LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Rabu, 14 Desember 2016

Film Cinta Tapi Beda, Tema Klasik dengan Intrik Tak Menarik



Tema dalam sebuah film merupakan gagasan utama yang direpresentasikan ke dalam sebuah cerita mengenai makna hidup atau kondisi manusia. Gagasan tersebut dibangun seiring dengan perkembangan kejiwaan si tokoh yang nilai kehidupannya menjadi harus diuji dan dipertahankan. Penentuan tema dapat dianggap sebagai permulaan sekaligus akhir dari sebuah pendekatan apresiasi dalam menonton film. Setelah menonton film tersebut kita harus coba membuat sebuah identifikasi sementara dari tema film itu. Dengan demikian kita melengkapi diri kita dengan suatu rasa yang jelas dari arah yang akan ditempuh oleh analisa kita selanjutnya tentang sebuah tema. Maka, tema akan dianggap sebagai jumlah menyeluruh dari semua unsur yang berfungsi sebagai faktor dasar pemersatu dalam sebuah film.
Banyak sineas muda mengambil sebuah tema dari realita di masyarakat yang mengandung pro kontra. Entah hal itu bagian dari strategi pasar agar filmnya laku dijual atau pekerja seni memang berusaha menjadi penengah akan kontroversi pada setiap pola hidup masyarakat majemuk. Kenyataan ini menarik untuk ditelisik.
Suatu hal yang dianggap tabu menjadi wacana di layar lebar. Perbedaan beragam di Indonesia menjadi tantangan tersendiri para sineas muda untuk memproduksi sebuah karya dalam bentuk media audio visual. Dari sekian banyak hal tersebut, cinta beda agama selalu menjadi perbincangan hangat dalam setiap film yang beredar. Kondisi demikian terlihat jelas pada layar-layar bioskop setiap tahun yang menyajikan tema film tentang cinta beda agama.
Sebenarnya cinta beda agama terbilang suatu keniscayaan. Kita hidup berdampingan dengan individu agama lain dalam pergaulan sehari-hari. Tidak mungkin rasanya jika tidak pernah terjadi kisah cinta dengan latar agama yang beda. Kita mungkin pernah mengalami atau mengenal orang-orang disekitar kita yang merasakan hal demikian.
Cinta beda agama bisa terjadi dibelahan mana saja di dunia. Namun, dalam pola pergaulan hidup negara-negara Barat hal semacam ini tidak menjadi masalah. Jauh berbeda dengan negara Indonesia yang nilai religi dan nilai kekeluargaan masih erat dianut masyarakatnya sehingga persoalan cinta beda agama menjadi pelik.
Di negara-negara barat yang masyarakatnya tergolong individualis, orangtua membiarkan anaknya memadu kasih dengan penganut agama lain karena hal itu dianggap sebagai hak asasi. Tapi, di negara Indonesia yang masyarakatnya menjunjung tinggi budaya timur, percintaan bahkan pernikahan beda agama tidak hanya menjadi  urusan dua pribadi yang jatuh cinta, melainkan urusan dua keluarga yang siap mengucilkan dan menentang takdir cinta.
Hubungan cinta beda agama merupakan bahan baku cemerlang untuk sebuah kisah dramatis khas Indonesia. Dalam hubungan cinta beda agama ada konflik yang menggelitik penuh dilema. Cinta seolah dipertentangkan dengan keyakinan agama masing-masing. Ada pula tradisi dan nilai keluarga yang berusaha menentang.
Film Cinta Tapi Beda berusaha mencoba menggarisbawahi akan hal-hal yang sifatnya bisa dilarang atau justru diperbolehkan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Para penonton film ini harus bisa berpikir cerdas. Hal ini dimaksudkan agar para penonton dapat merenungkan nilai-nilai yang bisa diambil dari rangkaian visual film ini.
Kisah percintaan dua manusia dalam film ini tergolong biasa saja. Konflik hubungan yang ditolak kedua orang tua pun hanya masalah klasik. Dari film Indonesia di tahun 70 dan 80-an hingga era millennium saat ini, masalah tersebut seringkali menjadi tema sebuah film. Garapan salah satu film berjudul 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta memang menjadi satu film yang paling sukses dengan tema sejenisnya. Seharusnya film Cinta Tapi Beda mampu mengungguli kesuksesan film tersebut. Walaupun tema sama, harusnya mampu memberi warna berbeda.
Dalam Film Cinta Tapi Beda masih terdengar dialog mengenai persoalan nikah beda agama yang menimbulkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Karakter-karakter yang ada seolah mewakili rasa keingintahuan penonton yang pastinya akan terus bertanya saat menonton film ini. Jawabannya pun memang terkadang tidak dapat ditampilkan dengan dialog-dialog yang bijak. Para sineas hanya bisa memberikan jawaban kepada penonton dengan adegan tawa, diam sejenak, senyuman atau bahkan tangisan. Kondisi demikian mengurangi unsur penciptaan kreatif sebuah karya dan penonton awam pun menanggap sebagai adegan tanpa makna.
Lalu ada juga dialog yang menampilkan sosok karakter dari sudut pandang agama Islam, seperti pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Memang dialog ini terlihat wajar, tetapi akan mengurangi sisi netralitas sebuah film yang mengangkat tema perbedaan. Walaupun pada adegan-adegan berikutnya, film ini berusaha dengan bijak untuk tidak mengikuti pendapat ulama. Penonton diajak untuk menaati agama dengan baik terlebih dahulu, baru memahami dengan seksama sebelum akhirnya memilih pendapat yang akan diikuti. Lagi-lagi penonton harus bisa memutar otak.
Penokohan dalam film Cinta Tapi Beda juga tidak etis. Sosok seorang wanita minang bernama Diana Fransisca (yang diperankan Agni Pratistha) ditampilkan sebagai penganut Katolik. Padahal mayoritas masyarakat minang di Indonesia ialah kaum muslim. Hal ini seakan menyalahi akar budaya Minang yang bersendikan kitab suci Al Qur’an. Lunturlah nilai logis dalam film ini.
Kondisi demikian menimbulkan kontroversi tersendiri dikalangan orang Minang. Mereka melihat film ini sebagai pelecehan dan penghinaan terhadap budaya Minang. Kita memang tak pernah tahu, apakah memang karakter tersebut sengaja ditampilkan sebagai sensasi atau proses riset dalam produksi film ini tidak berjalan dengan baik. Tergantung bagaimana penonton menafsirkannya.
Tapi yang menarik buat kita selain latar budaya adalah bagaimana dominasi orang tua terhadap anak yang sudah bisa mengambil keputusan dan bertanggung jawab akan keputusan itu sendiri. Film Cinta Tapi Beda memberikan sentuhan terhadap dua budaya mayoritas dan minoritas sekaligus dalam sebuah tata masyarakat formal yang bernama negara. Di film itu, Bapaknya Cahyo dan Mamanya Diana terlihat dominan dalam keputusan domestik rumah tangga masing-masing. Mama Diana semakin kaku memproteksi Diana karena selain menjadi single parent, ia juga merasa telah kehilangan anak-anaknya yang lain. Sementara Bapaknya Cahyo begitu dominan karena patron budaya patrilineal dari adat Jawa yang menempatkan dominasi laki-laki dalam masyarakat. 

Kritik lain yang disampaikan adalah keberanian Ibunya Cahyo, sosok perempuan yang berasal dari Jawa saat beradu argumen akan keputusan suaminya. Pada umumnya, perempuan Jawa memiliki stigma tersendiri dalam rumah tangga. Maka, ketika Ibu Munawaroh mendebat keputusan Pak Fadholli, terlihat ada sisi perempuan yang bangkit dari sub-ordinat laki-laki, di sisi lain ada perempuan yang juga mendominasi. Logika berpikir penonton pun dipertaruhkan dan dibutuhkan pemahaman yang mendalam untuk melihat makna tersirat di setiap adegan.

Film ini juga seolah mengajarkan seorang anak untuk melawan dan durhaka terhadap orang tua sehingga meninggalkan kesan adegan-adegan kaku dan bernilai negatif. Adegan ini tampak saat Cahyo kabur dari rumah karena dilarang menjalin hubungan dengan penganut agama yang tidak sesuai keyakinannya. Seharusnya film ini mampu mengisyaratkan agar orangtua bisa duduk sejajar mendengarkan apa yang menjadi keinginan anaknya.
Penyelesaian cerita dalam Film Cinta Tapi Beda juga dibuat dalam zona aman. Penonton dibiarkan berpikir sendiri untuk menentukan tujuan akhir cerita film ini. Suatu ending yang dianggap basi, tidak bisa menghasilkan solusi pasti. Padahal jika para sineas berani berpikir kreatif, mereka bisa menyajikan resolusi pasangan beda agama yang tetap bertahan dibahtera pernikahan. Hal tersebut bisa menjadi keunikan tersendiri untuk film ini dibandingkan film lainnya yang bertema sejenis. Film ini pun bisa unggul dalam sisi dramaturgi yang lebih menarik.
Kita harus yakin dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, pasti ada individu-individu yang berpikiran terbuka dan bebas. Mereka tergolong individu yang yakin bahwa Tuhan telah memberikan anugerah berupa cinta untuk layak diperjuangkan. Alasan Tuhan menciptakan cinta dalam jiwa manusia salah satunya ialah agar segala perbedaan yang ada bisa tetap bersama.
Itulah hal-hal yang selayaknya dikembangkan dalam proses kerja kreatif para sineas. Sebagai sineas, kita harus mampu mencari keseimbangan antara keinginan idealisme dan kebutuhan komersial. Seharusnya Film Cinta Tapi Beda menarik lebih dalam untuk dikaji dan dibahas dalam kerangka kritik film dan budaya agar tak hanya sebagai tontonan yang penuh intrik tak menarik, melainkan sebuah hasil karya seni bernilai tinggi. Film ini memiliki pro dan kontra, sama seperti hasil karya seni lain. Namun sayang, banyak kalangan menutup pintu tafsir terhadap sebuah karya sehingga film ini hanya menjadi sebuah ladang bisnis. Kontroversi pun terungkap sebagai bagian dari formula daya tarik imajinasi yang komersil. Tinggal, bagaimana kita menikmatinya*

Sabtu, 12 November 2016

The Doll Mencoba Beradaptasi Dengan Film Horor Sekelas The Conjuring



Aku termasuk salah satu blogger yang menjadi Indonesia movie freak. Segala jenis film Indonesia aku coba kulik untuk dikritik demi membangkitkan semangat para sineas lokal menuju kancah persaingan industri perfilman Hollywood.

