LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Minggu, 04 September 2016

ILY from 38.000 ft (I Love You from 38.000 Feet) ; Film Layar Lebar Nuansa Film Televisi



     Kesuksesan film drama roman Magic Hour (2015) dan London Love Story (2016) yang selalu berada dalam posisi jajaran film Indonesia terlaris tampaknya mendorong Screenplay Films untuk meningkatkan production value di film selanjutnya, ILY from 38.000 ft (I Love You from 38.000 Feet). Meski masih mengusung cerita cinta dengan target penonton remaja, film yang dibintangi pemeran utama yang masih sama dengan dua film sebelumnya ini menawarkan beberapa konflik dewasa ala Screenplay yang selalu ditayangkan versi film televisinya (FTV). 



     Singkat cerita, ILY from 38.000 ft mengisahkan pertemuan Aletta (Michelle Ziudith) dan Arga (Rizky Nazar) di atas pesawat dari Jakarta menuju Bali yang berujung pada perkenalan unik karena ada sosok remaja alay (Lionil Hendrik) yang mengganggu Aletta sebelum lepas landas pesawat. Sampai di Bali, Aletta yang sedang menunggu taksi pun secara kebetulan bertemu dengan Arga yang menawarkan untuk naik mobil menuju tujuannya secara bersamaan. Hingga akhirnya, belum sempat mengucapkan kata ‘terima kasih’, Aletta pun menemui Arga di kantornya dan menawarkan diri untuk menjadi host program jelajah alam yang sedang diproduksi Arga.
      Kisah asmara pun dimulai saat mereka menjalani syuting di tempat-tempat eksotis di Indonesia. Ini yang membuat aku merasa takjub dan langsung membuat starting expectation bahwa film ini akan menampilkan begitu banyak adegan travelling penuh romansa. Aku pun langsung tertarik untuk mengikuti adegan demi adegan selanjutnya.

     Jajaran pemain yang mengisi film ini memang sudah pas. Popularitas pemeran utama yang sudah ternama sebagai pasangan kekasih dalam dunia nyata mampu menarik perhatian jutaan mata penonton Indonesia. Menurut aku, Michelle Ziudith dan Rizky Nazar tidak akan pernah terlihat perkembangan aktingnya, jika mereka hanya bisa berdialog tanpa berakting karakter. Karier mereka sebagai selebritis akan terlihat flat seperti itu saja. 
    Penghayatan karakter yang diperankan setiap tokoh justru coba didalami oleh Tanta Ginting (sebagai Jonah) yang antagonis. Ada Derby Romeo (sebagai Rimba) yang juga berusaha mencari perhatian Aletta, dan Ricky Cuaca (Bugi) yang selalu menghadirkan tawa dan mencairkan suasana bioskop yang tak terduga. Walaupun hanya terlihat pembentukan karakter yang sedikit saja tidak terlalu kuat untuk konteks sebuah penokohan film layar lebar. Selain itu, tersisa beberapa figuran crew yang seharusnya terlibat saat adegan syuting di hutan hanya terlihat berkeliaran di tenda saja bukan saat pengambilan gambar.

      Untuk masuk ke ranah layar lebar, film ini mencoba berusaha tampil beda dengan syuting di lokasi alam terbuka hingga penggunaan special effects demi menguatkan cerita. Produksi film arahan Asep Kusdinar ini pun memilih Taman Nasional Baluran, di Bali dan hutan di Lumajang, Jawa Timur. Namun, visualisasi eksotisme alam dan pemandangan cantik yang ditawarkan gagal dieksekusi karena kualitas gambar hanya menjadi bagian dari transisi. Padahal, tata kamera sudah mencoba mengambil dengan angle yang berbeda.
       Special effects juga coba diset oleh tim produksi saat adegan kecelakaan pesawat terbang yang mengalami gangguan karena cuaca buruk. Tapi, tak didukung dengan pencahayaan yang kurang sinematis dan make up effect saat kecelakaan (bekas luka) yang masih standar seperti itu saja. Semua unsur artistik pun hanya tampak unggul di awal melalui point of view yang menjadi point of interest. Tak mampu dipertahankan sampai akhir film. Selebihnya, aku hanya bisa mengikuti quote-quote BaPer yang tercipta pada dialog, meskipun semua terkesan FTV bangeettt . . .
      Tata kamera juga coba menampilkan change focus camera technique di awal cerita. Beberapa diantaranya justru hadir merusak visual karena seharusnya penggunaan tehnik kamera itu memiliki motivasi gambar atau alasan yang kuat untuk ditampilkan bukan untuk ditonjolkan. Efeknya, visual pun tak sejernih atau sebagus film-film Screenplay sebelumnya. Mungkin saja penggunaan kamera drone dengan kualitas berbeda juga mengganggu keindahan gambar yang ditangkap lensa.

       Kabar yang didapat penulis dari berbagai netizen, film ini memang terinspirasi dari sebuah pesan bertuliskan 'I love you from 38.000 ft' yang diunggah ke media sosial oleh Khairunnisa, pramugari yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 di tahun 2014 silam. Namun, tim Screenplay menyatakan bahwa cerita film ini seutuhnya baru dan tidak berkaitan dengan kejadian nyata tersebut. Ini yang membuat aku sebagai penyuka film Indonesia based on true story kehilangan selera.
      Apalagi unsur penceritaan ILY from 38.000 FT tidak memperhatikan logika cerita. Banyak adegan yang terkesan kebetulan, muncul tiba-tiba. Plotnya pun menjadi biasa dan dialog terlontar basi untuk didengarkan. Penonton dibawa pada suatu titik perpisahan pasangan yang seharusnya sementara menjadi berkepanjangan tanpa kejelasan. Dilengkapi efek time lapse yang menyiksa aku sebagai penonton pada akhirnya.

      ILY from 38.000 ft memang tayang di bioskop saat moment yang tepat pada libur lebaran dan berhasil tembus jutaan pasang mata yang always booking full seat in the theater. Dan akhirnya, aku memang gak suka sama endingnya.. kenapa mereka harus hidup bahagia dan semua kisah cinta terlihat kebetulan semata…

      Overall, ekspetasi tertinggi aku terhadap film itu adalah sebuah cerita. Jika cerita kuat, film akan bagus. Begitu juga sebaliknya. Teknis juga penting, tapi bukan segalanya. I Love You from 38.000 Ft sudah memiliki modal untuk bercerita hanya saja terpaku pada segmentasi yang ada. Film ini juga sudah berusaha memperkuat teknis sinematografi yang berbeda, namun gagal pada eksekusi unsur kreatif yang seharusnya bisa banyak tercipta. Setidaknya, ILY from 38.000 FT, telah menjadi film hiburan pada moment lebaran di Indonesia. #ApresiasiFilmIndonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar