartFren 4G LTE akan mengembangkan pertumbuhan sektor industri teknologi informasi dan komunikasi yang bisa menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota Cirebon menuju Smart City. Adopsi dan strategi Smartfren yang lebih maju dengan pemanfaatan teknologi 4G LTE dibanding operator lainnya bisa kita nikmati sama halnya dengan kenyamanan yang dimiliki hotel Aston Cirebon dengan segala fasilitas yang mampu memanjakan hati. Yuk, ke Cirebon ! Rasakan sensasi dan teknologi di kota yang bisa memikat hati.


Minggu, 09 Agustus 2015

Nikmati Sensasi Belanja Online di Elevenia*



Hey, bloggers Akhir-akhir ini gue kena virus online shopping syndrome. Yah, karena kemudahan mengaksesnya, jadi tinggal browsing, klik sana sini sambil cari yang pas dihati, bayar dengan cara yang beragam, dan langsung dateng deh ordernya seketika. Semua itu tanpa perlu mengeluarkan tenaga dan waktu yang sia-sia. Apalagi hidup di kota megapolitan kaya Jakarta, kadang kalo harus ke mall untuk shopping, kelamaan diperjalanan dibanding belanjanya. Iya kan?... Seharusnya Jakarta itu bukan kota megapolitan, tapi kota kemacetan.

Kembali ke topik, belanja onlinenya yaa..

Shopping via online ini akhirnya udah jadi kebiasaan gue sejak sibuk kerja disalah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Beredarnya online shop yang semakin beragam, jadi nambah memanjakan gue untuk visit-visit web online manapun. Hal ini juga didukung dengan kemudahan fitur online banking yang memudahkan nasabahnya untuk melakukan transaksi kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Sudah gak terhitung lagi deh jumlah barang yang gue beli secara online. Sejauh ini bisa dibilang semua pengalaman belanja gua via online sangat memuaskan. Apalagi, kalo udah belanja online di Elevenia. Alhamdulilah, gak pernah ada tipu menipu dari pihak penjual ke konsumen. Dijamin hemat waktu dan biaya..

Di Elevenia, barang yang gue dapet sesuai banget sama gambar. Mulai dari warna, bentuk, pola, sampe ukuran dijamin gak mengecewakan daahhh..

Di Elevenia, produk yang dijual juga beragam, gue jadi bisa cuci mata pilih pangan dan sandang ini itu mulai dari bahan makanan sampe benda mati. Yah, bisa dibilang pake konsep E-Mart gitu (dibaca: Electronic Market). Nah, Kalau visitor galau mau pilih yang mana, kita juga bisa lihat Top 100 produk laris manis yang dijual oleh penjual terbaik. Good Recommend, kan !

Di Elevenia, juga banjir diskon loOh gak kalah banting harga kaya di DepStore mall-mall gituh.. Banyak promo voucher yang bisa kita beli di bawah harga asli, kaya voucher pulsa smartphone atau listrik, voucher tiket masuk pameran atau konser, voucher makan, voucher transportasi, voucher hotel, voucher rekreasi, dan voucher-voucher dari merchant lainnya yang gak muat disebutin satu per satu. 

Di Elevenia, kalo kita emang udah maniak belanja, mending gabung jadi member. Soalnya, ada too much benefit yang bisa kita dapetin terus ada grade juga lagi yang bisa kita ikutin.. Semakin bisa nikmatin kan sensasi belanja yang menyenangkan penuh tantangan buat naik tingkat tiap bulannya...

Di Elevenia, para penjual yang menjajakan barang dagangannya juga gak 'misterius', Gue bisa lihat dengan detail nama toko, alamat, dan nomor kontak yang tersaji dengan paket komplit. So, gak usah khawatir kalo mau claim atau complain.

Dan yang paling gue interest sama site jual beli ini …
Di Elevenia, ada kolom feedback bagi pembeli sehingga kita bisa tulis review barang yang udah pernah kita order. Terus ada system pointnya gitu, kalo makin banyak review dan sering belanja di Elevenia bisa langsung ngumpulin point. Nah, kalo udah selangit tuh point bisa kita tuker dengan voucher belanja sampe nominal jutaan rupiah lohh..

