LIFE MUST GO ON

The Most Wanted

Sabtu, 29 Juli 2017

Filosofi Kopi 2: Tentang Duka, Luka, dan Wanita yang Bertemu Dengan Ego Para Pria



     Berawal dari sebuah buku laris karya Dewi Lestari, cerita Filosofi Kopi divisualisasikan ke dalam bentuk film sejak tahun 2015. Berlanjut dari hal itu, karya ini menjadi inisiasi sebuah kedai kopi yang juga dinamakan Filosofi Kopi. Tak berhenti sampai situ, Web Series Filosofi Kopi pun tayang melalui YouTube hingga akhirnya di tahun 2017 ini hadir kembali tayangan audio visual layar lebar berjudul Filosofi Kopi 2: “Ben & Jody”.


Perjalanan 2 tahun setelah Ben (Chicco Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) memutuskan untuk menjual kedai kopi mereka dan berkeliling Indonesia demi membagikan “kopi terbaik’ menemui jalan buntu. Perjalanan mereka merintis usaha seolah tak memiliki akhir dan tujuan hidup. Puncaknya, terjadi suatu malam di Bali, saat para karyawannya yang bernama Aga, Aldi, dan Nana memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. Filosofi Kopi pun seakan hanya mitos.

Ben dan Jody kini harus mulai mimpi baru dan pulang ke Jakarta. Ben membujuk Jody untuk kembali membuka kedai lama di daerah Melawai yang sudah tampak usang. Mimpi Ben yang idealis tidak begitu mudah ditempuh karena Jody sudah terlalu jemu untuk menghidupkan lagi kedai Filosofi Kopi yang pernah dibangunnya itu. Jody pun sadar selalu berada di bawah bayang-bayang Ben. Konflik persahabatan mereka mulai teruji.

Dalam usaha mereka mencari suntikan dana dari investor baru, Ben dan Jody dipertemukan dengan seorang wanita dewasa bernama Tarra (Luna Maya). Ia muncul untuk memberi harapan baru agar kedai Filosofi Kopi bisa buka seperti sediakala. Tanpa berpikir panjang, Ben yang terpincut dengan Tarra sejak awal langsung menandatangani surat kesepakatan kerja sama yang salah satu pointnya mengatakan bahwa syarat kepemilikan kedai akan dikuasai 49% oleh Tarra dan Ia mampu mempersiapkan dana 2,5 milyar untuk membangun kembali Filosofi Kopi.

Awalnya, Jody yang penuh perhitungan menolak permintaan Tarra. Namun, Ben memaksa Jody untuk menyanggupi permintaan Tarra apapun itu alasannya. Sulit memang mencari investor seperti Tarra yang begitu berani.

Lets the journey begin. Kedai pun dibuka. Lama-kelamaan kedai Filosofi Kopi bangkit dengan pengembangan sayap cabang di Jogja yang juga menghadirkan barista baru dengan karakter geek bernama Brie (Nadine Alexandra). Tokoh Brie hadir atas referensi dari Jody yang telah merekrut karyawan tersebut. Namun, Ben tidak suka akan kehadiran Brie karena dianggap masih terlalu junior untuk menjadi seorang barista di kedai Filosofi Kopi yang sudah punya nama.

Pertemuan terhadap Tara dan Brie tersebut membawa Ben dan Jody bertaruh akan persahabatan mereka. Kehadiran mereka justru membuat Ben dan Jody memulai kisah-kisah baru yang saling berpengaruh akan keberlangsungan bisnis kedai kopi itu sendiri. Ada problematika yang memacu mereka untuk tetap merenungi tentang apa yang mereka cari selama ini.

Dari awal hingga akhir cerita, mereka berusaha melengkapi agar tidak berdiri sendiri di atas egosentris yang dipertaruhkan. Bayang-bayang Tarra dan Brie memberi percikan konflik untuk refleksi yang dilakukan oleh Ben dan Jody. Keberanian wanita-wanita tersebut berhasil menyembuhkan luka dan duka yang telah dialami para pria.