Para penggemar film asing, pasti tak asing dengan ikon film bergenre horor, seperti boneka Annabelle yang beberapa tahun terakhir menghantui beberapa dunia menjadi box office di bioskop negaranya masing-masing. Selain itu, muncul juga sosok Valak dalam film The Conjuring 1 dan 2. Akhirnya, genre mistis pun mulai mencuri perhatian sineas negara-negara berkembang seperti Film Munafik yang dirilis Malaysia dan terakhir Film The Doll yang dirilis oleh para sineas Indonesia yang tergabung dalam rumah produksi HitMaker Studio.

Film The Doll memilih boneka Gawiyah (artinya yang jahat) sebagai adaptasi dari karakter Anabelle. Hanya saja, Gawiyah tak mampu tampil menyeramkan karena tak ada aura mistik yang dikembangkan secara visual melalui film ini. Gawiyah hanya hadir dengan make up lusuh dan bisa berpindah sendiri dari satu tempat ke tempat lain.

Banyak netizen mulai nyinyir karena film Indonesia ini terasa begitu mencontek film horror berskala dunia. Walaupun selama seminggu penayangan, film ini sudah berhasil menembus angka 400.000 penonton. Nah, bagaimana dengan jalan ceritanya . . .

Prolog film tampak dua orang gadis dan seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan saudara kandung sedang bercerita kepada pasangan yang berprofesi seperti paranormal. Mereka menceritakan kejadian menyeramkan yang pernah dialami saat ada sebuah boneka tiba-tiba hadir di depan rumah mereka. Adegan ini sekilas juga mirip dengan adegan awal pada film The Conjuring 2.

Film garapan sutradara dan produer Rocky Soraya ini berdurasi kurang lebih 104 menit dengan pemeran utama Shandy Aulia dan Deny Sumargo. Pasangan ini memang sudah teruji dalam film-film horror sebelumnya sehingga chemistry pun mudah didapatkan. Hanya saja, totalitas berakting masing-masing sebagai seorang aktor dan aktris masih belum bisa ditonjolkan. Beberapa adegan berbahaya sangat jelas terlihat digantikan oleh stuntman yang terpoles make up character.

Cerita pun dimulai tentang kehidupan baru pasangan suami istri Anya (Shandy Aulia) dan Daniel (Deny Sumargo) yang pindah rumah ke salah satu komplek elit. Profesi Daniel yang bekerja dibidang konstruksi membuatnya terlibat dengan proyek lapangan. Salah satunya yaitu proyek pembuatan ruko di Jalan Siliwangi.

Di daerah tersebut, terdapat pohon besar yang tidak boleh ditebang karena dipercaya angker oleh warga setempat. Hal ini diyakini karena disalah satu dahan pohon, duduk sebuah boneka yang telah dirasuki oleh arwah anak kecil, bernama Uci yang telah tewas dalam kasus pembunuhan. Dengan keberaniannya, Daniel menebang pohon tersebut yang dianggap menganggu proyeknya. Seharusnya, adegan penembangan pohon tersebut tak perlu ditempatkan pada babak awal untuk bisa mengelabui penonton ke adegan selanjutnya.

Lalu, penonton diajak melihat adegan-adegan kebetulan yang timbul secara tiba-tiba. Seperti, boneka Gawiyah yang ada di pohon dan sudah berpindah ke dalam bagasi mobil Daniel. Keanehan pun mulai terjadi di dalam rumah saat boneka tersebut ditempatkan dalam jajaran koleksi boneka Anya lainnya di sebuah ruangan atas dan mulai menghantui penghuni rumah mewah itu.

Awalnya, Anya dan Daniel hanya diganggu oleh aroma busuk seperti bau kentut dan suara-suara aneh disetiap ruangan yang terdapat dalam rumahnya. Beberapa kali, mereka pun mulai mencari tahu sumber keanehan tersebut. Tak ada yang spesial dalam adegan ini. Bahkan, adegan dirusak dengan satu part tata cahaya yang terlihat jumping, contohnya saat adegan mereka masuk ke pintu kamar di lantai 2 rumahnya yang tiba-tiba terbuka dan seolah terkena tiupan angin. Adegan tersebut memiliki latar waktu malam hari, namun ada tata cahaya yang begitu terang tampak seperti pagi hari.

Setelah itu, penonton pun diajak menemani kesendirian Anya saat Daniel bekerja hingga larut malam. Anya mulai dipermainkan oleh Uci yang merasa ingin balas dendam karena kehilangan tempat bermain di pohon besar yang telah ditebang oleh Daniel. Niken, tetangga depan rumahnya yang melihat ada boneka Ghawiyah di rumah Anya juga menyuruh Anya membuang boneka itu. Anak Niken, yang bernama Chilla juga mulai melihat keberadaan Uci di rumah Anya yang sering mengajaknya bermain bersama. Niken pun memanggil seorang paranormal perempuan (Sara Wijayanto) yang dulu juga pernah menangani boneka Ghawiyah ini. Bahkan, sosok pemuka agama seperti karakter ustad juga dihadirkan untuk mengusir arwah-arwah tersebut.

