LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Sabtu, 29 Juli 2017

Filosofi Kopi 2: Tentang Duka, Luka, dan Wanita yang Bertemu Dengan Ego Para Pria



     Berawal dari sebuah buku laris karya Dewi Lestari, cerita Filosofi Kopi divisualisasikan ke dalam bentuk film sejak tahun 2015. Berlanjut dari hal itu, karya ini menjadi inisiasi sebuah kedai kopi yang juga dinamakan Filosofi Kopi. Tak berhenti sampai situ, Web Series Filosofi Kopi pun tayang melalui YouTube hingga akhirnya di tahun 2017 ini hadir kembali tayangan audio visual layar lebar berjudul Filosofi Kopi 2: “Ben & Jody”.


Perjalanan 2 tahun setelah Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) memutuskan untuk menjual kedai kopi mereka dan berkeliling Indonesia demi membagikan “kopi terbaik’ menemui jalan buntu. Perjalanan mereka merintis usaha seolah tak memiliki akhir dan tujuan hidup. Puncaknya, terjadi suatu malam di Bali, saat para karyawannya yang bernama Aga, Aldi, dan Nana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Filosofi Kopi pun seakan hanya mitos.

Ben dan Jody kini harus mulai mimpi baru dan pulang ke Jakarta. Ben membujuk Jody untuk kembali membuka kedai lama di daerah Melawai yang sudah tampak usang. Mimpi Ben yang idealis tidak begitu mudah ditempuh karena Jody sudah terlalu jemu untuk menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu. Jody pun sadar selalu berada di bawah bayang-bayang Ben. Konflik persahabatan mereka mulai teruji.

Dalam usaha mereka mencari suntikan dana dari investor baru, Ben dan Jody dipertemukan dengan seorang wanita dewasa bernama Tarra (Luna Maya). Ia muncul untuk memberi harapan baru agar kedai Filosofi Kopi bisa buka seperti sediakala. Tanpa berpikir panjang, Ben yang terpincut dengan Tarra sejak awal langsung menandatangani surat kesepakatan kerja sama yang salah satu pointnya mengatakan bahwa syarat kepemilikan kedai akan dikuasai 49% oleh Tarra dan Ia mampu mempersiapkan dana 2,5 milyar untuk membangun kembali Filosofi Kopi.

Awalnya, Jody yang penuh perhitungan menolak permintaan Tarra. Namun, Ben memaksa Jody untuk menyanggupi permintaan Tarra apapun itu alasannya. Sulit memang mencari investor seperti Tarra yang begitu berani.

Lets the journey begin. Kedai pun dibuka. Lama-kelamaan kedai Filosofi Kopi bangkit dengan pengembangan sayap cabang di Jogja yang juga menghadirkan barista baru dengan karakter geek bernama Brie (Nadine Alexandra). Tokoh Brie hadir atas referensi dari Jody yang telah merekrut karyawan tersebut. Namun, Ben tidak suka akan kehadiran Brie karena dianggap masih terlalu junior untuk menjadi seorang barista di kedai Filosofi Kopi yang sudah punya nama.

Pertemuan terhadap Tara dan Brie tersebut membawa Ben dan Jody bertaruh akan persahabatan mereka. Kehadiran mereka justru membuat Ben dan Jody memulai kisah-kisah baru yang saling berpengaruh akan keberlangsungan bisnis kedai kopi itu sendiri. Ada problematika yang memacu mereka untuk tetap merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini.

Dari awal hingga akhir cerita, mereka berusaha melengkapi agar tidak berdiri sendiri di atas egosentris yang dipertaruhkan. Bayang-bayang Tarra dan Brie memberi percikan konflik untuk refleksi yang dilakukan oleh Ben dan Jody. Keberanian wanita-wanita tersebut berhasil menyembuhkan luka dan duka yang telah dialami para pria.