Tarra dibentuk sebagai sosok perempuan mandiri. Brie hadir sebagai karakter perempuan cerdas. Tak sekedar berperan sebagai pemanis, tokoh ini hadir memberi warna tersendiri yang mumpuni untuk mengokohkan cerita tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Fantasi kisah cinta segi empat pun berhasil diracik namun tidak mampu mengelabui penonton karena tak terbalut dalam nuansa penuh teka-teki.
Unsur percintaan hadir sebagaimana film-film lainnya. Berawal dari benci, benih-benih cinta seolah menguatkan untuk berkata bahwa pada akhirnya pasangan itu sudah memiliki takdirnya. Kombinasi dramatik yang mengantar penonton untuk larut dalam setiap adegan.

Cerita pun mengalir ringan namun tak berisi. Masa lalu kembali menghantui narasi yang dijejali pada kedalaman karakterisasi bukan konflik yang pasti. Gaya tutur yang bertele-tele memaksa penonton untuk masuk dalam suasana film yang penuh dramatisir.
Belum lama setelah Filosofi Kopi di Jogja resmi dibuka, Ben mendapat kabar dari Lampung bahwa ayahnya telah tiada. Dibalik kisah duka tersimpan cerita luka. Ayah Tarra yang merupakan pengusaha sawit memberi karangan bunga untuk ayah Ben yang telah tiada dan karangan bunga juga dikirimkan saat pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja. Dari situ Ben mengetahui bahwa ayah Tarra merupakan salah satu direktur perusahaan sawit yang juga berperan dalam alih fungsi lahan kopi ke sawit hingga menyebabkan konflik agraria di Lampung. Konflik lahan tersebut menelan korban jiwa, salah satunya ibu dari Ben.
Ben tidak terima dengan realita bahwa Tarra merupakan putri dari pengusaha yang menggusur ladang kopi milik orang tuanya. Tidak hanya itu, Ben juga terjebak dalam emosi yang kuat antara dendam dan ketertarikan hatinya pada Tarra. Penonton bisa menebak dengan mudah kerumitan kisah ini.
Dalam situasi tersebut, Jody mengajak Tarra ke Makasar untuk urusan pengembangan usaha Filosofi Kopi. Berkali-kali Tarra mencoba menghubungi Ben tapi tak berhasil. Hingga Jody menceritakan kisah sebenarnya pada Tarra, bahwa Ben punya masalah dengan ayah Tarra. Mereka bercerita di sebuah pendopo kebun kopi di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.
Beralih dari Tanah Toraja. Di Jakarta, Ben sangat fustrasi dengan persoalan yang dialaminya. Hingga akhirnya, ia berhasil menumpahkan curahan hatinya pada Brie, sosok perempuan yang awalnya tidak disukai oleh Ben. Ia bercerita tentang lahan kopi orang tuanya, alih fungsi lahan dan penggusuran yang dilakukan perusahaan ayah Tarra.
Ben memutuskan untuk meninggalkan Filosofi Kopi. Ben dan Brie yang merajut perasaan satu sama lain, akhirnya pergi ke Lampung untuk mengurus bibit kopi warisan ayah Ben, sementara Jody dan Tarra tetap di Jakarta untuk meneruskan usaha kedai Filosofi Kopi.
* * *  


Filosofi Kopi 2 hadir sebagai tayangan audio visual yang dekat dengan keseharian. Menonton film ini bagai meneguk secangkir kopi. Entah rasa apa yang terkecap lidah saat merasakan seruputan kopi tersebut. Namun, sebagai penonton, penulis menganggap bahwa Filosofi Kopi 2 menjadi tanpa rasa alias hambar.

Sekuel kedua kisah Ben dan Jody masih sama dengan yang pertama. Hanya saja filosofi cerita tidak sekuat dari kisah yang awal. Seolah tak ada benang merah atau tujuan untuk membawa pesan film ini ke mana. Entah tentang persahabatan, percintaan, atau filosofi kopi itu sendiri yang masih menerawang.

Berdasarkan sub judul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody memang menyentak untuk fokus terhadap tema utama yang lebih menyentuh sisi pribadi. Mereka terlahir untuk menemukan persepsi kembali agar kedai Filosofi Kopi tidak pernah berhenti menjangkau pecinta kopi itu sendiri.

Lama-kelamaan alur cerita dibalut sedemikian rupa hingga tampak luntur filosofi dari setiap adegan. Sebagai penonton, penulis pun seolah melihat tayangan sinetron yang diputar di bioskop. Gaya bercerita semakin monoton karena adegan selanjutnya dapat dengan mudah ditebak oleh penonton. Tutur cerita yang berbelit-belit seakan menyajikan kopi tanpa susu atau gula kepada penikmat setia tayangan layar lebar.

Wajar saja ketika cerita tidak bisa fokus bertutur. Kisah lanjutan Filosofi Kopi 2 memang ditulis oleh pemenang kompetisi ide naskah terpilih. Terlihat sensibilitas terhadap esensi cerita pertama begitu beda. Sentuhan cerita pun tak mampu berkontribusi untuk membangun kisah ini dengan ekspetasi tinggi.

Its too much drama. Terlalu banyak unsur ‘kebetulan’ yang sengaja ditampilkan. Saat adegan ayah Ben meninggal, suasana duka dibalut dengan kondisi cuaca hujan. Entah hujan alami atau buatan, namun terkesan dipaksakan. Selain itu, tampak letupan kembang api dan petasan yang disuguhkan saat Ben dan Brie saling berbagi kisah dari hati ke hati. Tapi, tidak jelas apakah atmosfer tersebut dideskripsikan dalam nuansa tahun baru atau diciptakan sebatas dramatisir suasana. Adegan lain beberapa motor juga sengaja ditata tengah malam terparkir rapi di depan kedai Filosofi Kopi yang sudah tutup.

Kepadatan adegan juga membuat durasi dalam setiap moment berkurang. Adegan membersihkan kedai kopi yang begitu kotor, sekejap langsung selesai begitu saja. Hanya menyisakan tikus-tikus kecil sebagai animal property tambahan. Cerita pun semakin fiksi layaknya sinetron-sinetron di televisi. 

Setiap pengambilan gambar tampak tidak ada motivasi yang jelas dan fokus. Dengan dalih ingin memperlihatkan kekhasan 6 kota di Indonesia dengan ciri khas masing-masing justru tidak mampu tersampaikan secara visual. Ada insert scene yang menyorot peninjauan tempat untuk membuka cabang kedai kopi baru di Yogyakarta dan Makassar, namun itu hanya selintas saja. Kemunculan transisi lokasi-lokasi film seperti Toraja dan Lampung juga ditampilkan dalam konteks visual yang cukup mengganggu. Jika menghilangkan transisi ini rasanya tidak akan meninggalkan esensi cerita. 

Dibalik kehilangan cita rasa yang kuat, color tone tampak memanjakan penonton dan dilengkapi dengan tata suara yang menghentak suasana. Setiap adegan hubungan emosional bromance atau chemistry antara Ben dan Jody juga menjadi daya tarik dalam film ini. Mereka mengalami konflik, namun hidup damai penuh toleransi antar sahabat begitu kental. Penonton diajak mengenal lebih dalam sosok Ben dan Jody dalam keseharian dengan penggunaan bahasa sehari-hari. 
Tak perlu menyakiti satu sama lain karena Ben dan Jody akhirnya memilih jalan hidup dengan sendirinya. Pengembangan karakter untuk transformasi filosofi hidup coba dibawa hingga akhir cerita. Ben dan Jody tetap hadir memberi nyawa.
Nadine Alexandra juga sanggup memberi nyawa segar sebagai Brie. Seorang wanita sarjana pertanian lulusan Melbourne, ternyata bukan orang baru dalam dunia kopi. Awalnya diremehkan untuk menjadi barista handal karena hanya mengenal kopi sejak kuliah. Dengan semangat pembuktiannya sebagai proses belajar dari penelitian lebih dalam yang pernah dilakukan terhadap seluk beluk kopi sejak dari benih, Ia pun tampil menyentuh halus kecongkakan Ben secara mulus hingga akhir cerita. Kecerdasan sebagai aktris pendatang baru dalam menerjemahkan tokoh begitu bagus. 

Namun, dramatisasi karakter justru terjadi. Figuran-figuran mengajak selfie bersama barista (Ben) dalam adegan menjadi distorsi. Ditambah penokohan Tarra yang sudah memilih Luna Maya sebagai pemerannya malah tidak bisa dihayati dengan baik. Sensualitas Luna mulai berkurang sebagai wanita cantik dewasa yang memikat pemuda sekelilingnya sejak awal in frame. Kerutan (keriput) di wajah justru tampak dan tak ada alasan logis dari sosok Ben yang tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Tarra. Akting Luna Maya saat sedih pun tak membuat penonton iba karena hanya terlihat sebagai ‘air mata buaya’ ketika menangis di kedai Kopi Ujung, Makasar.
Ada unsur karakterisasi juga yang bertolak belakang dengan Jody. Seorang lulusan luar negeri yang berpikir penuh pertimbangan, pragmatis, dan tenang, malah tidak mampu menjaga perkataan yang disampaikan. Dialog satire yang terucap dari Jody menyiratkan kehidupan keras seperti di jalanan. Apakah pecinta kopi berpendidikan identik mengucapkan kata-kata ‘Tai’, ‘Anjing’, ‘Babi’, dan sebagainya?.. Rasanya tidak. 


Konsistensi membangun bisnis dari nol mengalami jalur berliku yang harus dihadapi. Jatuh bangun sahabat sejati yang memutuskan untuk bewira usaha dengan membuka kedai kopi tampak teruji. Afiliasi Ben dan Jody pun mempertemukan pada suatu penyuguhan instropeksi dalam hidup. Ada duka, luka, dan wanita yang menyelimuti renungan hingga menyentuh relung-relung ideologi pribadi.

Intrepretasi terhadap pengalaman hidup yang telah dilalui Ben dan Jody pun tak bisa menjadi referensi mendalam untuk introspeksi. Kekuatan dialog maupun kontemplasi kata tak terbentuk menjadi point of view yang bisa dibawa oleh penonton. Kebersamaan yang tercipta atas nama persahabatan pun cukup tanggung jika diejawantahkan sebagai film bertema persahabatan.

Oleh sebab itu, happy ending dibuat untuk memaksakan ada kebahagiaan masing-masing dari karakter yang tercipta. Klise dan masih sama seperti film-film layar lebar lainnya. Overall, aku terganggu dengan cerita yang masih membelenggu dan kaku karena tak bisa memberi impresi seperti debut filosofi kopi tahun lalu. 


Inilah dinamika filosofi kopi 2 sebagai sajian duka, luka, dan wanita yang difilosofikan sebagai rasa yang bertemu dengan nyawa atau ego dari para pria. Walaupun dikomandoi oleh Angga Dwimas Sasongko dan Ben maupun Jody diperankan oleh aktor yang sama dengan sekuel pertama. Filosofi Kopi 2 menjadi penyesalan tersendiri dalam batinku karena memang tak mampu bersaing dengan sekuel sebelumnya.

Bagiku, ada hal yang lebih penting daripada menyeduh kopi, yaitu minum kopi. Sebagai sajian audio visual, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody hanya layak untuk diseduh, tidak untuk diminum. Hingga akhir cerita terselip sedikit pesan tentang kebutuhan budidaya penanaman kopi lokal, khususnya di daerah yang sedang membangun kembali dari bencana alam, seperti daerah sekitar Gunung Merapi. Tapi, porsi tersebut hanya selintas dan disosialisasikan hanya melalui pembelian tiket bioskop itu sendiri. 


Jangan buang sobekan tiketmu karena kamu bisa mendapat diskon untuk menyeruput kopi di kedai Filosofi Kopi. Selain itu, setiap pembelian tiket bioskop berarti kamu juga turut memberi donasi lebih jauh bagi orang-orang yang masih menanam kopi. Petani itu pemulia benih. Para petani kopi di desa juga punya nyawa untuk hidup layak karena kehidupan memiliki banyak rasa.


Akankah kejayaan film filosofi kopi terdahulu bisa dipertahankan saat ini? Penonton lah yang akan menilainya.



“Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan.” ‒Filosofi Kopi

Kamis, 25 Mei 2017

Ngeblog itu Bisa Membuktikan Eksistensi Diri



Waktu memang berlalu begitu cepat. Tak terasa aku sudah menjadi bagian dari Warga WB. Umur WB yang sudah 6 tahun ternyata juga sama dengan umur blogku. Meskipun tahun-tahun dahulu aku selalu ragu untuk menulis di blog karena terlalu banyak budaya copy paste yang menjamur di jagat maya. Alhasil, aku pun menjadi blogger pasif dengan konten tulisan yang bisa terhitung dalam jumlah jari.
Semenjak masuk dalam komunitas WB, aku semakin mantap menekuni profesi menjadi Blogger. Bulan kelahiran Komunitas Warung Blogger pun sama dengan bulan kelahiran ku. Mungkin ini yang disebut jodoh pasti bertemu. hehehe…

Tren digitalisasi di tahun 2017 membuat blog semakin hits. Selama aku ngeblog, begitu banyak pengalaman dan moment yang aku dapatkan. Blog itu bagaikan the magic system. Perkembangan yang begitu signifikan bisa menimbulkan efek hyper realitas pada tatanan masyarakat maya. 

Salah satu komunitas blog yang konsisten memberi perkembangan yaitu Komunitas Warung Blogger (WB). Komunitas ini menjadi salah satu portal komunitas blogger yang memberi wadah informasi, ide, opini, dan saling berbagi konten digital yang telah dituangkan kedalam berbagai bentuk karya tulisan, berupa esai, puisi, cerpen, artikel, reportase dan masih banyak lagi. 

Warga WB saling berinteraksi dengan melakukan Blog Walking (BW) ke karya blogger lainnya. Setelah itu, mereka mulai membagikan postingan-postingan menarik ke khalayak luas agar bisa saling bertukar pikiran se-jagat maya. 

Lalu, bagaimana kisah perjalanan ku ngeblog? Berikut ceritanya:

Tulisan pertama dipersonal blogku ini berjudul “Optimalisasi Perwakilan DPD Mengatasi Ketertinggalan”. Tulisan dibuat untuk mengikuti suatu lomba blog namun tak berhasil menjadi pemenang. Tulisan tersebut hanya memperoleh 35 pembaca. Sebuah angka awal yang memang tak menjadi prioritasku kala itu.

Waktu berjalan dan berlalu begitu saja, menyisakan tulisan-tulisan yang kering tanpa nyawa. Waktu itu seperti terbuang karena aku lebih sering update status di media sosial dibanding blog. Mungkin saja, kesibukan bekerja di dunia perbankan juga begitu menyita waktu. Ditambah aku juga harus menyelesaikan kuliah untuk tingkat Strata 1.

Selanjutnya, di tahun 2012, aku mengenal platform blog keroyokan bernama Kompasiana. Namun karena kesibukan yang menyita, aku pun hanya bisa menjadi Kompasianer pasif yang menghasilkan 1 tulisan per tahun.

Sampai akhirnya di tahun 2015, aku justru dipercaya untuk menjadi salah satu moderator dalam ajang Kompasianival 2015 bertema Indonesia Juara. Ajang kopi darat netizen terbesar ini menjadi pengalaman yang tak kan pernah terlupa. Aku mendapat 3 sesi dalam ajang ini, ada sesi Kota Juara bersama Bupati Bantaeng, Bapak Nurdin Abdullah dan Ibu Restu Pratiwi sebagai Direktur Yayasan Danamon Peduli. Lalu, sesi Indonesia Juara Kreatif bersama Mas Wahyu Aditya dari HelloMotion Academy. Dan, sesi Indonesia Juara Budaya bersama Ibu Houda Muljati dari PT. Bank Central Asia (BCA). Aku menjadi pemandu talkshow dengan pembicara-pembicara hebat seperti mereka. Aku begitu senang karena mendapat beragam ilmu dan seolah pengalaman ini memberi warna tersendiri. 

Di Kompasianival, aku juga menemukan kembali gairah atau passion untuk menulis. Belajar dari Kompasianer lain yang telah menghasilkan berbagai macam buku dan ratusan tulisan yang begitu mengesankan. Aku melihat banyak Kompasianer menuliskan ide dan berbagi informasi melalui akun mereka sesuai dengan fokus kontennya masing-masing. Para Kompasianer juga sudah menjadi seperti ‘keluarga’ dalam tatanan masyarakat maya di Indonesia. 

Dari 2015-2016, aku mencoba menyempatkan waktu untuk menulis di akhir pekan. Hingga di tahun 2017, aku mulai mengikuti berbagai macam komunitas blogger, salah satunya Komunitas Warung Blogger. 

Sekilas aku mengamati bahwa komunitas Warung Blogger selama 6 tahun sudah mampu membantu peningkatan minat baca dan tulis di negara kita tercinta ini. Keberadaan komunitas yang tumbuh dengan sendirinya berhasil mengajak Warga WB untuk berbagi informasi dan mengulas cerita-cerita unik yang mereka alami.