Tetapi, usaha mereka mengusir arwah jahat tak tampak unggul dalam film. Adegan malah dijejali dengan visual effect kelelawar dalam jumlah banyak dan sangat mengganggu. Sosok paranormal perempuan juga tampak clean & clear tanpa noda darah yang berlumuran disekitar. Tak ada gunanya, karakter itu ditampilkan dalam film. Adegan pun masih jauh untuk beradaptasi seperti film The Conjuring 2 saat Ed dan Lorraine Warren diminta sang pemilik rumah untuk menghentikan teror dari sosok arwah jahat di rumah clientnya.

Lama-kelamaan, sosok Uci mulai menampakkan diri dihadapan Anya dengan teror-teror menegangkan. Film pun mulai dijejali dengan adegan kerasukan arwah jahat yang siap saling membunuh dan menghancurkan segalanya. Arwah tersebut merasuki korban dengan mengeluarkan cairan aneh seperti darah dari mulut hantu ke mulut korbannya. Adegan semacam ini juga mengingatkan saya kembali dalam kisah film The Conjuring.

Tulisan-tulisan terror pun hadir terlalu banyak dalam film The Doll. Coretan dinding dan kaca, tulisan di langit-langit ruangan, atau memo pada selembar kertas pun coba menakut-nakuti pemeran. Namun, tulisan semacam ini justru bisa membodohi penonton karena ada beberapa tulisan yang tidak bisa terbaca jelas. Entah karena memang tulisannya ditulis samar atau terlalu cepat juga ditampilkan menjadi insert shotnya.

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara. Misalnya, saat adegan gali kubur untuk boneka hanya dilakukan oleh 2 orang wanita, sementara ustad hanya berdiri tegang memegang payung ditengah hujan. Selesai menggali tanah pun, mereka tak tampak kotor sama sekali. Setelah itu, pakaian para pemeran nyaris kering, padahal kondisi cuaca hujan meski mereka mengenakan jas hujan masing-masing.

Penulis skenario juga tidak mampu menghadirkan cerita secara utuh. Prolog awal tak pernah dibahas kembali hingga akhir cerita. Profesi Anya sebagai kolektor atau pembuat boneka pun tidak diceritakan secara jelasnya. Chilla, anak dari Niken tiba-tiba menghilang dari cerita dan penonton dibiarkan bertanya, mengapa Chilla harus membunyikan lonceng untuk mengajak bermain.

Terlepas dari sadar atau tidaknya bahwa film ini dituding plagiat, The Doll telah memberikan aroma baru untuk perfilman horor Indonesia karena tidak mengandalkan hantu untuk menakut-nakuti penonton yang ada. Tata suara yang ok sudah mampu mengagetkan beberapa penonton bioskop selama penayangan. Walaupun beberapa part dubbing kurang sempurna terdengar dari layar sinema,  beberapa adegan thriller sudah dikelola secara sadis dengan dukungan make up character yang pas. It’s really creepy.

Akhirnya, setelah menonton film ini, saya hanya berusaha menyadari bahwa Dunia Lain sama dengan dunia kita, ada yang baik dan ada yang jahat*


Minggu, 04 September 2016

ILY from 38.000 ft (I Love You from 38.000 Feet) ; Film Layar Lebar Nuansa Film Televisi



     Kesuksesan film drama roman Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016) yang selalu berada dalam posisi jajaran film Indonesia terlaris tampaknya mendorong Screenplay Films untuk meningkatkan production value di film selanjutnya, ILY from 38.000 ft (I Love You from 38.000 Feet). Meski masih mengusung cerita cinta dengan target penonton remaja, film yang dibintangi pemeran utama yang masih sama dengan dua film sebelumnya ini menawarkan beberapa konflik dewasa ala Screenplay yang selalu ditayangkan versi film televisinya (FTV). 



     Singkat cerita, ILY from 38.000 ft mengisahkan pertemuan Aletta (Michelle Ziudith) dan Arga (Rizky Nazar) di atas pesawat dari Jakarta menuju Bali yang berujung pada perkenalan unik karena ada sosok remaja alay (Lionil Hendrik) yang mengganggu Aletta sebelum lepas landas pesawat. Sampai di Bali, Aletta yang sedang menunggu taksi pun secara kebetulan bertemu dengan Arga yang menawarkan untuk naik mobil menuju tujuannya secara bersamaan. Hingga akhirnya, belum sempat mengucapkan kata ‘terima kasih’, Aletta pun menemui Arga di kantornya dan menawarkan diri untuk menjadi host program jelajah alam yang sedang diproduksi Arga.
      Kisah asmara pun dimulai saat mereka menjalani syuting di tempat-tempat eksotis di Indonesia. Ini yang membuat aku merasa takjub dan langsung membuat starting expectation bahwa film ini akan menampilkan begitu banyak adegan travelling penuh romansa. Aku pun langsung tertarik untuk mengikuti adegan demi adegan selanjutnya.

     Jajaran pemain yang mengisi film ini memang sudah pas. Popularitas pemeran utama yang sudah ternama sebagai pasangan kekasih dalam dunia nyata mampu menarik perhatian jutaan mata penonton Indonesia. Menurut aku, Michelle Ziudith dan Rizky Nazar tidak akan pernah terlihat perkembangan aktingnya, jika mereka hanya bisa berdialog tanpa berakting karakter. Karier mereka sebagai selebritis akan terlihat flat seperti itu saja. 
    Penghayatan karakter yang diperankan setiap tokoh justru coba didalami oleh Tanta Ginting (sebagai Jonah) yang antagonis. Ada Derby Romeo (sebagai Rimba) yang juga berusaha mencari perhatian Aletta, dan Ricky Cuaca (Bugi) yang selalu menghadirkan tawa dan mencairkan suasana bioskop yang tak terduga. Walaupun hanya terlihat pembentukan karakter yang sedikit saja tidak terlalu kuat untuk konteks sebuah penokohan film layar lebar. Selain itu, tersisa beberapa figuran crew yang seharusnya terlibat saat adegan syuting di hutan hanya terlihat berkeliaran di tenda saja bukan saat pengambilan gambar.

