LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 22 Mei 2016

Tunjukkan Kepada Dunia Bahwa Kita Bisa Tinju Tinja




    <"> 


      Lebih dari 51 juta penduduk Indonesia masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) - nomor 2 terbanyak di dunia menurut Laporan gabungan WHO/UNICEF di tahun 2015, dan berdampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan, terutama pada anak-anak. Setiap jam, ada 15 sampai 22 anak di Indonesia yang meninggal akibat diare dan pneumonia yang bisa dihindari dengan kebersihan dan sanitasi yang baik (Levels & Trends in Child Mortality – Laporan 2014. Perkiraan dikembangkan oleh Inter-agency Group for Child Mortality Estimation PBB).

     Kemajuan dalam menangani isu ini telah berjalan dengan sangat baik, berkat upaya-upaya seperti program STBM dari Kementerian Kesehatan. Namun, kepedulian dan dukungan dari masyarakat masih sangat dibutuhkan dalam memberantas buang air besar sembarangan. Detil selengkapnya juga bisa dilihat di program PPSP, pendekatannya dan data pendukung. Terdapat juga forum untuk kolaborasi dan koordinasi seputar WASH yang komprehensif, Pokja AMPL.

Mereka tidak dapat bekerja sendirian, mereka membutuhkan bantuan kita semua!


       Program Tinju Tinja dijalankan oleh UNICEF untuk memberikan edukasi dan mengajak masyarakat membahas isu Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang kurang mendapat perhatian khalayak ramai. Sebagai langkah selanjutnya, gerakan Tinju Tinja pun diangkat menjadi suatu aksi nasional, dimana UNICEF mengajak masyarakat di seluruh bagian Indonesia untuk berpartisipasi aktif membebaskan Indonesia dari ancaman BABS dalam payung Aksi Nasional Tinju Tinja.

     Melalui Aksi Nasional Tinju Tinja, masyarakat Indonesia bebas berpartisipasi dengan cara dan gaya mereka sendiri, baik menyebarkan fakta-fakta seputar isu BABS, serta memberikan kontribusi melalui kreasi positif sebagai bentuk dukungan terhadap saudara kita di seluruh pelosok Indonesia dalam mencapai Indonesia bebas BABS. Apapun aksi dan kreasinya, partisipasi aktif kamu akan sangat berarti untuk Indonesia!

   
Bergabunglah dengan Aksi Nasional Tinju Tinja. Berikan aksimu untuk Indonesia. Bersama kita bebaskan Indonesia dari ancaman BABS! - See more at: http://www.tinjutinja.com/lihat/galeri-kontribusi/96

Sabtu, 21 Mei 2016

Berawal dari Pengangguran ; Menuju pada Wirausahawan

          Negara Republik  Indonesia telah memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan gigih yang dilakukan oleh para pahlawan. Kita sebagai warga negara Indonesia harus mengisi kemerdekaan ini dengan melaksanakan pembangunan disegala aspek kehidupan. Gerakan roda pembangunan yang dilakukan membutuhkan tenaga kerja sebagai modal utama. Jumlah dan komposisi tenaga kerja tersebut akan terus mengalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi (kependudukan).

            Sektor pembangunan ekonomi ini harus dilakukan secara merata agar penduduk tidak menumpuk di suatu daerah. Pemerataan penduduk tidak hanya dilakukan dengan pola pendekatan transmigrasi; yang hanya memindahkan penduduk dari daerah padat ke daerah kosong. Kita harus menerapkan pendekatan pembinaan kependudukan regional; yakni dengan meningkatkan pembangunan fisik di berbagai daerah. Berbagai tuntutan fisik itu membutuhkan dukungan kualitas mental, misalnya pola pengembangan diri yang diperoleh dari lembaga pendidikan. Inilah yang tampaknya harus diprioritaskan, karena akan berpengaruh pada mutu dan produktivitas Tenaga Kerja Indonesia. 
            Hampir semua negara di dunia ini, termasuk Indonesia; tidak mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup untuk menampung angkatan kerjanya. Kurangnya lapangan pekerjaan menjadi masalah yang harus ditangani dengan sungguh-sungguh. Alasannya, bekerja atau tidak bekerjanya seseorang berhubungan langsung dengan kesempatan orang mencari nafkah. Dengan bekerja, orang mendapat penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup diri sendiri dan keluarga.
            Sebenarnya pengangguran merupakan masalah pokok dalam suatu masyarakat modern. Jika tingkat pengangguran tinggi, sumber daya menjadi terbuang percuma dan tingkat pendidikan masyarakat akan merosot. Situasi ini menyebabkan kelesuan ekonomi yang berpengaruh pula pada emosi masyarakat serta kehidupan keluarga sehari-hari. Oleh karena itu, permasalahan pengangguran tidak hanya bisa diatasi oleh pemerintah, tetapi memerlukan dukungan dari pihak lain, seperti pihak swasta (perusahaan) dan individu yang bersangkutan. Masing-masing pihak perlu mengambil langkah konkret untuk memecahkan masalah pengangguran tersebut.
Salah satu langkah awalnya adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja atau masing-masing individu. Hal ini didasarkan pada kecenderungan dunia usaha saat ini yang menerima tenaga kerja siap pakai. Berarti, sebelum memasuki dunia kerja, seorang tenaga kerja harus memiliki kecakapan hidup (life skill) berupa tingkat pendidikan dan keterampilan tertentu. Jika hal demikian tidak terpenuhi, kita harus mengubah kembali pola pikir kita; yakni bukan mencari pekerjaan, tetapi kita harus bisa menciptakan pekerjaan.
Para pelaku usaha mikro dan kecil merupakan orang-orang yang mengalami masalah pengangguran struktural. Sumber daya manusia semacam ini mulai berpikir kreatif dengan membuka sektor usaha skala mikro atau kecil yang terus dikembangkan menuju skala besar sehingga mengarah pada jenis usaha padat karya. Melihat kenyataan ini, pengangguran yang terjadi atas adanya peralihan atau perubahan struktur maupun komposisi perekonomian tersebut telah diatasi dengan bijak.
Kini, globalisasi era modern di dunia dimulai dengan adanya globalisasi dibidang ekonomi khususnya perdagangan barang dan jasa antar negara. Perdagangan ini tidak lagi terjadi antar daerah atau antar wilayah di dalam suatu negara, melainkan sudah meluas menjadi antar negara bahkan antar benua. Berarti, barang produk suatu negara dapat dipasarkan di negara lain. Jalur perdagangan barang dan jasa antar negara ini diharapkan dapat dilakukan secara bebas tanpa adanya aturan-aturan yang membatasi terutama oleh negara. Dapat dikatakan, era perdagangan bebas ini berpengaruh pada pengembangan usaha bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk semakin meningkatkan skala usahanya menjadi lebih besar. 
Namun, di balik fenomena tersebut, kenyataan yang terjadi membuktikan bahwa pelaku usaha mikro dan kecil di Indonesia lebih bersifat pasif terhadap meluasnya ekonomi uang. Mereka tidak secara aktif memanfaatkan kesempatan ekonomi baru untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dan meningkatkan taraf hidup. Kenyataan yang kita lihat menunjukkan bahwa mereka hanya berusaha memperoleh sekadar tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimalnya.
Secara umum struktur ekonomi Indonesia rapuh karena basis ekonomi rakyat yang semakin melemah, sementara usaha-usaha besar banyak bermunculan. Tiga sektor utama di Indonesia yang kini sudah terpengaruh ciri ekonomi informal yang dominan adalah, perdagangan, transportasi, dan industri. Sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang semakin besar, tetapi produktivitasnya rendah. Oleh sebab itu, perekonomian Indonesia sebaiknya kembali ke basis ekonomi rakyat berdasarkan kenyataan-kenyataan yang sudah terbukti dari pengalaman.