Eksistensi Warga WB menjadi kebutuhan yang diinginkan setiap blogger. Semakin eksis blogger maka akan semakin terpenuhi pula kebutuhan akan eksistensi dirinya. Dengan eksistensi, blogger mampu membuat keberadaannya memiliki arti bagi dirinya maupun orang yang berada disekitarnya. 

Hingga aku memantapkan fokus di tahun 2017 ini menjadi blogger dan langsung membranding diriku sebagai #BloggerEksis karena tulisanku tersebar dibeberapa platform online dan komunitas blogger lainnya. Aku semakin melihat keberadaan blogger menjadi pusat perhatian dalam masyarakat era digital ini. 

Blog menjadi media tersendiri sebagai wujud new media yang dikonsumsi banyak orang. Blogger pun mulai meningkatkan eksistensi dimata blogger lain dengan melakukan tindakan komunikasi. Tanpa adanya proses komunikasi, blogger tersebut tidak akan mendapat pengakuan tentang keberadaannya (eksistensinya) dari orang-orang yang berada di ruang atau di luar ruang lingkupnya. 
 
            Kegiatan blogger untuk mendapat eksistensi didasari pada kemampuan blogger itu sendiri untuk mengemas informasi dan membranding diri. Informasi yang dimaksud adalah segala sesuatu yang terpancar dari blogger itu sendiri seperti penampilan dan kebiasaan dalam keseharian, gaya bahasa dalam setiap tulisan, atau pengelolaan akun media sosial yang mereka punya. Semua menjadi identitas blogger baik di dunia nyata maupun dunia maya. Pengukuhan identitas ini bisa disalurkan melalui komunitas-komunitas yang diikuti blogger tersebut, seperti Komunitas Warung Blogger yang membuat warganya semakin eksis.

          Akhirnya, aku menyadari sudah begitu banyak pengalamanku selama menjadi blogger. Tulisan ini menjadi wahana pembelajaran selama aku belajar secara otodidak di dunia blog. Apalagi ketika aku mulai bergabung bersama Warga WB, aku merasa bisa saling terkoneksi satu sama lain.

       Sebagai blogger, aku telah belajar mengelola hal-hal menarik untuk menjadi karya unik. Mulai dari menceritakan kehidupan sehari-hari atau curahan hati pribadi, melakukan perjalanan rekreasi ke tempat-tempat wisata dengan gratis, memberi referensi buku-buku terkini untuk meningkatkan minat literasi, mengunjungi event-event publik yang sedang happening, hingga menonton film terbaru sekaligus mencoba makanan-makanan yang sedang hits atau baru launching pertama kali, dan masih banyak lagi. Maka, blog menjadi tempat tersendiri untuk saling berbagi opini dan informasi demi kepentingan pribadi, politik, hingga kepentingan bisnis.

           
Memiliki jaringan pertemanan yang suka kuliner*
 

Undangan eksklusif launching smartphone terbaru*



Menjadi moderator diberbagai acara*
Mengikuti Park Hunt Race Games sekaligus free travelling*
Berbagi cerita bersama duta budaya*
Menjadi nominasi penulis kritik film terpilih Piala Maya*
Liputan eksklusif launching buku terbaru*
Melakukan Food Review bersama Food Blogger lainnya*


Selamat ulang tahun Komunitas Warung Blogger. Komunitas ini layak menjadi wadah bagi jurnalisme warga yang saling menjaga keterikatannya di dunia maya. Semoga komunitas Warung Blogger semakin berjaya di era digitalisasi. 

Terima kasih karena Komunitas Warung Blogger juga telah membuat aku berani unjuk gigi dalam dunia literasi kini. Aku akan terus mengasah intuisi demi menanamkan semangat berbagi. 

Aku ingin konsisten dalam menulis. Tidak hanya setahun sekali, tetapi aku harus bisa menulis setiap hari karena tulisan itu menjadi bagian dari seni. Seni yang bisa menghasilkan tulisan-tulisan menarik, mendidik, dan menghibur. Aku akan berbagi bersama Komunitas Warung Blogger untuk menjadi inpirasi negeri ini*

#AyoNgeblog


“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger”.