      Untuk masuk ke ranah layar lebar, film ini mencoba berusaha tampil beda dengan syuting di lokasi alam terbuka hingga penggunaan special effects demi menguatkan cerita. Produksi film arahan Asep Kusdinar ini pun memilih Taman Nasional Baluran, di Bali dan hutan di Lumajang, Jawa Timur. Namun, visualisasi eksotisme alam dan pemandangan cantik yang ditawarkan gagal dieksekusi karena kualitas gambar hanya menjadi bagian dari transisi. Padahal, tata kamera sudah mencoba mengambil dengan angle yang berbeda.
       Special effects juga coba diset oleh tim produksi saat adegan kecelakaan pesawat terbang yang mengalami gangguan karena cuaca buruk. Tapi, tak didukung dengan pencahayaan yang kurang sinematis dan make up effect saat kecelakaan (bekas luka) yang masih standar seperti itu saja. Semua unsur artistik pun hanya tampak unggul di awal melalui point of view yang menjadi point of interest. Tak mampu dipertahankan sampai akhir film. Selebihnya, aku hanya bisa mengikuti quote-quote BaPer yang tercipta pada dialog, meskipun semua terkesan FTV bangeettt . . .
      Tata kamera juga coba menampilkan change focus camera technique di awal cerita. Beberapa diantaranya justru hadir merusak visual karena seharusnya penggunaan tehnik kamera itu memiliki motivasi gambar atau alasan yang kuat untuk ditampilkan bukan untuk ditonjolkan. Efeknya, visual pun tak sejernih atau sebagus film-film Screenplay sebelumnya. Mungkin saja penggunaan kamera drone dengan kualitas berbeda juga mengganggu keindahan gambar yang ditangkap lensa.

       Kabar yang didapat penulis dari berbagai netizen, film ini memang terinspirasi dari sebuah pesan bertuliskan 'I love you from 38.000 ft' yang diunggah ke media sosial oleh Khairunnisa, pramugari yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 di tahun 2014 silam. Namun, tim Screenplay menyatakan bahwa cerita film ini seutuhnya baru dan tidak berkaitan dengan kejadian nyata tersebut. Ini yang membuat aku sebagai penyuka film Indonesia based on true story kehilangan selera.
      Apalagi unsur penceritaan ILY from 38.000 FT tidak memperhatikan logika cerita. Banyak adegan yang terkesan kebetulan, muncul tiba-tiba. Plotnya pun menjadi biasa dan dialog terlontar basi untuk didengarkan. Penonton dibawa pada suatu titik perpisahan pasangan yang seharusnya sementara menjadi berkepanjangan tanpa kejelasan. Dilengkapi efek time lapse yang menyiksa aku sebagai penonton pada akhirnya.

      ILY from 38.000 ft memang tayang di bioskop saat moment yang tepat pada libur lebaran dan berhasil tembus jutaan pasang mata yang always booking full seat in the theater. Dan akhirnya, aku memang gak suka sama endingnya.. kenapa mereka harus hidup bahagia dan semua kisah cinta terlihat kebetulan semata…

      Overall, ekspetasi tertinggi aku terhadap film itu adalah sebuah cerita. Jika cerita kuat, film akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Teknis juga penting, tapi bukan segalanya. I Love You from 38.000 Ft sudah memiliki modal untuk bercerita hanya saja terpaku pada segmentasi yang ada. Film ini juga sudah berusaha memperkuat teknis sinematografi yang berbeda, namun gagal pada eksekusi unsur kreatif yang seharusnya bisa banyak tercipta. Setidaknya, ILY from 38.000 FT, telah menjadi film hiburan pada moment lebaran di Indonesia. #ApresiasiFilmIndonesia

Sabtu, 03 September 2016

Film Sabtu Bersama Bapak ; Menjalin Hubungan Tak Bermakna Tanpa Sekuat Novelnya

Lebaran tahun ini, penikmat film lokal digempur oleh lima film sekaligus. Empat di antaranya bahkan rilis ditanggal yang sama. Dari banyak opsi tersebut, saya pun memiliki misi untuk menikmati semuanya.

Apakah kesuksesan sebuah novel best seller mampu diikuti keberhasilan filmnya?  

Berikut ini kritik saya terhadap film Sabtu Bersama Bapak 

(produksi Max Pictures, 2016).

Premis yang dibawakan memang minor, calon penonton sudah pasti tau kalau film yang akan mereka tonton adalah film yang akan sedih mengharu-biru. Tapi ternyata tidak. Sabtu Bersama Bapak punya jalinan cerita yang tak sekedar mengurai air mata penonton karena kesedihan yang ditimbulkan, namun juga air mata karena tertawa tak tertahankan (in a good way). Monty Tiwa, sang sutradara memang sudah berkali-kali mencatatkan karya filmnya dengan balutan komedi yang asyik. Begitupun juga ditampilkan di film ini. Epic binggo.

Sabtu Bersama Bapak merupakan film yang dirilis dari adaptasi novel super laris karangan Adhitya Mulya yang berjudul sama. Ini bukan kisah keseharian seorang Bapak setiap hari sabtu, tapi lebih dari itu karena Bapak Gunawan Garnida (yang diperankan Abimana Aryasatya) telah divonis hanya akan hidup satu tahun lagi akibat penyakit kanker yang dideritanya.
Untuk mengisi kekosongan sosok ayah setelah nanti beliau tiada, sang Bapak meninggalkan pesan dalam bentuk ratusan kaset video berisi nasehat kepada istri (yang diperankan Ira Wibowo) dan kedua anaknya, Satya (yang diperankan Arifin Putra) dan Cakra (yang diperankan Deva Mahenra). Satu kasetnya hanya boleh disaksikan bersama seminggu sekali, setiap hari Sabtu setelah kedua anaknya pulang dari sekolah. Itulah makna kiasan ‘Sabtu bersama Bapak’ yang diambil sebagai judul film ini. Tapi, sayangnya judul tersebut tidak mampu direpresentasikan dengan baik pada adegan-adegan dalam film tersebut. Penonton pun pasti bisa menghitung berapa kali video yang diwariskan oleh bapaknya tersebut diputar saat hari sabtu itu tiba.
Kemunculan Bapak lewat kaset video memang terhitung sedikit, jika dibandingkan dengan novelnya. Peran video Bapak lebih berat ke cerita Satya dibandingkan Cakra, yang lebih banyak mengingat atau bergumam sendiri. Petuah Bapak, baik itu lewat video atau flashback kenangan, nyaris tidak ada dicerita Cakra. Perjuangan seorang suami sekaligus bapak untuk meninggalkan pesan dan kesan bagi kedua anak dan istrinya pun nyaris tak terungkap mapan. Sebuah hal yang disayangkan karena Abimana sendiri memerankan karakter tersebut dengan sangat baik.

Adegan tangis dan sedih menjadi pembuka di film ini. Opening scene tampak Pak Gunawan dan Bu Itje sedang bersedih didalam kamar. Pak Gunawan memegang surat dari rumah sakit tentang penyakit yang dideritanya sehingga membuat hidupnya di dunia sudah tidak akan lama lagi. 
Cerita bergulir saat Satya dan Cakra tumbuh dewasa dan menjadi sosok pria sukses dengan karier masing-masing. Mereka menjadi pribadi yang bertolak belakang namun keduanya bisa menjadi saudara kandung yang menjaga satu sama lain dan tak lupa menjaga Ibu mereka agar tetap tersenyum. Satya pun telah menikah dengan Risa (yang diperankan Acha Septriasa), punya dua orang anak, dan tinggal di Paris. Ia memiliki masalah dalam membina keluarga karena istrinya, Risa merasakan bahwa diri Satya terlalu kaku dalam mengikuti pesan-pesan Bapaknya. Sementara Cakra memiliki karier gemilang sebagai banker di Jakarta yang setiap weekend pulang ke Bandung demi menemani ibunya. Kesuksesan Cakra justru membuat Ia selalu kikuk saat berhadapan dengan wanita yang disukainya. Itulah kisah keduanya yang hidup terpisah dengan konfliknya masing-masing. Satya dan Risa yang membangun rumah tangga, sedangkan Cakra yang sibuk mencari pasangan hidup.

Ketika membaca novelnya, lakon Cakra mencari cinta mudah dibayangkan format filmnya. Namun sulit membayangkan kisah rumah tangga Satya dan Risa yang pelan dan terkesan tanpa ujung menjadi sebuah film. Belum lagi, penceritaan dua tokoh dalam satu buku terlihat lebih mudah ketimbang dalam satu film yang punya durasi terbatas. Apakah akan ada satu cerita yang dikalahkan difilmnya atau bagaimana kelanjutannya?

Tidak adil rasanya jika harus membandingkan film dengan novel secara eksplisit, namun dua hal itu harus aku lakukan apalagi saat duduk manis bersama seorang kakak angkat bernama Sugiharti didalam ruang bioskop CGV Blitx, Central Park, hari Minggu tanggal 16 Juli 2016 lalu. Hingga film selesai, aku pun masih merasakan film yang begitu banyak ambigu dan menjadi tidak seru. Penonton memang diajak mengikuti alur emosi yang naik turun dalam setiap ceritanya. Tetapi, film ini belum menempelkan rasa yang membekas bagi siapa saja yang melihatnya.
Dalam film ini, penonton tak dibuat begitu penasaran kenapa bisa begini dan begitu. Hanya sedikit adegan yang juga tersisa saat apa yang dialami oleh Bapak ketika merekam videonya. Padahal, plot seperti ini yang ditunggu karena membayangkannya saja seru dan menyenangkan apabila Bapak merekam video-videonya lalu diputar ulang dengan suasana penuh kenangan.