Pada dasarnya, kebijakan ekonomi kurang mendukung pengembangan ekonomi lapisan bawah. Sebagai contoh yang jelas dan dapat dimengerti adalah skala usaha kecil (informal) terhadap sumber daya keuangan yang semakin kecil. Selain itu, skala usaha besar (formal); yang digeluti sedikit tenaga kerja justru menghasilkan nilai tambah yang besar. Sebaliknya, industri kecil dan rumah tangga dengan ciri informal yang kuat dan tenaga kerja yang pas-pasan menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih kecil. Sementara itu, dilapisan tengah tidak ada partisipasi ekonomi sehingga tidak ada kontribusi nilai tambah yang memadai. Jadi, dunia kerja yang meliputi proses industrialisasi yang melanda berbagai negara berkembang; selain menciptakan sederet keberhasilan, juga menimbulkan berbagai dampak yang tidak kalah peliknya. Salah satu masalah pelik tersebut adalah masalah kesempatan kerja dan kemiskinan.
Seperti yang kita ketahui bahwa pelaku usaha mikro dan kecil memiliki kemudahan dalam pengelolaan manajemennya. Hal ini memberikan makna bahwa pelaku usaha tersebut dapat mengemukakan dan menetapkan kebijakannya secara langsung kepada bawahan, tanpa melalui jalur birokratis. Pendirian usaha jenis ini juga relatif lebih mudah dan murah, begitu pula dengan penerapan usahanya. Maka, ketika pemilik atau pengusaha merasa bahwa bisnisnya sudah tidak menguntungkan lagi, ia dengan mudah dapat menutup perusahaannya.
Kelemahan utama skala usaha mikro ini adalah keterbatasan modal. Hal ini dikarenakan pemilik sekaligus adalah pengusaha; yang mana ia harus mendanai sendiri usahanya. Secara umum tidak ada pemisahan antara kekayaan pemilik dengan kekayaan perusahaan. Hal ini mengakibatkan goncangan pada perusahaan dengan mudah memperburuk keadaan keuangan pribadi pemilik. Salah satu kemungkinan untuk mengatasi kelemahan ini ialah dengan melakukan pinjaman atau kerjasama dengan sektor usaha lain yang lebih besar. 
 Agar proses pengembangan usaha bagi pelaku usaha mikro dan kecil menjadi lebih efisien dan efektif diperlukan suatu penggabungan horizontal antar badan usaha mikro dan kecil atau yang kita kenal dengan istilah concern. Penggabungan jenis ini dapat mengatasi masalah pembelanjaan di masing-masing badan usaha. Misalnya, beberapa perusahaan kerajinan tangan menyepakati pembelian bahan dasar produknya dalam partai besar sehingga memperoleh potongan harga.
Selain itu, salah satu solusi yang dapat tercipta yaitu dengan pendirian gabungan koperasi usaha kecil dan mikro yang dibentuk secara nasional untuk membantu para pelakunya terutama dalam pengadaan bahan baku dan pemasaran. Hal ini juga membutuhkan suatu tempat komunitas perdagangan untuk masing-masing jenis produk usaha mikro dan kecil.
Masalah-masalah yang sudah berkembang membuat kita peka dan berpikir kritis dalam menyikapinya. Setiap solusi yang telah diupayakan akan mengharuskan kita untuk introspeksi diri. Sedini mungkin, harus kita hindari keangkuhan egoisme diri sendiri. Hal ini mengupayakan agar setiap individu yang berperan sebagai pelaku usaha mikro dan kecil dapat memiliki peningkatan mutu diri yang lebih unggul disbanding individu lainnya. Peningkatan tersebut dapat dilakukan dengan cara, (1) membekali diri dengan berbagai keterampilan, keahlian, dan pengetahuan yang luas dengan aplikasi penerapan pada pengalaman-pengalaman kerja yang Ia geluti. (2) menanamkan jiwa wirausaha. Hal ini dilakukan untuk memantapkan kemandirian kita dalam menjadi entrepreneur yang berintegritas tinggi. Oleh sebab itu, ke depannya, kita dapat mengembangkan kemampuan atau bakat untuk mengenali peluang usaha, seperti membuat produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkan, dan mengatur permodalan operasi usahanya.
Sudah waktunya kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa dapat diukur dari keunggulan daya saing yang dimiliki di era liberalisasi perdagangan dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam. Keunggulan tersebut dapat kita kembangkan melalui dua cara. Pertama, dengan memproduksi barang atau jasa yang sedikit diproduksi oleh bangsa lain, tetapi dibutuhkan oleh khalayak ramai. Kedua, dengan menghasilkan barang atau jasa yang tingkat permintaannya tinggi dan telah diproduksi oleh bangsa-bangsa lain kemudian kita produksi kembali dengan lebih kompetitif. Karakteristik kompetitif dapat ditonjolkan melalui kualitas unggul, harga murah, dan volume produksi stabil. Maka dari itu, kita harus yakin bahwa Indonesia pasti bisa melakukan metode-metode tersebut terutama bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang bisa memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara bijak dan bertanggung jawab.
         Sebagai pelaku usaha kecil dan mikro, kita harus berani dan cerdas untuk menunjukkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif jenis usaha kita. Prioritas utama kita harus tergambar pada sikap kegigihan, keuletan, daya juang, serta kesederhanaan dalam keseharian hidup. Berbekal nilai-nilai ini, kita dapat membangun bisnis dari nol hingga menjadi pengusaha menengah dan besar disituasi krisis yang memanas. Jadi, prinsip kita ialah suatu keadaan krisis bukan bersifat memperlemah segalanya, melainkan memperkaya kecakapan dan mempertajam naluri bisnis kita.

