LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Sabtu, 24 Januari 2015

Trilogi 99 Cahaya di Langit Eropa ; Film Religi Kurang Esensi dan Sinergi

Film adalah wahana untuk menyampaikan berbagai pesan kepada khalayak melalui sebuah media cerita. Film juga merupakan medium ekspresi artistik sebagai suatu panca indera bagi para seniman dan insan perfilman dalam rangka mengutarakan gagasan-gagasan dan ide cerita. Mulai dari kisah cinta yang menggelora, kisah cita-cita yang menggebu, dan kisah cipta yang menginspirasi. Semua telah dihadirkan para sineas perfilman dengan rasa yang berbeda.
Berkembangnya dunia sinema Indonesia hingga tahun 2014 telah menghasilkan berbagai genre film. Selain sebagai hiburan ternyata film mengandung nilai atau pesan yang terkandung didalamnya sehingga memiliki banyak penikmat dan penggemarnya masing-masing. Beberapa film di Indonesia yang menjadi karya dari sutradara-sutradara ternama juga diangkat dari beberapa novel yang laris dipasaran atau menjadi best seller. Film-film tersebut mampu eksis ditengah persaingan dunia industri perfilman nasional. Misalnya, Ketika Cinta Bertasbih (Chaerul Umam), Laskar Pelangi (Mira Lesmana-Riri Riza), Sang Pemimpi (Riri Riza), Edensor (Benni Setiawan), Negeri 5 Menara (Affandi Abdul Rachman), 5 cm (Rizal Mantovani), Perahu Kertas (Hanung Bramantyo), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (Sunil Soraya), dan Marmut Merah Jambu (Raditya Dika) berhasil mencetak rekor penonton tertinggi.
            Meski memiliki dimensi yang berbeda, novel dan film saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Banyak film-film berkualitas yang diadaptasi dari sebuah novel menjadi laris. Tak jarang, film hasil adaptasi novel mendapatkan sambutan yang sama baik dengan novel yang bersangkutan. Tak dapat dipungkiri sukses suatu novel merambat pula kepada sukses suatu film untuk ditonton oleh masyarakat.
Salah satu contoh film adaptasi novel paling laris ditahun 2014 adalah film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa. Film ini adalah sebuah film yang diangkat dari novel yang ditulis oleh Hanum Salsabela Rais, putri tokoh nasional Amien Rais. Cerita dalam novel tersebut ditulis bersama suaminya, Rangga Almahendra dan diterjemahkan kembali ke dalam sebuah bentuk skenario oleh Alim Sudio. Kisah ini berdasarkan pada pengalaman Hanum dan Rangga selama 3 tahun tinggal di benua biru.
Sesungguhnya novel dan film itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Alasannya, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Begitu juga yang terungkap dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. Jika kita lihat dari segi kelengkapan cerita, sangat terlihat cerita yang ditampilkan dalam film tidak selengkap yang telah tertulis dalam novelnya. Beberapa penjelasan-penjelasan tentang sejarah Islam tidak mampu divisualisasikan secara detail dalam film ini. Seharusnya hal-hal tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi sineas perfilman Indonesia.
Meskipun demikian, film 99 Cahaya di Langit Eropa bisa menjadi tontonan yang memuat pesan toleransi yang sangat indah. Padahal, film-film Indonesia sudah sangat jarang menampilkan film yang berisi dan memberikan pesan yang mengandung unsur edukasi kepada masyarakat. Film 99 Cahaya di Langit Eropa berusaha membuat energi baru dengan mengungkap pesan-pesan yang mendidik dan berdampak pada publik terutama dalam segi religi yang saling mengasihi.
            Tema film ini bercerita tentang pengalaman sejarah dan peradaban umat manusia di negeri orang dalam mempertahankan keyakinan, cinta, dan prinsip di tengah sekulerisme Eropa yang dibalut dengan persahabatan dan pengungkapan misteri peradaban Islam. Unsur penciptaan karya film bernuansa religius dibuat dengan konflik, penokohan, dan wadrobe yang pas. Namun, konflik terkesan sederhana dan datar karena hanya berusaha menerjemahkan bahasa kata-kata ke dalam sebuah visual yang membuat penonton harus menafsirkan sendiri. Tidak ada dramaturgi yang terbentuk dalam film ini sehingga banyak orang menilai bahwa film ini adalah sebuah film semi dokumenter atau film sejarah Islam yang mencoba mengislamisasi diri.