Dalam filmnya, ada beberapa adegan plus yang sengaja ditambahkan agar cerita Satya di novel semakin menarik. Terlihat upaya tim produksi membuat pengembangan konflik tanpa menghilangkan esensi kisah Satya. Pemicu konflik dalam film masih terbilang logis dan penonton bisa langsung ngegas menyimak cerita menuju babak demi babak berikutnya sehingga bobot cerita tidak berkurang.
Plot dalam film ini memang beragam, menarik, dan dieksekusi dengan baik. Tentunya semua ini ditunjang oleh seluruh elemen, baik teknis, naskah, hingga ke performa akting para pemain. Selain itu, unsur drama keluarga, romansa dan komedi juga menjadi serbuk bumbu tersendiri untuk menikmati film ini. Alhasil film ini cocok ditonton remaja ataupun kaum dewasa.

Musik ilustrasi juga memiliki peran tersendiri dalam film yang membuat film menjadi lebih hidup. Artinya, irama yang 'senada' dengan visual dalam film Sabtu Bersama Bapak terdengar nyaman dan ditempatkan disaat-saat yang tepat. Baik saat adegan emosional, menyentuh, hingga saat adegan konyol, semuanya bagus.
Soundtrack dari jebolan Mamamia tahun 2008, Wizzy Williana yang berjudul I'm Sorry terbilang kece. Keindahan lagu sangat berkontribusi mendukung emosi dan cerita dalam film ini. Selain itu, lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Iwan Fals yang berjudul Cinta juga meninggalkan kesan mendalam ketika usai menonton film ini.
Lagu I’m Sorry merupakan karya dari Amir Gita Pradana yang memiliki komposisi musik sederhana dengan dominan ketukan piano, sehingga vokal Wizzy yang jernih bisa terdengar jelas. Lagu ini hadir saat adegan Cakra merasa dirinya tidak pandai memikat hati perempuan yang disukainya meskipun anak buahnya terus mendukungnya. Liriknya sebenarnya sederhana, tapi penempatan lagu ini dalam sebuah adegan di film menurut aku pas sehingga membuat penonton ikut merasa sentimentil. Sedangkan lagu Cinta memiliki lirik yang lugas namun maknanya cukup dalam. Lagu Cinta ini seolah menggambarkan emosi yang berkecamuk dalam hati Gunawan Garnida sebelum ia rela dan pasrah usianya di bumi yang tak lama lagi. Sambil mendengar kedua lagu tersebut, aku bisa membayangkan adegan dan alur kisah dalam film Sabtu Bersama Bapak. Alhasil, soundtrack bisa menjadi media promosi dan pengingat kesan penonton terhadap sebuah film. 

Walaupun ada beberapa dialog yang dubbing, sehingga audio terkadang dibeberapa adegan ada yang kurang konsisten didengar, ada yang berubah suaranya, padahal masih di gambar, situasi yang sama, dan belum berpindah posisi. Mungkin saja, penata audio mengalami kegagalan saat proses mixing. Semua unsur tata suara tertutup oleh pemilihan lagu yang berkesan.
  
Kedua komponen lagu dan cerita telah dicoba eksekusi sama baiknya oleh sang sutradara, tidak timpang sebelah istilahnya. Kisah kakak adik ini diberi porsi serupa dan mencuri perhatian sama beratnya. Transisi atau cut to cut antar cerita juga mulus, tidak membuat penonton bingung, ini cerita mana atau punya siapa. Karakter kuat serta latar yang jauh beda memegang peranan penting dalam halusnya transisi ini.
Bicara soal karakter, aku puas dengan beberapa pemeran di film ini yang diisi jajaran aktor dan aktris kelas atas yang memang sudah memiliki jam terbang di layar lebar berkualitas. Mereka mampu menunjukkan performa aktingnya dengan memainkan roda cerita secara pas. Cocok dengan bayangan aku saat membaca novelnya dulu. Bapak yang bijak, Satya yang keras, Risa yang anggun, Cakra yang canggung, serta Ayu yang kalem. Semuanya pas diperankan oleh pemainnya masing-masing.
Abimana jadi aktor favorit aku di film ini. Aura kebapakannya terasa banget lewat getar suara serta tatapan mata yang keras namun menenangkan. Seolah Ia berperan sebagai bapak yang bijak dengan gaya bicara yang penuh karisma. Ia berhasil menunjukkan wibawa dan menyampaikan kepada penonton bahwa Ia sosok bapak yang dibanggakan keluarga.
Hanya saja, seorang Ira Wibowo masih tidak sanggup membuat aku sebagai penonton berempati kepadanya sebagai seorang ibu. Kisah ibu Itje yang single parent setelah kepergian suaminya dan tidak pernah menikah lagi, membesarkan dua anak lelaki tentulah bukan hal yang mudah. Tak ada beban diraut wajah seorang Ira Wibowo yang membuat suasana semakin terenyuh. Ia masih belum mampu mengimbangi akting Abimana sebagai seorang bapak. Ia hanya tampil sebagai sosok Ibu yang menyayangi anak-anaknya.
Akting Arifin dan Acha juga jagoan aku, apalagi ketika adegan berantem. Pemilihan kata-kata yang natural dalam dialog membuat adegan fighting dalam rumah tangga mereka itu believeable. Adegan dibuat pas secara alami dan seolah terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi sebuah scene dramatis yang ‘dalam’ dan penuh emosional. Sebuah pujian yang layak disematkan kepada sutradara yang telah mengarahkan mereka dalam film ini, Monty Tiwa.
Meskipun dibeberapa part, Arifin Putra tampak berlebihan. Ada satu adegan yang paling saya suka dan menyentuh hati yaitu ketika Satya dimarahi oleh Bapaknya dalam mimpi. Waktu itu hubungan Satya dengan istrinya sedang ada masalah besar, lalu tiba-tiba Satya bertemu bapaknya dimimpi. Satya dimarahi oleh bapaknya karena cara dia salah ketika memperlakukan keluarganya. Setelah pasangan suami istri berseteru lantas Satya seolah mendapatkan nasehat yang luar biasa dari Bapaknya. Nasehat yang sangat penting sekali menurut aku sebagai anak laki-laki yang akan menjadi suami kelak.
Yang membuat dahi sedikit berkerut dari cerita Satya adalah pemeran Rian dan Miku, anak dari Satya dan Risa. Selain aktingnya kaku dan datar, rasanya dengan gen secakep itu, anak mereka harusnya tidak seperti itu fisiknya. Bisa jadi Risa bandel dan sering keluyuran malam-malam saat Satya dinas keluar kota. #LOL
Beberapa pemeran pembantu lain, termasuk yang di luar negeri, juga tak menunjukkan akting yang maksimal. Mereka tidak mampu mengimbangi akting karakter yang dilakukan para pemeran yang sudah memiliki cukup nama di perfilman Indonesia.