Fenomena Simlacrum

'Simulation is characterized by a precession of the model, of all models around the merest fact the model come first. Facts no longer have any trajectory of their own, they arise at the intersection of the models; a single fact may even be engendered by all the models at once. Simulation is no longer that of a territory, a referential being or a substance. It is the generation by models of a real without origin or reality; a hyperreal. The territory no longer precedes the map, nor survives it. Henceforth, it is the map that precedes the territory precession of simulacra it is the map that engenders the territory and if we were to revive the fable today, it would be the territory whose shreds are slowly rotting across the map. It is the real, and not the map, whose vestiges subsist here and there, in the deserts which are no longer those of the Empire, but our own. The desert of the real itself' (Baudrillard, 1983:32)


         Jean Baudrillard dalam buku Simulations (1983) yang diterbitkan dalam edisi bahasa Inggris mengintrodusir sebuah karakter khas kebudayaan masyarakat barat dewasa ini. Menurutnya, kebudayaan barat dewasa ini adalah sebuah representasi dari dunia simulasi, yakni dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa referensi relasional yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang tercipta melalui proses produksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta melalui proses reproduksi.
Dalam kebudayaan simulasi, kedua tanda tersebut saling menumpuk dan terjalin untuk membentuk satu kesatuan. Tidak lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu atau yang semu. Semua menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari serangkaian nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri. Jadi, simulacra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.
Simulacra tidak memiliki acuan karena merupakan bagian duplikasi dari duplikasi, sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. Dalam ruang ini tidak dapat lagi dikenali, mana hasil produksi dan mana hasil reproduksi, mana objek dan mana subjek, atau mana penanda dan mana petanda.
Menurut Baudrillard[1], terdapat tiga tingkatan simulacra. Pertama, simulacra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. Simulacra pada tingkatan ini merupakan representasi dari relasi alamiah berbagai unsur kehidupan. Dalam tingkatan ini, realitas dunia dipahami berdasarkan prinsip hukum alam, dengan ciri ketertiban, keselarasan, hierarki alamiah serta bersifat transenden. Alam menjadi pendukung utama sekaligus determinan kebudayaan. Tanda-tanda yang diproduksi dalam orde ini adalah tanda-tanda yang mengutamakan integrasi antara fakta dan citra secara serasi dan seimbang. Hal ini berkaitan erat dengan kehendak manusia zaman itu untuk mempertahankan struktur dunia yang alamiah. Dengan demikian, prinsip dominan yang menjadi ciri simulacra tingkat pertama adalah prinsip representasi.
Kedua, simulacra yang berlangsung seiring dengan perkembangan era industrialisasi. Pada tingkatan ini, telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. Objek kini bukan lagi tiruan yang berjarak dari objek asli, melainkan sepenuhnya sama persis seperti yang asli. Dengan kemajuan teknologi reproduksi mekanik, prinsip komoditi dan produksi massa menjadi ciri dominan era simulacra tingkat kedua.
Ketiga, simulacra yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Simulacra pada tingkatan ini merupakan wujud tanda, citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. Selanjutnya dalam mekanisme simulasi, manusia dijebak dalam ruang realitas yang dianggap nyata, padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Dengan contoh yang gampang Baudrillard menggambarkan dunia simulasi dengan analogi peta. Menurutnya, bila dalam ruang nyata, sebuah peta merupakan representasi dari suatu wilayah, dalam mekanisme simulasi yang terjadi adalah sebaliknya. Peta mendahului wilayah.
Realitas sosial, budaya, bahkan politik, dibangun berlandaskan model-model yang telah dibuat sebelumnya. Dalam dunia simulasi, bukan realitas yang menjadi cermin kenyataan, melainkan model-model[2]. Boneka Barbie, tokoh Rambo, selebritis syahrini, film india, telenovela, iklan televisi, Doraemon atau Mickey Mouse adalah model-model acuan nilai dan makna sosial budaya masyarakat dewasa ini. Inilah era yang disebut Baudrillard sebagai era simulasi.
Sebagai contoh, wacana simulasi yang menjadi ruang pengetahuan telah dikonstruksikan oleh iklan televisi, di mana manusia mendiami suatu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, atau yang benar dengan yang palsu, menjadi sangat tipis. Manusia hidup dalam dunia maya dan khayal. Media lebih nyata dari pengetahuan sejarah dan etika, namun sama-sama membentuk sikap manusia.
Dalam era simulasi ini, realitas tak lagi memiliki eksistensi. Realitas telah melebur menjadi satu dengan tanda, citra dan model-model reproduksi. Tidak mungkin lagi kita menemukan referensi yang real, membuat pembedaan antara representasi dan realitas, citra dan kenyataan, tanda dan ide, serta yang semu dan yang nyata. Semua yang terlihat hanyalah campur aduk diantara semuanya.
            Dalam realitas simulasi seperti ini, manusia tak lebih sebagai sekumpulan massa mayoritas yang diam, yang menerima segala apa yang diberikan padanya. Dalam bukunya In The Shadow of the Silent Majorities (1982), Baudrillard menganalogikan kumpulan massa yang diam ini sebagai lubang hitam, black hole, dimana berbagai hal informasi, sejarah, kebenaran, nilai moral, nilai agama terserap ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas apapun juga.
            Kenyataannya, sifat simulasi dalam media televisi telah mampu menyuntikkan makna yang seolah-olah ada pada kehidupan nyata, meskipun sebenarnya hanyalah sebuah fantasi atau realisme semu. Film, berita, telenovela, video clip, iklan, tayangan olahraga, talk show ataupun tayangan kesenian tradisional ditonton sebagai tontonan yang semata untuk dinikmati tanpa harus bersusah payah berpikir kritis. 
         Dalam ruang semu televisi, penonton seolah didaulat sebagai subjek otonom yang dapat memilih atau menyeleksi suguhan apa yang akan ditontonnya. Mereka dapat memindahkan dan menciptakan realitas dari tayangan yang satu ke tayangan lain tanpa adanya referensi tunggal yang saling berkaitan. Dari berita politik tentang kenaikan BBM, ke sinetron-sinetron bernuansa Bollywood, lalu berpindah lagi ke film drama Inggris yang bersetting abad ke-18 M, kemudian menonton kembali tayangan video clip Katy Perry, lalu kembali menyaksikan berita gempa bumi di Nepal dan seterusnya. Ruang dan waktu seolah terlipat dalam sebuah kotak kaca yang bernama televisi. Sifat fragmentasi dalam dunia semu televisi inilah dunia yang terpotong-potong, durasi pendek atau panjang, berubah dan berpindah yang menjadikan para penontonnya terbuai oleh mitos tentang subjek yang otonom. Padahal, menurut Baudrillard, semua ini hanyalah mistifikasi yang dijejalkan ideologi kapitalisme demi produksi dan konsumsi. Kebenaran yang sesungguhnya, bahwa pilihan dan otonomi penonton televisi sebenarnya tak lebih dari pilihan semu. Otonomi yang dibatasi dan diatur oleh pilihan yang sudah ada[3]. Penonton, dalam wacana televisi, tak lebih dari objek mengalirnya berbagai fakta, citra, impian dan fantasi, tanpa memiliki jati diri yang hakiki, sebuah terminal dari berbagai jaringan tanda-tanda.
            Dalam wacana televisi, penonton dengan demikian tak lebih dari sekumpulan mayoritas yang diam[4]. Itulah mengapa tayangan siaran langsung sepakbola tetap ditunggu dan ditonton meskipun harus menunggu hingga tengah malam. Menurut Baudrillard, hal ini karena televisi sama sekali tidak berpretensi menawarkan makna luhur atau transenden, kecuali ecstasy dan kedangkalan ritual.
Kebudayaan industri di atas menyamarkan jarak antara fakta dan informasi, antara informasi dan entertainment, antara entertainment dan ekses-ekses politik. Masyarakat tidak sadar akan pengaruh simulasi dan tanda (signs/simulacra). Hal ini membuat kita kerap kali berani dan ingin mencoba hal yang baru yang ditawarkan oleh keadaan simulasi (membeli, memilih, bekerja dan sebagainya). Teori ekonomi Marx, yang mengandung “nilai guna” digunakan oleh Baudrillard dalam menelaah teori produksi dan didasarkan pada semiotik yang menekankan pada “nilai tanda”. Jean Baudrillard membantah bahwa kebudayaan postmodern kita adalah dunia tanda-tanda yang membuat hal yang fundamental – mengacu pada kenyataan – menjadi kabur atau tidak jelas.
            Dalam bukunya Symbolic Exchange and Death (1976) Baudrillard menyatakan bahwa sejalan dengan perubahan struktur masyarakat simulasi, telah terjadi pergeseran nilai-tanda dalam masyarakat kontemporer dewasa ini yakni dari nilai guna dan nilai tukar ke nilai tanda dan nilai simbol. Ia menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumeristik dewasa ini, nilai guna dan nilai tukar, seperti disarankan Marx, sudah tidak lagi bisa diyakini.
            Kini, menurut Baudrillard, adalah era kejayaan nilai tanda dan nilai simbol yang ditopang oleh meledaknya citra dan makna oleh media massa dan perkembangan teknologi. Jika dikaitkan dengan pernyataan Marx, terdapat dua nilai tanda dalam sejarah kebudayaan manusia yakni, nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value). Nilai guna merupakan nilai asli yang secara alamiah terdapat dalam setiap objek. Berdasarkan manfaatnya, setiap objek dipandang memiliki guna bagi kepentingan manusia. Inilah nilai yang mendasari bangunan kebudayaan masyarakat awal. Selanjutnya dengan perkembangan kapitalisme, lahir nilai baru yakni nilai tukar. Nilai tukar dalam masyarakat kapitalis memiliki kedudukan penting karena dari sanalah lahir konsep komoditi. Dengan konsep komoditi, segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai tukarnya.
            Dalam wacana simulasi, manusia mendiami ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis. Dunia-dunia buatan semacam Disneyland, Universal Studio, China Town, Las Vegas atau Beverlly Hills, yang menjadi model realitas semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Lewat televisi, film dan iklan, dunia simulasi tampil sempurna. Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi semuanya lebur menjadi satu dalam keterkaitan tanda[5].
            Simulasi akan menciptakan suatu kode, yaitu cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan dapat disampaikan dari seseorang kepada orang yang lain[6]. Dalam dunia simulasi, identitas seseorang tidak lagi ditentukan oleh dan dari dalam dirinya sendiri. Identitas kini lebih ditentukan oleh konstruksi tanda, citra dan kode yang membentuk cermin bagaimana seorang individu memahami diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. Lebih lanjut, realitas-realitas ekonomi, politik, sosial dan budaya diatur oleh logika simulasi ini, dimana kode dan model-model menentukan bagaimana seseorang harus bertindak dan memahami lingkungannya.
           Saat ini, hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat timur telah dipengaruhi oleh masyarakat barat yang dituntun oleh logika ekonomi kapitalis yang menawarkan keterbukaan, kebaruan, perubahan dan percepatan konstan. Dalam keadaan demikian, persoalan gaya hidup, mode dan penampilan menjadi nilai baru yang menggantikan nilai kebijaksanaan, kearifan dan kesederhanaan. Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang penciptaan kenyataan melalui model konseptual atau sesuatu yang berhubungan dengan “mitos” yang tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi faktor penentu pandangan kita tentang kenyataan. Segala yang dapat menarik minat manusia seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lainnya ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model yang ideal, disinilah batas antara simulasi dan kenyataan menjadi tercampur aduk sehingga menciptakan hyper reality dimana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.




[1] Jean Baudrillard. Simulations. New York: Telos Press. 1983 hal 54-56

[2] Jean Baudrillard. Cool Memories. New York: Telos Press. 1987 hal 17

[3] Ibid. 16

[4] Baudrillard, op.cit., 19.

[5] Baudrillard, op.cit., 33.


[6] Yasraf Amir Piliang. Sebuah Dunia yang Dilipat. Bandung: Mizan. 1998 hal 13