LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Sabtu, 03 September 2016

Film Sabtu Bersama Bapak ; Menjalin Hubungan Tak Bermakna Tanpa Sekuat Novelnya

Lebaran tahun ini, penikmat film lokal digempur oleh lima film sekaligus. Empat di antaranya bahkan rilis ditanggal yang sama. Dari banyak opsi tersebut, saya pun memiliki misi untuk menikmati semuanya.

Apakah kesuksesan sebuah novel best seller mampu diikuti keberhasilan filmnya?  

Berikut ini kritik saya terhadap film Sabtu Bersama Bapak 

(produksi Max Pictures, 2016).

Premis yang dibawakan memang minor, calon penonton sudah pasti tau kalau film yang akan mereka tonton adalah film yang akan sedih mengharu-biru. Tapi ternyata tidak. Sabtu Bersama Bapak punya jalinan cerita yang tak sekedar mengurai air mata penonton karena kesedihan yang ditimbulkan, namun juga air mata karena tertawa tak tertahankan (in a good way). Monty Tiwa, sang sutradara memang sudah berkali-kali mencatatkan karya filmnya dengan balutan komedi yang asyik. Begitupun juga ditampilkan di film ini. Epic binggo.

Sabtu Bersama Bapak merupakan film yang dirilis dari adaptasi novel super laris karangan Adhitya Mulya yang berjudul sama. Ini bukan kisah keseharian seorang Bapak setiap hari sabtu, tapi lebih dari itu karena Bapak Gunawan Garnida (yang diperankan Abimana Aryasatya) telah divonis hanya akan hidup satu tahun lagi akibat penyakit kanker yang dideritanya.
Untuk mengisi kekosongan sosok ayah setelah nanti beliau tiada, sang Bapak meninggalkan pesan dalam bentuk ratusan kaset video berisi nasehat kepada istri (yang diperankan Ira Wibowo) dan kedua anaknya, Satya (yang diperankan Arifin Putra) dan Cakra (yang diperankan Deva Mahenra). Satu kasetnya hanya boleh disaksikan bersama seminggu sekali, setiap hari Sabtu setelah kedua anaknya pulang dari sekolah. Itulah makna kiasan ‘Sabtu bersama Bapak’ yang diambil sebagai judul film ini. Tapi, sayangnya judul tersebut tidak mampu direpresentasikan dengan baik pada adegan-adegan dalam film tersebut. Penonton pun pasti bisa menghitung berapa kali video yang diwariskan oleh bapaknya tersebut diputar saat hari sabtu itu tiba.
Kemunculan Bapak lewat kaset video memang terhitung sedikit, jika dibandingkan dengan novelnya. Peran video Bapak lebih berat ke cerita Satya dibandingkan Cakra, yang lebih banyak mengingat atau bergumam sendiri. Petuah Bapak, baik itu lewat video atau flashback kenangan, nyaris tidak ada dicerita Cakra. Perjuangan seorang suami sekaligus bapak untuk meninggalkan pesan dan kesan bagi kedua anak dan istrinya pun nyaris tak terungkap mapan. Sebuah hal yang disayangkan karena Abimana sendiri memerankan karakter tersebut dengan sangat baik.

Adegan tangis dan sedih menjadi pembuka di film ini. Opening scene tampak Pak Gunawan dan Bu Itje sedang bersedih didalam kamar. Pak Gunawan memegang surat dari rumah sakit tentang penyakit yang dideritanya sehingga membuat hidupnya di dunia sudah tidak akan lama lagi. 
Cerita bergulir saat Satya dan Cakra tumbuh dewasa dan menjadi sosok pria sukses dengan karier masing-masing. Mereka menjadi pribadi yang bertolak belakang namun keduanya bisa menjadi saudara kandung yang menjaga satu sama lain dan tak lupa menjaga Ibu mereka agar tetap tersenyum. Satya pun telah menikah dengan Risa (yang diperankan Acha Septriasa), punya dua orang anak, dan tinggal di Paris. Ia memiliki masalah dalam membina keluarga karena istrinya, Risa merasakan bahwa diri Satya terlalu kaku dalam mengikuti pesan-pesan Bapaknya. Sementara Cakra memiliki karier gemilang sebagai banker di Jakarta yang setiap weekend pulang ke Bandung demi menemani ibunya. Kesuksesan Cakra justru membuat Ia selalu kikuk saat berhadapan dengan wanita yang disukainya. Itulah kisah keduanya yang hidup terpisah dengan konfliknya masing-masing. Satya dan Risa yang membangun rumah tangga, sedangkan Cakra yang sibuk mencari pasangan hidup.