Well, anyway, cukup tentang karakternya. Mari kita beralih ke cerita Cakra. Deva Mahenra, terhitung pemain baru di layar lebar, namun performanya pada film Sabtu Bersama Bapak begitu memukau.
Seperti yang aku tulis di atas, cerita Cakra worry me less. Adegan demi adegan Cakra mencari cinta berputar disekitar kehidupan kantornya. And believe me, every single scene in the office is hillarious. Chemistry antara Cakra dengan dua anak buahnya, Firman (yang diperankan Ernest Prakasa) dan Wati (yang diperankan Jennifer Arnelita), membuat cerita Cakra selalu aku tunggu kemunculannya. Office jokes mereka jadi bumbu sampingan yang seperti menu utama buat aku.
Adegan paling kocak itu saat Cakra coba mengajak Ayu makan siang berdua untuk pertama kalinnya. Kikuknya Cakra dan pemilihan kata yang salah membuat adegan itu chaotic bingit. Sebuah kebodohan yang ditimpa kebodohan lainnya. Seperti rentetan kembang api di tengah desa yang sunyi. Menggelegar dan menyegarkan.

Meski begitu, aku mencatat ada beberapa kekurangan yang agak mengganggu. Karena ada dua cerita yang berjalan bersamaan (tiga, jika cerita sang ibu juga dihitung), konflik yang ada terasa tidak memuncak disaat bersamaan. Terkesan datar meski ada letupan-letupan meledak, namun sayangnya, dimomen berbeda.
Dialog cheesy antara Bapak dan Ibu juga jadi hal janggal tersendiri. Saat Satya dan Risa bisa beradu argumen dengan alami, chit chat antara Bapak dengan Ibu sedikit mengawang. Contohnya, gombalan Bapak saat Ibu sedang mengiris cabe. Gombalan yang membuat aku ingin membalasnya dengan kalimat, “Ah, bisa aje lu, Nying!.”

Overall, tampilan visual film Sabtu Bersama Bapak 'berbeda'. Coloringnya seperti film-film tahun 90an, dengan efek sedikit blur dan penambahan lens flare dibeberapa scene. Bagi sebagian orang, treatment seperti ini mengganggu. Padahal ini adalah style dari pembuat film. Jika penonton bisa membaca itu, style ini jadi menyenangkan. Film ini berusaha menunjukkan karakter secara look visual, dibandingkan film kebanyakan yang 'bermain aman' dengan look natural.

Tapi kalo ditanya apakah film ini berhasil mencapai tujuannya, maka jawaban aku adalah tidak. Alasannya, karena film ini telah melumpuhkan ekspetasi penonton yang akan berlarut sedih melihat kisah drama keluarga. Ada unsur parenting guide, namun tak begitu banyak menyita perhatian. Nyatanya, sulit sama sekali untuk sedih saat menonton film ini.

Film ini memang berhasil mengaduk emosi penonton sedemikian rupa namun untuk memaksa buliran air mata turun pasti masih bisa kita tahan. Hal ini terbukti dari beberapa teman yang memiliki ekspetasi lebih terhadap film ini. Ekspetasi mereka berharap bisa mendapatkan sosok kehadiran seorang bapak dan mendapatkan kembali kenangan demi kenangan nasehat dari seorang bapak karena mereka memang sudah lama ditinggal oleh bapaknya yang sudah meninggal. Namun, film ini ternyata tak mampu mengukir kenangan terindah itu karena pesan yang disampaikan tidak menyentuh ke perasaan mereka saat menonton.

            Bagi aku, film bukan sekedar media penyalur. Karakter yang diperankan harus memberi edukasi kepada penonton. Suatu perbincangan yang berisi rangkaian dialog dan dibahas dalam tuntutan adegan demi adegan dalam film harus membekas. Apa yang kita tonton itu mungkin saja dibawa pulang. Saya berharap film Indonesia bisa mengedukasi, paling tidak meninggalkan pesan moral untuk berbagai generasi karena film adalah karakter bangsa kita. Setidaknya, film ini cukup menarik, mengharukan, dan menghibur namun tidak bisa menjadi inspiratif* #ApresiasiFilmIndonesia