Konflik ketika kaum urban sulit mendapatkan pekerjaan di Eropa, konflik batin ketika sosok Rangga harus memilih antara mengikuti ujian studi akhir atau melaksanakan ibadah sholat Jum’at, dan konflik antara Hanum dan tetangganya yang terganggu hanya karena bau ikan asin dan suara televisi yang berisik. Ketiga konflik tersebut terkesan dipaksakan dalam setiap adegan sehingga terlihat janggal atau aneh bahkan bisa menimbulkan makna ambigu. Seharusnya, hal-hal yang mengungkapkan pertentangan atau konflik dalam sebuah film yang menyangkut perbedaan pendapat dan nilai biasanya lebih disukai oleh penonton. Film ini pun kehilangan esensinya.
Esensi sebuah film adalah rangkaian gambar (visual). Untuk memahami makna yang terkandung di dalam gambar hasil rekaman (video) tidaklah mudah. Kendatipun seseorang merasa mengerti tentang sesuatu yang terdapat di dalam gambar, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa dipahami. Maka, sebuah gambar menjadi sangat tergantung kepada siapa yang menginterpretasikan. Penonton yang melihat gambar tertentu akan menginterpretasikan gambar tersebut menurut pikirannya yang didasari oleh pengalaman hidupnya atau pola pikirnya hingga mempunyai kesan tertentu.
Beberapa adegan dalam film juga digambarkan dengan penggunaan dialog yang membuat penonton harus berpikir dengan logika. Misalnya dialog dua orang asing yang menganggap roti croissant sebagai bentuk dari bendera Turki yang jika dimakan sama saja dengan menghina muslim. Lalu, ada juga dialog seorang dosen yang berusaha menafsirkan makna bismillah saat Rangga meminta izin untuk mengubah waktu ujiannya yang bentrok dengan ibadahnya. Dialog dalam dua adegan tersebut memang mengalir, namun penonton harus mampu mencerna kata demi kata yang terucap oleh pelakunya karena visual adegan dibuat dengan potongan gambar yang biasa saja, tanpa ada suspence atau punching line.
            Namun, Film 99 Cahaya di Langit Eropa cukup berhasil sebagai film yang menyampaikan informasi mengenai jejak-jejak agama Islam di benua Eropa. Film ini membawa kita untuk memahami sejarah kejayaan Islam di tanah Eropa tanpa terkesan menggurui. Melalui film ini kita menelusuri sejarah Islam di Eropa terutama dari masa Dinasti Umayyah dan Ustmaniyyah. Kita mampu melihat jatuh bangun peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Disamping itu, kita juga dapat menyimak perjalanan Fatma Pasha. Sosok imigran dari Turki yang menjadi sahabat Hanum untuk mencari kehidupan yang lebih baik sekaligus menyebarkan cahaya Islam dan menghapus stereotipe negatif tentang Islam yang sudah mengakar kuat di Eropa. Energi sejarah islam yang masih kurang dalam film ini ialah tentang sosok Kara Mustafa Pasha yang hanya selintas diceritakan dan membuat penonton terus bertanya-tanya siapakah sosok beliau yang mampu memberi pengaruh dalam Islam.
Kita harus mengakui bahwa menonton film ini lebih seperti melihat kembali ensiklopedi kemegahan Eropa dan sejarah Islam dibandingkan dengan mengajak penonton untuk turut serta merasakan apa yang para tokohnya rasakan. Logisnya, film ini memang seperti dibuat dari sudut pandang sang penulis novelnya. Esensi cerita pun justru menjadi bias dan kosong. Konflik-konflik dalam cerita berusaha diungkap dan ditampilkan melalui sejumlah monolog yang dilakukan oleh tokoh Hanum. Namun, penggarapannya terkesan kurang rapi karena cerita yang tersaji tidak mampu mengikat emosi penonton.
Film yang mengambil lokasi syuting di empat negara Eropa: Vienna (Austria), Paris (Perancis), Cordoba (Spanyol), dan Istanbul (Turki) juga unggul dalam sisi sinematografi karena berhasil menampilkan unsur visual panorama kota-kota tersebut menjadi magnet tersendiri bagi penonton. Ketajaman gambar dan corak penggambarannya mampu menggugah penonton untuk mengunjungi empat kota itu. Walaupun harus kita akui establish shot yang ditampilkan tampak terlalu banyak. Entah untuk memperpanjang durasi atau memang strategi pasar pemilik modal yang membiayai film ini menjadikan sebuah lahan promosi pariwisata tersendiri.
Sisipan adegan-adegan iklan juga sedikit mengganggu jalan cerita. Adegan dibuat demi komersial semata seperti kebanyakan film-film Indonesia lainnya. Tidak tercipta dalam suatu makna yang memiliki unsur drama. Untung saja, pihak sponsor yang terlibat dalam produksi film ini tidak terlalu banyak sehingga masih terlihat sewajarnya walaupun tidak tergarap secara memuaskan. Seperti adegan pengambilan uang di ATM yang dilakukan oleh Rangga.
Unsur-unsur lain yang juga tampak mengganggu dalam film ini ialah editing subtitle dialog yang kurang rapi. Pada film ini juga tidak diceritakan latar belakang beberapa karakter orang asing yang ternyata bisa berbahasa Indonesia dengan fasih seperti Fatma Pasha dan Ayse dari Turki, Marion Latimer dari Perancis, Khan dari Pakistan, serta Maarja dan Stefan. Memang sulit memaksakan para aktor atau aktris untuk menguasai bahasa asing sesuai perannya masing-masing, namun jika para sineas berhasil menggarapnya, maka film ini akan berpeluang untuk dikenal lebih luas di mancanegara atau go international.
Pada akhirnya, sinergi antar semua unsur yang tergabung dalam film ini memang bertumpu pada cerita. Materi cerita novel 99 Cahaya di Langit Eropa memang terlalu luas untuk dimuat dalam satu kisah visual. Namun, banyak penonton beranggapan bahwa materi cerita tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi sehingga para produser memutuskan untuk produksi sekuel film 99 Cahaya di Langit Eropa menjadi dua bagian. Ada 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 dan 99 Cahaya di Langit Eropa Final Edition. Kondisi demikian sudah menjadi strategi marketing tersendiri para pemilik modal. Tetapi, penonton pun banyak yang merasakan tidak mencapai klimaks untuk menonton film ini. Sinergi film ini pun seakan sirna di sekuel-sekuel film berikutnya.
Jika 99 Cahaya di Langit Eropa terkesan berusaha untuk tampil dengan kisah yang lebih luas tentang suatu perjalanan religi, maka 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 jelas dapat dirasakan sebagai sebuah bagian penceritaan yang lebih personal. Meskipun beberapa konflik yang dihadirkan kurang mampu terasa esensial dan gagal bersinergi pada unsur sinematografi dari sekuel film ini sebelumnya.
99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 hanya memberi fokus yang lebih kuat pada kisah kehidupan kedua peran utama dalam film ini, yaitu Hanum dan Rangga dalam sebuah narasi. Penonton hanya disuguhkan dengan kualitas akting yang cukup meyakinkan dari sisi teknikal serta penampilan para pemeran, 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2. Tidak begitu banyak yang bisa kita apresiasi untuk sekuel ini, namun setidaknya sineas mulai melakukan perbaikan kualitas yang lebih layak untuk suatu tontonan sebuah film.

Pada akhirnya, menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa akan membawa kita untuk merasakan suatu cerita perjalanan spiritual yang telah dialami oleh Hanum dan suaminya. Kita bisa merasakan bahwa kita masih jarang membuka mata untuk melihat dunia dan segala isinya, terutama yang berkaitan dengan ajaran keagamaan. Perjalanan yang terekam dalam film tersebut harus mampu membawa penonton untuk naik ke derajat yang lebih tinggi dalam memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. Meskipun, jenis film religi ini masih belum tampak esensi dan sinergi yang memadai.