Tarra dibentuk sebagai sosok perempuan mandiri. Brie hadir sebagai karakter perempuan cerdas. Tak sekedar berperan sebagai pemanis, tokoh ini hadir memberi warna tersendiri yang mumpuni untuk mengokohkan cerita tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Fantasi kisah cinta segi empat pun berhasil diracik namun tidak mampu mengelabui penonton karena tak terbalut dalam nuansa penuh teka-teki.
Unsur percintaan hadir sebagaimana film-film lainnya. Berawal dari benci, benih-benih cinta seolah menguatkan untuk berkata bahwa pada akhirnya pasangan itu sudah memiliki takdirnya. Kombinasi dramatik yang mengantar penonton untuk larut dalam setiap adegan.

Cerita pun mengalir ringan namun tak berisi. Masa lalu kembali menghantui narasi yang dijejali pada kedalaman karakterisasi bukan konflik yang pasti. Gaya tutur yang bertele-tele memaksa penonton untuk masuk dalam suasana film yang penuh dramatisir.
Belum lama setelah Filosofi Kopi di Jogja resmi dibuka, Ben mendapat kabar dari Lampung bahwa ayahnya telah tiada. Dibalik kisah duka tersimpan cerita luka. Ayah Tarra yang merupakan pengusaha sawit memberi karangan bunga untuk ayah Ben yang telah tiada dan karangan bunga juga dikirimkan saat pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja. Dari situ Ben mengetahui bahwa ayah Tarra merupakan salah satu direktur perusahaan sawit yang juga berperan dalam alih fungsi lahan kopi ke sawit hingga menyebabkan konflik agraria di Lampung. Konflik lahan tersebut menelan korban jiwa, salah satunya ibu dari Ben.
Ben tidak terima dengan realita bahwa Tarra merupakan putri dari pengusaha yang menggusur ladang kopi milik orang tuanya. Tidak hanya itu, Ben juga terjebak dalam emosi yang kuat antara dendam dan ketertarikan hatinya pada Tarra. Penonton bisa menebak dengan mudah kerumitan kisah ini.
Dalam situasi tersebut, Jody mengajak Tarra ke Makasar untuk urusan pengembangan usaha Filosofi Kopi. Berkali-kali Tarra mencoba menghubungi Ben tapi tak berhasil. Hingga Jody menceritakan kisah sebenarnya pada Tarra, bahwa Ben punya masalah dengan ayah Tarra. Mereka bercerita di sebuah pendopo kebun kopi di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.
Beralih dari Tanah Toraja. Di Jakarta, Ben sangat fustrasi dengan persoalan yang dialaminya. Hingga akhirnya, ia berhasil menumpahkan curahan hatinya pada Brie, sosok perempuan yang awalnya tidak disukai oleh Ben. Ia bercerita tentang lahan kopi orang tuanya, alih fungsi lahan dan penggusuran yang dilakukan perusahaan ayah Tarra.
Ben memutuskan untuk meninggalkan Filosofi Kopi. Ben dan Brie yang merajut perasaan satu sama lain, akhirnya pergi ke Lampung untuk mengurus bibit kopi warisan ayah Ben, sementara Jody dan Tarra tetap di Jakarta untuk meneruskan usaha kedai Filosofi Kopi.
* * *  


Filosofi Kopi 2 hadir sebagai tayangan audio visual yang dekat dengan keseharian. Menonton film ini bagai meneguk secangkir kopi. Entah rasa apa yang terkecap lidah saat merasakan seruputan kopi tersebut. Namun, sebagai penonton, penulis menganggap bahwa Filosofi Kopi 2 menjadi tanpa rasa alias hambar.

Sekuel kedua kisah Ben dan Jody masih sama dengan yang pertama. Hanya saja filosofi cerita tidak sekuat dari kisah yang awal. Seolah tak ada benang merah atau tujuan untuk membawa pesan film ini ke mana. Entah tentang persahabatan, percintaan, atau filosofi kopi itu sendiri yang masih menerawang.

Berdasarkan sub judul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody memang menyentak untuk fokus terhadap tema utama yang lebih menyentuh sisi pribadi. Mereka terlahir untuk menemukan persepsi kembali agar kedai Filosofi Kopi tidak pernah berhenti menjangkau pecinta kopi itu sendiri.