Mulai dari sekarang, gua mau bikin komitmen sama diri gue sendiri,.. biar fokus belanja onlinenya di satu online shop yang pake sistem toserba (toko serba ada) kaya Elevenia aja deh biar dapet gratis voucher 1 juta kaya promo yang lagi kekinian di bulan Agustus 2015 ini..

Cuma di Elevenia yang berasa belanja di surga dunia*
 


Sabtu, 02 Mei 2015

Efektivitas Komunikasi

        Menurut aku, komunikasi itu bagian dari interaksi sosial. Interaksi dalam hal ini adalah saling bertukar informasi atau pesan. Contoh sederhana seorang berbicara kepada temannya mengenai sesuatu, kemudian teman yang mendengar memberikan reaksi atau komentar terhadap apa yang sedang dibicarakan itu. Aktivitas komunikasi seperti itu senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai.

       Nah, jika suatu proses komunikasi atau pesan yang akan disampaikan komunikator dapat diterima dan dimengerti oleh komunikan, persis seperti yang dikehendaki komunikator maka komunikasi bisa dikatakan efektif. Namun, apabila tujuan yang hendak dicapai pun kemungkinan besar tidak dapat terlaksana maka komunikasi akan menjadi tidak efektif.

Efektif atau tidaknya suatu pola komunikasi bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor tertentu, diantaranya :

Isi Pesan
(ada yang menjelaskan hal-hal sifatnya spesifik atau mendetail, ada juga yang bersifat global, ada yang mampu dipertanggungjawabkan atas apa yang dikatakan atau ada yang hanya sebatas ‘kabar burung’, ada yang memiliki unsur-unsur bersifat tindakan atau mempengaruhi sikap perilaku atau ada juga yang hanya sebatas omong kosong).
Perasaan
(ada kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan yang dirasakan atau sebaliknya tidak ada, dan saling menghargai satu sama lain atau  malah saling menjatuhkan).

• Pemikiran
(mampu berpikir secara logis, secara deskriptif atau hanya bersifat evaluatif, dan mampu memiliki pemahaman atau intrepretasi secara cermat atau hanya sekedar mengamati).

• Situasi
(komunikasi bersifat satu atau dua arah, tidak ada pencelaan atau memang saling memprovokasi, tidak mendominasi atau sengaja tampil lebih menguasai, ada unsur kesenangan dan situasi yang nyaman atau hanya sebatas ikut-ikutan).




 


Di bawah ini, saya berikan contoh pola komunikasi efektif dan tidak efektif :

1. Pola komunikasi yang efektif

- Pola probing. Suatu pola komunikasi yang mengharuskan kita mengekspresikan rasa perhatian kita atas apa yang kita dengar melalui pertanyaan atau komentar lebih lanjut. Proses semacam ini mendorong orang lain akan merasa dihargai dan membuka peluang bagi upaya komunikasi yang efektif sehingga terbentuk sikap proaktif. Misalnya, penawaran saling membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah.
- Pola reflecting. Suatu pola komunikasi yang mengharuskan kita bercermin atau mampu mengekspresikan rasa simpati yang mendalam (empati) kita dengan cara memahami situasi pembicara. Misalnya, memberi semangat kepada teman yang sakit, ucapan turut berbelasungkawa, dan sebagainya.

Dua pola komunikasi yang efektif tersebut akan menimbulkan suasana yang sinergis dan harmonis dari berbagai komponen komunikasi. Maka, komunikasi akan terkonstruksi dan terpelihara dengan optimal dan berkelanjutan.

2. Pola komunikasi yang tidak efektif

- Pola deflecting. Suatu pola komunikasi yang membelokkan pesan atau informasi yang kita dapat sehingga kabar yang kita terima simpang siur. Contoh sederhana bergosip dengan teman kampus.
- Pola advising. Suatu pola komunikasi yang cenderung untuk menggurui atau memaksakan pendapat; tanpa membuka kesempatan untuk terjadinya sebuah dialog yang sehat. Sebagai contoh dosen yang memberikan tugas atau instruksi kepada mahasiswa tanpa mendengarkan hak suara atau hak bicara mahasiswa sehingga dosen selalu merasa paling benar.

Dua pola komunikasi tersebut akan membangun proses komunikasi yang tidak kondusif antara komunikan dan komunikator.

Minggu, 05 April 2015

(HTS) Hidup Tujuan Saya


Dalam setiap diri setiap manusia, tentunya manusia mempunyai berbagai macam tujuan.. Ada tujuan yang bersifat Duniawi dan ada juga tujuan yang bersifat Ukhrowi atau Akhirat...
Berikut ini saya akan mengemukakan tujuan hidup saya setelah seperempat abad saya hidup di dunia ini. Dan bagian ini akan menjadi fragmen dari proses perjalanan hidup saya untuk membentuk suatu kisah hidup di episode-episode berikutnya . . .

Pertama, saya harus menjadi sarjana lulusan ilmu komunikasi. Bagi saya, Pendidikan ialah proses pengembangan diri. Suatu proses yang dapat membina nilai-nilai kehidupan menjadi unsur tata kelakuan yang terpuji. Ilmu yang telah saya pelajari, harus segera saya sebarkan ke masyarakat agar saya bisa menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain dan menciptakan hablumminannas (hubungan antar sesama manusia). Bekal pendidikan yang saya peroleh juga akan menjadi pedoman untuk mewujudkan cita-cita saya.

"Pendidikan bukan persiapan untuk hidup

Pendidikan adalah hidup itu sendiri"



Kedua, saya harus menerbitkan sebuah buku biografi. Menulis apa yang bisa ditulis adalah hobi saya. Penulisan buku biografi menjadi ilham saya untuk bercerita fragmen-framen kehidupan saya yang berpotensi menginspirasi pembaca. Saya berharap suka duka kehidupan saya akan terukir abadi saat ajal telah menjemput saya.



Ketiga, saya harus menjadi seorang sutradara. Memproduksi sebuah film berdasarkan kisah nyata menjadi mimpi saya sejak kecil. Memiliki profesi dengan proses kerja kreatif dan menghadirkan tontonan tidak hanya sebatas tuntutan komersial tetapi juga suatu tuntunan untuk penonton akan menjadi tantangan tersendiri yang harus saya mulai. Beberapa film pendek sudah saya produksi. masih banyak ide cerita lain yang melayang di pemikiran saya untuk segera divisualisasikan dan saya yakin itu BISA!




Keempat, saya harus menikah. Menikah ialah salah satu hal yang dianjurkan dalam agama Islam. Setelah menikah, saya berharap bisa segera memiliki keturunan (anak) yang akan mengantarkan saya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Terciptanya keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah akan menjadi tujuan ukhrowi saya untuk mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.

 


Kelima, saya harus menyempurnakan rukun islam saya dengan pergi haji. Tujuan ini akan menjadi  proses peningkatan iman dan taqwa untuk investasi kehidupan saya di akhirat kelak. Saya berharap ini akan menjadi bentuk pengabdian saya terhadap Sang Pencipta, Allah SWT (hablumminallah).



Inti dari kelima tujuan hidup saya di dunia ini adalah untuk mengharapkan ridho Allah SWT.
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" 
(QS. Adz Dzaariyaat : 56)

Sabtu, 24 Januari 2015

Trilogi 99 Cahaya di Langit Eropa ; Film Religi Kurang Esensi dan Sinergi

Film adalah wahana untuk menyampaikan berbagai pesan kepada khalayak melalui sebuah media cerita. Film juga merupakan medium ekspresi artistik sebagai suatu panca indera bagi para seniman dan insan perfilman dalam rangka mengutarakan gagasan-gagasan dan ide cerita. Mulai dari kisah cinta yang menggelora, kisah cita-cita yang menggebu, dan kisah cipta yang menginspirasi. Semua telah dihadirkan para sineas perfilman dengan rasa yang berbeda.
Berkembangnya dunia sinema Indonesia hingga tahun 2014 telah menghasilkan berbagai genre film. Selain sebagai hiburan ternyata film mengandung nilai atau pesan yang terkandung didalamnya sehingga memiliki banyak penikmat dan penggemarnya masing-masing. Beberapa film di Indonesia yang menjadi karya dari sutradara-sutradara ternama juga diangkat dari beberapa novel yang laris dipasaran atau menjadi best seller. Film-film tersebut mampu eksis ditengah persaingan dunia industri perfilman nasional. Misalnya, Ketika Cinta Bertasbih (Chaerul Umam), Laskar Pelangi (Mira Lesmana-Riri Riza), Sang Pemimpi (Riri Riza), Edensor (Benni Setiawan), Negeri 5 Menara (Affandi Abdul Rachman), 5 cm (Rizal Mantovani), Perahu Kertas (Hanung Bramantyo), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Sunil Soraya), dan Marmut Merah Jambu (Raditya Dika) berhasil mencetak rekor penonton tertinggi.
            Meski memiliki dimensi yang berbeda, novel dan film saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Banyak film-film berkualitas yang diadaptasi dari sebuah novel menjadi laris. Tak jarang, film hasil adaptasi novel mendapatkan sambutan yang sama baik dengan novel yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri sukses suatu novel merambat pula kepada sukses suatu film untuk ditonton oleh masyarakat.
Salah satu contoh film adaptasi novel paling laris ditahun 2014 adalah film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Film ini adalah sebuah film yang diangkat dari novel yang ditulis oleh Hanum Salsabela Rais, putri tokoh nasional Amien Rais. Cerita dalam novel tersebut ditulis bersama suaminya, Rangga Almahendra dan diterjemahkan kembali ke dalam sebuah bentuk skenario oleh Alim Sudio. Kisah ini berdasarkan pada pengalaman Hanum dan Rangga selama 3 tahun tinggal di benua biru.
Sesungguhnya novel dan film itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Alasannya, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Begitu juga yang terungkap dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. Jika kita lihat dari segi kelengkapan cerita, sangat terlihat cerita yang ditampilkan dalam film tidak selengkap yang telah tertulis dalam novelnya. Beberapa penjelasan-penjelasan tentang sejarah Islam tidak mampu divisualisasikan secara detail dalam film ini. Seharusnya hal-hal tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi sineas perfilman Indonesia.
Meskipun demikian, film 99 Cahaya di Langit Eropa bisa menjadi tontonan yang memuat pesan toleransi yang sangat indah. Padahal, film-film Indonesia sudah sangat jarang menampilkan film yang berisi dan memberikan pesan yang mengandung unsur edukasi kepada masyarakat. Film 99 Cahaya di Langit Eropa berusaha membuat energi baru dengan mengungkap pesan-pesan yang mendidik dan berdampak pada publik terutama dalam segi religi yang saling mengasihi.
            Tema film ini bercerita tentang pengalaman sejarah dan peradaban umat manusia di negeri orang dalam mempertahankan keyakinan, cinta, dan prinsip di tengah sekulerisme Eropa yang dibalut dengan persahabatan dan pengungkapan misteri peradaban Islam. Unsur penciptaan karya film bernuansa religius dibuat dengan konflik, penokohan, dan wadrobe yang pas. Namun, konflik terkesan sederhana dan datar karena hanya berusaha menerjemahkan bahasa kata-kata ke dalam sebuah visual yang membuat penonton harus menafsirkan sendiri. Tidak ada dramaturgi yang terbentuk dalam film ini sehingga banyak orang menilai bahwa film ini adalah sebuah film semi dokumenter atau film sejarah Islam yang mencoba mengislamisasi diri.
Konflik ketika kaum urban sulit mendapatkan pekerjaan di Eropa, konflik batin ketika sosok Rangga harus memilih antara mengikuti ujian studi akhir atau melaksanakan ibadah sholat Jum’at, dan konflik antara Hanum dan tetangganya yang terganggu hanya karena bau ikan asin dan suara televisi yang berisik. Ketiga konflik tersebut terkesan dipaksakan dalam setiap adegan sehingga terlihat janggal atau aneh bahkan bisa menimbulkan makna ambigu. Seharusnya, hal-hal yang mengungkapkan pertentangan atau konflik dalam sebuah film yang menyangkut perbedaan pendapat dan nilai biasanya lebih disukai oleh penonton. Film ini pun kehilangan esensinya.
Esensi sebuah film adalah rangkaian gambar (visual). Untuk memahami makna yang terkandung di dalam gambar hasil rekaman (video) tidaklah mudah. Kendatipun seseorang merasa mengerti tentang sesuatu yang terdapat di dalam gambar, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dipahami. Maka, sebuah gambar menjadi sangat tergantung kepada siapa yang menginterpretasikan. Penonton yang melihat gambar tertentu akan menginterpretasikan gambar tersebut menurut pikirannya yang didasari oleh pengalaman hidupnya atau pola pikirnya hingga mempunyai kesan tertentu.
Beberapa adegan dalam film juga digambarkan dengan penggunaan dialog yang membuat penonton harus berpikir dengan logika. Misalnya dialog dua orang asing yang menganggap roti croissant sebagai bentuk dari bendera Turki yang jika dimakan sama saja dengan menghina muslim. Lalu, ada juga dialog seorang dosen yang berusaha menafsirkan makna bismillah saat Rangga meminta izin untuk mengubah waktu ujiannya yang bentrok dengan ibadahnya. Dialog dalam dua adegan tersebut memang mengalir, namun penonton harus mampu mencerna kata demi kata yang terucap oleh pelakunya karena visual adegan dibuat dengan potongan gambar yang biasa saja, tanpa ada suspence atau punching line.
            Namun, Film 99 Cahaya di Langit Eropa cukup berhasil sebagai film yang menyampaikan informasi mengenai jejak-jejak agama Islam di benua Eropa. Film ini membawa kita untuk memahami sejarah kejayaan Islam di tanah Eropa tanpa terkesan menggurui. Melalui film ini kita menelusuri sejarah Islam di Eropa terutama dari masa Dinasti Umayyah dan Ustmaniyyah. Kita mampu melihat jatuh bangun peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Disamping itu, kita juga dapat menyimak perjalanan Fatma Pasha. Sosok imigran dari Turki yang menjadi sahabat Hanum untuk mencari kehidupan yang lebih baik sekaligus menyebarkan cahaya Islam dan menghapus stereotipe negatif tentang Islam yang sudah mengakar kuat di Eropa. Energi sejarah islam yang masih kurang dalam film ini ialah tentang sosok Kara Mustafa Pasha yang hanya selintas diceritakan dan membuat penonton terus bertanya-tanya siapakah sosok beliau yang mampu memberi pengaruh dalam Islam.
Kita harus mengakui bahwa menonton film ini lebih seperti melihat kembali ensiklopedi kemegahan Eropa dan sejarah Islam dibandingkan dengan mengajak penonton untuk turut serta merasakan apa yang para tokohnya rasakan. Logisnya, film ini memang seperti dibuat dari sudut pandang sang penulis novelnya. Esensi cerita pun justru menjadi bias dan kosong. Konflik-konflik dalam cerita berusaha diungkap dan ditampilkan melalui sejumlah monolog yang dilakukan oleh tokoh Hanum. Namun, penggarapannya terkesan kurang rapi karena cerita yang tersaji tidak mampu mengikat emosi penonton.
Film yang mengambil lokasi syuting di empat negara Eropa: Vienna (Austria), Paris (Perancis), Cordoba (Spanyol), dan Istanbul (Turki) juga unggul dalam sisi sinematografi karena berhasil menampilkan unsur visual panorama kota-kota tersebut menjadi magnet tersendiri bagi penonton. Ketajaman gambar dan corak penggambarannya mampu menggugah penonton untuk mengunjungi empat kota itu. Walaupun harus kita akui establish shot yang ditampilkan tampak terlalu banyak. Entah untuk memperpanjang durasi atau memang strategi pasar pemilik modal yang membiayai film ini menjadikan sebuah lahan promosi pariwisata tersendiri.
Sisipan adegan-adegan iklan juga sedikit mengganggu jalan cerita. Adegan dibuat demi komersial semata seperti kebanyakan film-film Indonesia lainnya. Tidak tercipta dalam suatu makna yang memiliki unsur drama. Untung saja, pihak sponsor yang terlibat dalam produksi film ini tidak terlalu banyak sehingga masih terlihat sewajarnya walaupun tidak tergarap secara memuaskan. Seperti adegan pengambilan uang di ATM yang dilakukan oleh Rangga.
Unsur-unsur lain yang juga tampak mengganggu dalam film ini ialah editing subtitle dialog yang kurang rapi. Pada film ini juga tidak diceritakan latar belakang beberapa karakter orang asing yang ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan fasih seperti Fatma Pasha dan Ayse dari Turki, Marion Latimer dari Perancis, Khan dari Pakistan, serta Maarja dan Stefan. Memang sulit memaksakan para aktor atau aktris untuk menguasai bahasa asing sesuai perannya masing-masing, namun jika para sineas berhasil menggarapnya, maka film ini akan berpeluang untuk dikenal lebih luas di mancanegara atau go international.
Pada akhirnya, sinergi antar semua unsur yang tergabung dalam film ini memang bertumpu pada cerita. Materi cerita novel 99 Cahaya di Langit Eropa memang terlalu luas untuk dimuat dalam satu kisah visual. Namun, banyak penonton beranggapan bahwa materi cerita tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi sehingga para produser memutuskan untuk produksi sekuel film 99 Cahaya di Langit Eropa menjadi dua bagian. Ada 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 dan 99 Cahaya di Langit Eropa Final Edition. Kondisi demikian sudah menjadi strategi marketing tersendiri para pemilik modal. Tetapi, penonton pun banyak yang merasakan tidak mencapai klimaks untuk menonton film ini. Sinergi film ini pun seakan sirna di sekuel-sekuel film berikutnya.
Jika 99 Cahaya di Langit Eropa terkesan berusaha untuk tampil dengan kisah yang lebih luas tentang suatu perjalanan religi, maka 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 jelas dapat dirasakan sebagai sebuah bagian penceritaan yang lebih personal. Meskipun beberapa konflik yang dihadirkan kurang mampu terasa esensial dan gagal bersinergi pada unsur sinematografi dari sekuel film ini sebelumnya.
99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 hanya memberi fokus yang lebih kuat pada kisah kehidupan kedua peran utama dalam film ini, yaitu Hanum dan Rangga dalam sebuah narasi. Penonton hanya disuguhkan dengan kualitas akting yang cukup meyakinkan dari sisi teknikal serta penampilan para pemeran, 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Tidak begitu banyak yang bisa kita apresiasi untuk sekuel ini, namun setidaknya sineas mulai melakukan perbaikan kualitas yang lebih layak untuk suatu tontonan sebuah film.

Pada akhirnya, menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa akan membawa kita untuk merasakan suatu cerita perjalanan spiritual yang telah dialami oleh Hanum dan suaminya. Kita bisa merasakan bahwa kita masih jarang membuka mata untuk melihat dunia dan segala isinya, terutama yang berkaitan dengan ajaran keagamaan. Perjalanan yang terekam dalam film tersebut harus mampu membawa penonton untuk naik ke derajat yang lebih tinggi dalam memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Meskipun, jenis film religi ini masih belum tampak esensi dan sinergi yang memadai.