Ketika membaca novelnya, lakon Cakra mencari cinta mudah dibayangkan format filmnya. Namun sulit membayangkan kisah rumah tangga Satya dan Risa yang pelan dan terkesan tanpa ujung menjadi sebuah film. Belum lagi, penceritaan dua tokoh dalam satu buku terlihat lebih mudah ketimbang dalam satu film yang punya durasi terbatas. Apakah akan ada satu cerita yang dikalahkan difilmnya atau bagaimana kelanjutannya?

Tidak adil rasanya jika harus membandingkan film dengan novel secara eksplisit, namun dua hal itu harus aku lakukan apalagi saat duduk manis bersama seorang kakak angkat bernama Sugiharti didalam ruang bioskop CGV Blitx, Central Park, hari Minggu tanggal 16 Juli 2016 lalu. Hingga film selesai, aku pun masih merasakan film yang begitu banyak ambigu dan menjadi tidak seru. Penonton memang diajak mengikuti alur emosi yang naik turun dalam setiap ceritanya. Tetapi, film ini belum menempelkan rasa yang membekas bagi siapa saja yang melihatnya.
Dalam film ini, penonton tak dibuat begitu penasaran kenapa bisa begini dan begitu. Hanya sedikit adegan yang juga tersisa saat apa yang dialami oleh Bapak ketika merekam videonya. Padahal, plot seperti ini yang ditunggu karena membayangkannya saja seru dan menyenangkan apabila Bapak merekam video-videonya lalu diputar ulang dengan suasana penuh kenangan.

Dalam filmnya, ada beberapa adegan plus yang sengaja ditambahkan agar cerita Satya di novel semakin menarik. Terlihat upaya tim produksi membuat pengembangan konflik tanpa menghilangkan esensi kisah Satya. Pemicu konflik dalam film masih terbilang logis dan penonton bisa langsung ngegas menyimak cerita menuju babak demi babak berikutnya sehingga bobot cerita tidak berkurang.
Plot dalam film ini memang beragam, menarik, dan dieksekusi dengan baik. Tentunya semua ini ditunjang oleh seluruh elemen, baik teknis, naskah, hingga ke performa akting para pemain. Selain itu, unsur drama keluarga, romansa dan komedi juga menjadi serbuk bumbu tersendiri untuk menikmati film ini. Alhasil film ini cocok ditonton remaja ataupun kaum dewasa.

Musik ilustrasi juga memiliki peran tersendiri dalam film yang membuat film menjadi lebih hidup. Artinya, irama yang 'senada' dengan visual dalam film Sabtu Bersama Bapak terdengar nyaman dan ditempatkan disaat-saat yang tepat. Baik saat adegan emosional, menyentuh, hingga saat adegan konyol, semuanya bagus.
Soundtrack dari jebolan Mamamia tahun 2008, Wizzy Williana yang berjudul I'm Sorry terbilang kece. Keindahan lagu sangat berkontribusi mendukung emosi dan cerita dalam film ini. Selain itu, lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi legendaris, Iwan Fals yang berjudul Cinta juga meninggalkan kesan mendalam ketika usai menonton film ini.
Lagu I’m Sorry merupakan karya dari Amir Gita Pradana yang memiliki komposisi musik sederhana dengan dominan ketukan piano, sehingga vokal Wizzy yang jernih bisa terdengar jelas. Lagu ini hadir saat adegan Cakra merasa dirinya tidak pandai memikat hati perempuan yang disukainya meskipun anak buahnya terus mendukungnya. Liriknya sebenarnya sederhana, tapi penempatan lagu ini dalam sebuah adegan di film menurut aku pas sehingga membuat penonton ikut merasa sentimentil. Sedangkan lagu Cinta memiliki lirik yang lugas namun maknanya cukup dalam. Lagu Cinta ini seolah menggambarkan emosi yang berkecamuk dalam hati Gunawan Garnida sebelum ia rela dan pasrah usianya di bumi yang tak lama lagi. Sambil mendengar kedua lagu tersebut, aku bisa membayangkan adegan dan alur kisah dalam film Sabtu Bersama Bapak. Alhasil, soundtrack bisa menjadi media promosi dan pengingat kesan penonton terhadap sebuah film. 