Lama-kelamaan alur cerita dibalut sedemikian rupa hingga tampak luntur filosofi dari setiap adegan. Sebagai penonton, penulis pun seolah melihat tayangan sinetron yang diputar di bioskop. Gaya bercerita semakin monoton karena adegan selanjutnya dapat dengan mudah ditebak oleh penonton. Tutur cerita yang berbelit-belit seakan menyajikan kopi tanpa susu atau gula kepada penikmat setia tayangan layar lebar.

Wajar saja ketika cerita tidak bisa fokus bertutur. Kisah lanjutan Filosofi Kopi 2 memang ditulis oleh pemenang kompetisi ide naskah terpilih. Terlihat sensibilitas terhadap esensi cerita pertama begitu beda. Sentuhan cerita pun tak mampu berkontribusi untuk membangun kisah ini dengan ekspetasi tinggi.

Its too much drama. Terlalu banyak unsur ‘kebetulan’ yang sengaja ditampilkan. Saat adegan ayah Ben meninggal, suasana duka dibalut dengan kondisi cuaca hujan. Entah hujan alami atau buatan, namun terkesan dipaksakan. Selain itu, tampak letupan kembang api dan petasan yang disuguhkan saat Ben dan Brie saling berbagi kisah dari hati ke hati. Tapi, tidak jelas apakah atmosfer tersebut dideskripsikan dalam nuansa tahun baru atau diciptakan sebatas dramatisir suasana. Adegan lain beberapa motor juga sengaja ditata tengah malam terparkir rapi di depan kedai Filosofi Kopi yang sudah tutup.

Kepadatan adegan juga membuat durasi dalam setiap moment berkurang. Adegan membersihkan kedai kopi yang begitu kotor, sekejap langsung selesai begitu saja. Hanya menyisakan tikus-tikus kecil sebagai animal property tambahan. Cerita pun semakin fiksi layaknya sinetron-sinetron di televisi. 

Setiap pengambilan gambar tampak tidak ada motivasi yang jelas dan fokus. Dengan dalih ingin memperlihatkan kekhasan 6 kota di Indonesia dengan ciri khas masing-masing justru tidak mampu tersampaikan secara visual. Ada insert scene yang menyorot peninjauan tempat untuk membuka cabang kedai kopi baru di Yogyakarta dan Makassar, namun itu hanya selintas saja. Kemunculan transisi lokasi-lokasi film seperti Toraja dan Lampung juga ditampilkan dalam konteks visual yang cukup mengganggu. Jika menghilangkan transisi ini rasanya tidak akan meninggalkan esensi cerita. 

Dibalik kehilangan cita rasa yang kuat, color tone tampak memanjakan penonton dan dilengkapi dengan tata suara yang menghentak suasana. Setiap adegan hubungan emosional bromance atau chemistry antara Ben dan Jody juga menjadi daya tarik dalam film ini. Mereka mengalami konflik, namun hidup damai penuh toleransi antar sahabat begitu kental. Penonton diajak mengenal lebih dalam sosok Ben dan Jody dalam keseharian dengan penggunaan bahasa sehari-hari. 
Tak perlu menyakiti satu sama lain karena Ben dan Jody akhirnya memilih jalan hidup dengan sendirinya. Pengembangan karakter untuk transformasi filosofi hidup coba dibawa hingga akhir cerita. Ben dan Jody tetap hadir memberi nyawa.
Nadine Alexandra juga sanggup memberi nyawa segar sebagai Brie. Seorang wanita sarjana pertanian lulusan Melbourne, ternyata bukan orang baru dalam dunia kopi. Awalnya diremehkan untuk menjadi barista handal karena hanya mengenal kopi sejak kuliah. Dengan semangat pembuktiannya sebagai proses belajar dari penelitian lebih dalam yang pernah dilakukan terhadap seluk beluk kopi sejak dari benih, Ia pun tampil menyentuh halus kecongkakan Ben secara mulus hingga akhir cerita. Kecerdasan sebagai aktris pendatang baru dalam menerjemahkan tokoh begitu bagus. 

Namun, dramatisasi karakter justru terjadi. Figuran-figuran mengajak selfie bersama barista (Ben) dalam adegan menjadi distorsi. Ditambah penokohan Tarra yang sudah memilih Luna Maya sebagai pemerannya malah tidak bisa dihayati dengan baik. Sensualitas Luna mulai berkurang sebagai wanita cantik dewasa yang memikat pemuda sekelilingnya sejak awal in frame. Kerutan (keriput) di wajah justru tampak dan tak ada alasan logis dari sosok Ben yang tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Tarra. Akting Luna Maya saat sedih pun tak membuat penonton iba karena hanya terlihat sebagai ‘air mata buaya’ ketika menangis di kedai Kopi Ujung, Makasar.
Ada unsur karakterisasi juga yang bertolak belakang dengan Jody. Seorang lulusan luar negeri yang berpikir penuh pertimbangan, pragmatis, dan tenang, malah tidak mampu menjaga perkataan yang disampaikan. Dialog satire yang terucap dari Jody menyiratkan kehidupan keras seperti di jalanan. Apakah pecinta kopi berpendidikan identik mengucapkan kata-kata ‘Tai’, ‘Anjing’, ‘Babi’, dan sebagainya?.. Rasanya tidak. 


Konsistensi membangun bisnis dari nol mengalami jalur berliku yang harus dihadapi. Jatuh bangun sahabat sejati yang memutuskan untuk bewira usaha dengan membuka kedai kopi tampak teruji. Afiliasi Ben dan Jody pun mempertemukan pada suatu penyuguhan instropeksi dalam hidup. Ada duka, luka, dan wanita yang menyelimuti renungan hingga menyentuh relung-relung ideologi pribadi.

Intrepretasi terhadap pengalaman hidup yang telah dilalui Ben dan Jody pun tak bisa menjadi referensi mendalam untuk introspeksi. Kekuatan dialog maupun kontemplasi kata tak terbentuk menjadi point of view yang bisa dibawa oleh penonton. Kebersamaan yang tercipta atas nama persahabatan pun cukup tanggung jika diejawantahkan sebagai film bertema persahabatan.

Oleh sebab itu, happy ending dibuat untuk memaksakan ada kebahagiaan masing-masing dari karakter yang tercipta. Klise dan masih sama seperti film-film layar lebar lainnya. Overall, aku terganggu dengan cerita yang masih membelenggu dan kaku karena tak bisa memberi impresi seperti debut filosofi kopi tahun lalu. 


Inilah dinamika filosofi kopi 2 sebagai sajian duka, luka, dan wanita yang difilosofikan sebagai rasa yang bertemu dengan nyawa atau ego dari para pria. Walaupun dikomandoi oleh Angga Dwimas Sasongko dan Ben maupun Jody diperankan oleh aktor yang sama dengan sekuel pertama. Filosofi Kopi 2 menjadi penyesalan tersendiri dalam batinku karena memang tak mampu bersaing dengan sekuel sebelumnya.

Bagiku, ada hal yang lebih penting daripada menyeduh kopi, yaitu minum kopi. Sebagai sajian audio visual, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody hanya layak untuk diseduh, tidak untuk diminum. Hingga akhir cerita terselip sedikit pesan tentang kebutuhan budidaya penanaman kopi lokal, khususnya di daerah yang sedang membangun kembali dari bencana alam, seperti daerah sekitar Gunung Merapi. Tapi, porsi tersebut hanya selintas dan disosialisasikan hanya melalui pembelian tiket bioskop itu sendiri. 


Jangan buang sobekan tiketmu karena kamu bisa mendapat diskon untuk menyeruput kopi di kedai Filosofi Kopi. Selain itu, setiap pembelian tiket bioskop berarti kamu juga turut memberi donasi lebih jauh bagi orang-orang yang masih menanam kopi. Petani itu pemulia benih. Para petani kopi di desa juga punya nyawa untuk hidup layak karena kehidupan memiliki banyak rasa.


Akankah kejayaan film filosofi kopi terdahulu bisa dipertahankan saat ini? Penonton lah yang akan menilainya.



“Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan.” ‒Filosofi Kopi