Walaupun ada beberapa dialog yang dubbing, sehingga audio terkadang dibeberapa adegan ada yang kurang konsisten didengar, ada yang berubah suaranya, padahal masih di gambar, situasi yang sama, dan belum berpindah posisi. Mungkin saja, penata audio mengalami kegagalan saat proses mixing. Semua unsur tata suara tertutup oleh pemilihan lagu yang berkesan.
  
Kedua komponen lagu dan cerita telah dicoba eksekusi sama baiknya oleh sang sutradara, tidak timpang sebelah istilahnya. Kisah kakak adik ini diberi porsi serupa dan mencuri perhatian sama beratnya. Transisi atau cut to cut antar cerita juga mulus, tidak membuat penonton bingung, ini cerita mana atau punya siapa. Karakter kuat serta latar yang jauh beda memegang peranan penting dalam halusnya transisi ini.
Bicara soal karakter, aku puas dengan beberapa pemeran di film ini yang diisi jajaran aktor dan aktris kelas atas yang memang sudah memiliki jam terbang di layar lebar berkualitas. Mereka mampu menunjukkan performa aktingnya dengan memainkan roda cerita secara pas. Cocok dengan bayangan aku saat membaca novelnya dulu. Bapak yang bijak, Satya yang keras, Risa yang anggun, Cakra yang canggung, serta Ayu yang kalem. Semuanya pas diperankan oleh pemainnya masing-masing.
Abimana jadi aktor favorit aku di film ini. Aura kebapakannya terasa banget lewat getar suara serta tatapan mata yang keras namun menenangkan. Seolah Ia berperan sebagai bapak yang bijak dengan gaya bicara yang penuh karisma. Ia berhasil menunjukkan wibawa dan menyampaikan kepada penonton bahwa Ia sosok bapak yang dibanggakan keluarga.
Hanya saja, seorang Ira Wibowo masih tidak sanggup membuat aku sebagai penonton berempati kepadanya sebagai seorang ibu. Kisah ibu Itje yang single parent setelah kepergian suaminya dan tidak pernah menikah lagi, membesarkan dua anak lelaki tentulah bukan hal yang mudah. Tak ada beban diraut wajah seorang Ira Wibowo yang membuat suasana semakin terenyuh. Ia masih belum mampu mengimbangi akting Abimana sebagai seorang bapak. Ia hanya tampil sebagai sosok Ibu yang menyayangi anak-anaknya.
Akting Arifin dan Acha juga jagoan aku, apalagi ketika adegan berantem. Pemilihan kata-kata yang natural dalam dialog membuat adegan fighting dalam rumah tangga mereka itu believeable. Adegan dibuat pas secara alami dan seolah terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi sebuah scene dramatis yang ‘dalam’ dan penuh emosional. Sebuah pujian yang layak disematkan kepada sutradara yang telah mengarahkan mereka dalam film ini, Monty Tiwa.
Meskipun dibeberapa part, Arifin Putra tampak berlebihan. Ada satu adegan yang paling saya suka dan menyentuh hati yaitu ketika Satya dimarahi oleh Bapaknya dalam mimpi. Waktu itu hubungan Satya dengan istrinya sedang ada masalah besar, lalu tiba-tiba Satya bertemu bapaknya dimimpi. Satya dimarahi oleh bapaknya karena cara dia salah ketika memperlakukan keluarganya. Setelah pasangan suami istri berseteru lantas Satya seolah mendapatkan nasehat yang luar biasa dari Bapaknya. Nasehat yang sangat penting sekali menurut aku sebagai anak laki-laki yang akan menjadi suami kelak.
Yang membuat dahi sedikit berkerut dari cerita Satya adalah pemeran Rian dan Miku, anak dari Satya dan Risa. Selain aktingnya kaku dan datar, rasanya dengan gen secakep itu, anak mereka harusnya tidak seperti itu fisiknya. Bisa jadi Risa bandel dan sering keluyuran malam-malam saat Satya dinas keluar kota. #LOL
Beberapa pemeran pembantu lain, termasuk yang di luar negeri, juga tak menunjukkan akting yang maksimal. Mereka tidak mampu mengimbangi akting karakter yang dilakukan para pemeran yang sudah memiliki cukup nama di perfilman Indonesia.

Well, anyway, cukup tentang karakternya. Mari kita beralih ke cerita Cakra. Deva Mahenra, terhitung pemain baru di layar lebar, namun performanya pada film Sabtu Bersama Bapak begitu memukau.
Seperti yang aku tulis di atas, cerita Cakra worry me less. Adegan demi adegan Cakra mencari cinta berputar disekitar kehidupan kantornya. And believe me, every single scene in the office is hillarious. Chemistry antara Cakra dengan dua anak buahnya, Firman (yang diperankan Ernest Prakasa) dan Wati (yang diperankan Jennifer Arnelita), membuat cerita Cakra selalu aku tunggu kemunculannya. Office jokes mereka jadi bumbu sampingan yang seperti menu utama buat aku.
Adegan paling kocak itu saat Cakra coba mengajak Ayu makan siang berdua untuk pertama kalinnya. Kikuknya Cakra dan pemilihan kata yang salah membuat adegan itu chaotic bingit. Sebuah kebodohan yang ditimpa kebodohan lainnya. Seperti rentetan kembang api di tengah desa yang sunyi. Menggelegar dan menyegarkan.

Meski begitu, aku mencatat ada beberapa kekurangan yang agak mengganggu. Karena ada dua cerita yang berjalan bersamaan (tiga, jika cerita sang ibu juga dihitung), konflik yang ada terasa tidak memuncak disaat bersamaan. Terkesan datar meski ada letupan-letupan meledak, namun sayangnya, dimomen berbeda.
Dialog cheesy antara Bapak dan Ibu juga jadi hal janggal tersendiri. Saat Satya dan Risa bisa beradu argumen dengan alami, chit chat antara Bapak dengan Ibu sedikit mengawang. Contohnya, gombalan Bapak saat Ibu sedang mengiris cabe. Gombalan yang membuat aku ingin membalasnya dengan kalimat, “Ah, bisa aje lu, Nying!.”

Overall, tampilan visual film Sabtu Bersama Bapak 'berbeda'. Coloringnya seperti film-film tahun 90an, dengan efek sedikit blur dan penambahan lens flare dibeberapa scene. Bagi sebagian orang, treatment seperti ini mengganggu. Padahal ini adalah style dari pembuat film. Jika penonton bisa membaca itu, style ini jadi menyenangkan. Film ini berusaha menunjukkan karakter secara look visual, dibandingkan film kebanyakan yang 'bermain aman' dengan look natural.

Tapi kalo ditanya apakah film ini berhasil mencapai tujuannya, maka jawaban aku adalah tidak. Alasannya, karena film ini telah melumpuhkan ekspetasi penonton yang akan berlarut sedih melihat kisah drama keluarga. Ada unsur parenting guide, namun tak begitu banyak menyita perhatian. Nyatanya, sulit sama sekali untuk sedih saat menonton film ini.

Film ini memang berhasil mengaduk emosi penonton sedemikian rupa namun untuk memaksa buliran air mata turun pasti masih bisa kita tahan. Hal ini terbukti dari beberapa teman yang memiliki ekspetasi lebih terhadap film ini. Ekspetasi mereka berharap bisa mendapatkan sosok kehadiran seorang bapak dan mendapatkan kembali kenangan demi kenangan nasehat dari seorang bapak karena mereka memang sudah lama ditinggal oleh bapaknya yang sudah meninggal. Namun, film ini ternyata tak mampu mengukir kenangan terindah itu karena pesan yang disampaikan tidak menyentuh ke perasaan mereka saat menonton.

            Bagi aku, film bukan sekedar media penyalur. Karakter yang diperankan harus memberi edukasi kepada penonton. Suatu perbincangan yang berisi rangkaian dialog dan dibahas dalam tuntutan adegan demi adegan dalam film harus membekas. Apa yang kita tonton itu mungkin saja dibawa pulang. Saya berharap film Indonesia bisa mengedukasi, paling tidak meninggalkan pesan moral untuk berbagai generasi karena film adalah karakter bangsa kita. Setidaknya, film ini cukup menarik, mengharukan, dan menghibur namun tidak bisa menjadi inspiratif* #ApresiasiFilmIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar